CEO SOMBONG VS GADIS KAMPUNG

CEO SOMBONG VS GADIS KAMPUNG
Chapter 36


__ADS_3

πŸ“Jangan lupa tinggalkan jejak anda dengan like, komen dan vote ya. Happy reading dan terima kasih πŸ“


Hari sudah mulai menjelang sore dan sebentar lagi waktunya Naomi pulang dari pekerjaan yang digelutinya sejak dari pagi. Dia ingin berpamitan kepada Ayu yang tak lain adalah orang yang telah berjasa membawanya masuk untuk bekerja di restoran ini.


Naomi melihat Ayu hendak membuang 2 kantong plastik besar berisi sampah, dengan senang hati Nomi membantu Ayu membawa salah satu kantong plastik yang berisi sampah. Mereka ingin membuangnya di tempat tong besar yang telah disediakan oleh pihak restoran di tepi jalan.


Setelah Ayu dan Naomi selesai membuang sampah tersebut pada tempatnya, tiba-tiba Naomi melihat seseorang yang sedang asyik berbicara dengan ponselnya di tepi jalan. Saat yang bersamaan, Naomi melihat ada mobil besar yang sedang dikemudikan dengan tidak benar oleh supirnya.


Naomi melihat orang tersebut tidak mengetahui bahwa nyawanya dalam bahaya, hal itu juga diketahui oleh Ayu.


"Mbak Ayu, aku akan membantu orang itu," ucap Naomi sambil berlari mengejar orang yang masih sibuk dengan ponselnya.


Sedangkan Ayu hanya bisa melihat dari tempat berdiri mereka sebelumnya, waktu membuang sampah. Naomi mempercepat larinya karena melihat jarak mobil itu dengan orang yang sedang sibuk pada ponselnya semakin dekat.


"Awaaas!!"


Naomi berteriak sekuat tenaga saat dia sampai dekat laki-laki tersebut dan mendorong orang yang sibuk main ponsel itu ke arah tempat yang aman, sehingga mereka berdua akhirnya terjatuh.


Sayangnya laki-laki yang didorongnya memang selamat, tetapi naas bagi Naomi malah membentur sebuah batu sehingga kepalanya berdarah.


Laki-laki itu sangat kaget karena ada seorang gadis yang sengaja mendorongnya demi menyelamatkan nyawanya yang sedang sibuk bermain ponsel. Dia melihat gadis tersebut sudah tak bergerak dengan kepala mengeluarkan darah dibagian kirinya.


"Hei bangun! Come on wake up!" laki-laki itu terus saja menggoyangkan tubuh Naomi, sedangkan Ayu langsung menjerit dari kejauhan sambil mengejarnya.


"Naomiii!"


Ayu menjerit sekuat tenaga melihat sahabatnya yang sudah tak bergerak karena pingsan akibat kepalanya terbentur batu.


"Ini semua gara-gara Kamu!! Kalau Kamu tidak bermain ponsel, maka sahabat ku tidak akan menolongmu dan malah dia yang terluka," seru Ayu dengan tatapan marah pada laki-laki tersebut.


"Maaf tadi saya sedang ...." kata-katanya langsung dipotong oleh Ayu.


"Aku tak butuh penjelasan darimu, yang paling penting sekarang, bawa sahabatku ke rumah sakit, cepat!" pinta Ayu dengan mata mendelik.


Laki-laki tersebut ternyata meletakkan mobilnya tidak jauh dari tempat dia bicara tadi, karena ternyata dia memang sengaja turun untuk membeli sesuatu di dekat warung tempat dia bicara.


"Ayo Kamu juga ikut!" ajak pria itu sambil membopong tubuh Naomi masuk ke dalam mobilnya.


Darah yang keluar dari kepala Naomi tidak berhenti saat mereka di perjalanan menuju rumah sakit terdekat. Hal itu membuat Ayu sangat khawatir karena kepala Naomi memang diletakkan di atas pahanya sepanjang perjalanan.


"Ayo cepat sedikit!" ujar Ayu menyuruh pria itu penuh emosi. Ayu menekan luka yang ada di kepala Naomi sehingga mengurangi volume darah yang keluar.


Saat mereka telah sampai di rumah sakit, Naomi langsung ditangani oleh dokter di ruangan instalasi gawat darurat. Ayu terlihat berjalan mondar-mandir di depan ruangan itu sambil menekan depan kepalanya karena merasa khawatir pada sahabatnya.


Sedangkan pria itu sibuk menelepon seseorang, seperti sedang menjelaskan bahwa dia baru saja mengalami kecelakaan dan membuat orang lain terluka.

__ADS_1


Ayu akhirnya menelepon Pak Saga kepala pelayan Restoran Perlente, karena dia tidak mau dikira pulang tanpa berpamitan, padahal mereka berdua sedang berada di rumah sakit.


πŸ“±"Halo, Pak Saga, Naomi kecelakaan dan sekarang berada di rumah sakit dekat restoran kita," jelas Ayu via telepon dengan nada suara masih panik.


πŸ“²"Apa?!" kaget hingga Ayu menjauhkan ponsel dari telinganya karena suara Pak Saga yang sangat keras.


πŸ“±"Ya sudah Pak, saya hanya ingin memberitahukan saja."


Ayu langsung mematikan teleponnya dan memasukkan ponsel tersebut ke dalam saku celananya.


Pria tersebut mendekati Ayu, lalu dia menyampaikan permintaan maaf karena merasa bersalah.


