CEO Dingin Penakluk Hati

CEO Dingin Penakluk Hati
Serangan tak terduga


__ADS_3

Menyelenggarakan makan siang internal di Perusahaan banyak memberikan beberapa manfaat. Diantaranya adalah menjalin komunikasi yang akrab antar sesama karyawan yang awalnya tidak saling mengenal. Lagipula makan siang di luar terlalu beresiko bagi karyawan karena Bisa saja makanan yang mereka konsumsi gizinya tak seimbang, sehingga menyebabkan si karyawan jadi keseringan sakit.


Itu sebabnya, High Class Corp bersusah-susah untuk menyediakan ruangan khusus bagi para karyawan untuk makan siang saat jam istirahat.


Kantin nyaris penuh, beberapa kursi sudah terisi. Sedangkan Nara masih sibuk memilih menu yang di sediakan.


Kemudian ia memutuskan bergabung dengan karyawan lain setelah piringnya terisis menu lengkap.


"Boleh saya ikut bergabung?" Nara berbasa basi pada tiga orang wanita yang sedang duduk melingkar, ada kursi kosong yang tersisa disana.


"Apa kamu masih merasa pantas untuk kerja di sini?" Jawaban dari seorang berambut sebahu spontan membuat Nara terkejut.


"Tentu saja, saya tidak pernah melakukan kesalahan selama ini." Nara mencoba menahan diri, padahal rasa sakit itu mulai menggerogoti hatinya.


"Oya?? Dasar tebal muka. Maaf, kamu tidak pantas duduk bersama kami." Sahut satu orang lagi.


"Katakan apa salah saya, sehingga kalian berkata buruk seperti ini." Nara masih berdiri dengan menu makan siang di tangannya.


"Ibumu seorang pembunuh? betul kan? apa perlu aku jelaskan bahwa anak seorang pembunuh tidak pantas bergaul dengan orang-orang seperti kami." Orang ketiga yang duduk disana juga memiliki mulut pedas yang sama.


Semua yang di takuti Nara akhirnya terjadi, berita ini menjadi santapan nikmat bagi para penggosip di kantor. Nara sama sekali tidak memiliki alasan untuk menyangkal, karena semua yang di katakan mereka benar adanya.


"Tolong jangan bawa urusan yang bersifat pribadi ke tempat ini." Nara memutar tubuhnya, ia memilih untuk menghindar daripada harus beradu mulut dengan mereka.


"Jadi benar Ibumu pembunuh?? maka segera siapkan surat pengunduran diri kamu. Karena perusahaan ini tidak mau di kotori oleh pendosa."


PRANKK!!!


Nara melemparkan piring yang masih berisis makanan utuh ke atas meja ketiga penggosip itu.


"Jaga mulut kalian!! kita hanya berbeda cara membuat dosa, kalian juga bukan manusia suci yang bisa menghakimi orang lain seenaknya." Telunjuk Nara mengabsen satu persatu wajah provokator itu.


Kedua mata Nara mulai berkaca-kaca. Perih, saat mendengar kesusahan Ibunya menjadi obrolan gratis dikantor. Ibunya tidak pantas mendapat hinaan seperti ini.


Perdebatan diantara mereka tentu saja menjadi pusat perhatian. Terlebih keadaan kantin sedang ramai siang ini.

__ADS_1


"Sial!! dasar pendosa tidak tau diri. Keluar saja kamu dari kantor ini!! " Salah satu dari mereka bangkit dan semakin menunjukkan sikap menantang.


BRRAAKK!!


Nara tak lagi bisa membendung emosinya. Meja di hadapannya di angkat dan di robohkan sehingga makanan pun berserakan di lantai tak terselamatkan.


"Keluar!! pendosa!! keluar!! pendosa!!"


Kalimat itu terus di kumandangan oleh mereka bertiga, dan kemudian di ikuti oleh karyawan lain yang juga terpengaruh.


Tap. tap. tap.


Derap langkah seseorang terdengar memburu, mereka yang terlibat kegaduhan tidak menyadari kedatangannya.


Krep!!


Tangan Nara di tarik seseorang, tubuhnya tertahan saat akan melakukan aksi menyerang kepada rekan kantor yang menyebalkan itu.


"Bukan Nara yang akan keluar dari kantor ini, tapi kalian bertiga. Temui saya di ruang kerja setelah jam makan siang." Suara Kevin mendominasi.


"Siapapun yang terlibat dalam kerusuhan ini, akan mendapat potongan gaji. Saya hapal kalian semua." Ancam. Kevin, dan semua yang merasa bersalah hanya bisa menunduk.


Namun ada salah satu karyawan perempuan yang justru mendongakkan wajahnya sembari mengikis jarak.


"Kenapa hanya mereka yang di berhentikan, bukan kah Nara sumber masalah ini? Memangnya apa yang salah dengan mereka. Ibunya seorang pembunuh memang fakta kan." Yeri menatap nyalang ke arah Nara.


Harusnya Nara sudah bisa menduga bahwa sumber utama bocornya rahasia itu karena Yeri. Yeri satu-satunya teman kantor yang ia temui di kantor tahanan tempo hari.


"Yeri, apa yang kamu katakan?" Kevin menyela.


Bukan hanya teman sekantor, kini Kevin pun tertarik dengan topik panas yang di suguhkan Yeri.


"Tanyakan saja padanya langsung." Yeri melipat tangan di depan dada, berdiri dengan santai dan elegan seolah tidak ada yang ia takuti.


"Kamu mau saya berhentikan juga??" Kevin geram dengan sikap angkuh Yeri, padahal dia tidak memiliki jabatan kuat di dalam perusahaan.

__ADS_1


"Apa karena Nara sekarang menjadi gadis simpanan Mister Arion dan mereka sudah memiliki bayi, sehingga anda membela nya seperti ini??"


Gemuruh suara dari para Karyawan langsung terdengar. Mereka seketika saling berbisik dan menerka-nerka apa yang sedang terjadi. Fakta baru yang mereka dengar sangat luar biasa.


"Waah, apa itu benar? mereka tinggal bersama?"


"Kenapa Mister Arion menyembunyikan hal ini?"


"Benar seperti dugaan kita kemarin, bahwa mereka memang memiliki hubungan."


"Mungkin kah anak itu hasil kumpul kebo?"


Kevin pun pada akhirnya tidak bisa menyelesaikan kerusuhan itu saat ini. Para Karyawan sudah terlanjur termakan oleh gosip murahan yang di sebarkan oleh Yeri. Tapi bagaimana menyangkal ini semua?


Tap. Tap. Tap..


Langkah kaki berikutnya kembali terdengar. Ekspresi yang berbeda kini di perlihatkan oleh seluruh karyawan yang ada di ruangan makan tersebut. Mereka seketika senyap dan hanya menatap dengan ragu-ragu kearah suara langkah itu.


"Saya dan Nara memang tinggal bersama." Arion berdiri santai di ujung sana, kedua tangannya bersembunyi di balik saku celana. "Kami juga tengah merawat dan membesarkan bayi. Oh ya, bayi itu namanya Edsel."


Tentu saja wajah-wajah terkejut itu tidak hanya berasal dari para karyawan saja. Melainkan Nara dan Kevin pun bahkan terlihat shock mendengar penuturan Arion. Tidak ada sangkalan dari Arion, padahal selama ini dia bersikeras untuk menyembunyikan rahasia ini dari semua orang.


"Mister." Gumam Kevin lirih, nyaris bersamaan dengan suara Nara yang nyaris tercekik.


"Mulai sekarang tidak ada yang perlu kalian pikirkan tentang kehidupan kami. Semua sudah jelas. Mulai hari ini fokus lah pada tugas dan pekerjaan. Kalau kalian tidak mau saya PHK secara masal." Tutur katanya halus namun penuh dengan penekanan serta ancaman yang berhasil membuat semuanya menunduk. Begitupun Yeri, dia menundukkan wajahnya kesal. Ia sadar, dirinya tidak bisa bermain-main dengan Arion.


"Baik Mister." Para karyawan menjawab dengan serentak.


Tidak mudah untuk mendapatkan pekerjaan yang layak di jaman sekarang. Maka mereka tidak akan lagi menyia-nyiakan kesempatan yang di berikan Arion. Lebih baik diam dan tidak ikut campur agar tetap berada di garis yang aman.


Nara yang masih menguatkan hatinya, masih terdiam bak patung. Sedangkan Kevin juga tengah mencari jawaban atas alasan yang membuat Arion mengungkap semuanya tanpa ragu.


"Ikut saya!! " Arion bergerak cepat dan menyeret tangan Nara dengan sedikit kasar Meninggalkan ruang istirahat yang terasa angker beberapa menit yang lalu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2