"Maaf, gara-gara saya temanmu jadi celaka. Tolong maafkan kesalahan saya, yang tidak sengaja membuat temanmu sampai terluka. Kamu tenang saja, saya akan bertanggung atas semua biaya rumah sakit ini sampai dia sembuh," kata pria itu menjelaskan dengan sangat ramah.


"Aku tak akan memaafkan mu kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk pada temanku," jawab Ayu dengan pandangan mata penuh dengan amarah.


"Sekali lagi maaf, saya juga telah berhutang nyawa pada temanmu." Ujarnya seperti menyesal.


"Kamu kira dengan minta maaf kawanku langsung duduk dan bisa tersenyum lagi di IGD sana," sela Ayu dengan derai air mata.


Di tempat yang berbeda, Pak Saga terlihat kacau, dia sibuk mencari kartu nama Kenzo yang sempat diberikan oleh Tuan Penguasa tersebut kepadanya. Namun entah bagaimana ceritanya, Pak Saga lupa meletakkan di mana kartu nama tersebut.


Sial, kenapa harus kartu nama tersebut tidak bisa ditemukan, bisa mati aku ... mati nih bakalan dihabisi sama Tuan Kenzo, karena wanitanya mengalami kecelakaan di saat jam kerjanya belum selesai. Gerutu Pak Saga di dalam hati.


15 menit kemudian, Pak Saga akhirnya menemukan kartu nama Kenzo Heryanto yang ternyata diselipkannya di antara buku daftar pelanggan hariannya.


πŸ“±"Ha-halo, tu-Tuan Kenzo, nao-Naomi sekarang di Rumah Sakit yang ada dekat restoran kami," ucapnya terbata dalam menyampaikan berita buruk tersebut.


πŸ“²"Apa? Pak Saga jangan bermain-main dengan saya ya!" jawab kenzo di ujung telepon tidak percaya.


πŸ“±"Saya tidak main-main, Tuan, saya juga baru ditelepon oleh Ayu sahabatnya Naomi sesama bekerja di Restoran Perlente."


Telepon langsung mati, karena sepertinya Tuan Kenzo Heryanto langsung pergi menuju rumah sakit yang disampaikan oleh Pak Saga.


Kenzo langsung mematikan leptopnya dan mengambil kunci mobil lalu bergegas menuju rumah sakit yang sama tempat dia pura-pura sakit sebelum jadian dengan Naomi. Kenzo nampak sangat panik karena orang yang dia cintai mengalami kecelakaan.


Sesampai di rumah sakit yang dituju, dia melihat Ayu yang masih mondar-mandir di depan ruang IGD dengan wajah cemas.


"Bagaimana keadaan Naomi?" tanya Kenzo saat baru sampai di depan IGD.


"Dia masih diperiksa oleh dokter," jawab Naomi sambil menahan air matanya.


"Kenapa Naomi bisa kecelakaan? Bukankah seharusnya dia masih dalam restoran?" tanya Kenzo terlihat emosi.


Ayo menoleh pada laki-laki yang diselamatkan oleh Naomi, lalu pria itu mendekati Kenzo.

__ADS_1


"Maaf, semua ini gara-gara adik Anda menyelamatkan nyawa saya," ucap pria itu tertunduk merasa bersalah.


"Apa?!"


Bukk.


Kenzo langsung meninju wajah pria itu hingga ujung bibirnya mengeluarkan darah. Dia hanya parah dengan apa yang akan dilakukan Kenzo walaupun sebenarnya dia juga tidak pernah meminta untuk diselamatkan oleh Naomi.


Kenzo terlihat masih emosi dan hendak memberikan pukulan kedua kalinya, namun tiba-tiba pintu ruang IGD dibuka oleh dokter.


Ceklek.


"Mana keluarga pasien?" tanya dokter sambil memandang mereka semua yang langsung mendekati sang dokter saat dia terlihat di membuka pintu.


"Saya keluarganya," jawab kenzo singkat terlihat sangat panik.


"Bagaimana keadaan Naomi sekarang, Dokter? Dia baik-baik saja kan?" tanya Kenzo penuh katakutan.


"Secara garis besar fisik pasien tidak apa-apa," jawab sang dokter menghela nafasnya berat.


"Alhamdulillah," ucap mereka bertiga serentak.


"Tetapi kabar buruknya ... pasien mengalami amnesia karena benturan yang terjadi di bagian kepalanya," terang dokter menjelaskan.


Kenzo langsung shock, dia terlihat lemas dan itu tak luput dari pandangan Ayu.


Bahkan aku belum sempat membuatnya bahagia setelah kami berbaikan, batin Kenzo menyesali semua yang terjadi.


Tiba-tiba pandangan penuh amarah dia tujukan pada pria yang ditolong Naomi. Seketika itu juga, Ayu bicara.


"Sekarang yang terpenting Naomi, bukan memukulnya!" seru Ayu mengingatkan Kenzo.


"Dokter, apakah Naomi bisa sembuh?" tanya Ayu penuh harap.


"Semua kita pasrahkan pada Yang Maha Kuasa," jawab sang dokter sambil tersenyum.


"Lakukan apapun dokter! Asalkan dia sembuh!" ucap Kenzo serentak dengan pria yang diselamatkan Naomi.


Dokter terlihat bingung mendengar mereka berdua yang kompak mengatakan hal sama.


"Berapapun biayanya akan saya tanggung," imbuh mereka sekali lagi bersamaan. Ayu jadi tersenyum disaat suasana yang masih kacau akibat perkataan dua pria yang belum saling mengenal itu.


"Ok, besok kita akan melakukan CT scan terhadap kepalanya pasien." Ujar sang dokter sambil tersenyum.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Hai reader, baca juga karyaku yang satunya


οΏΌ


__ADS_2