
💖Jangan lupa tinggalkan jejak anda dengan like komen dan vote, happy reading dan terima kasih 💖
Rumah sakit begitu ramai banyak orang hilir mudik pergi dan pulang. Ada yang datang sekedar menjenguk entah itu teman tetangga ataupun saudaranya yang sakit.
Begitu juga dengan kesibukan yang dilakukan oleh para dokter dan juga perawat yang berada di rumah sakit XX. Mereka melakukan tugasnya sesuai dengan apa yang telah menjadi pekerjaannya masing-masing.
Naomi baru saja keluar dari kamar mandi setelah menyelesaikan hajatnya, dia sangat kaget karena melihat Sang Paman yang sedang berada di pintu masuk.
"Assalamu'alaikum, Naomi bagaimana keadaanmu sekarang, Sayang?" tanya Paman Bimo yang langsung menghampiri keponakannya dengan wajah sedikit panik.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, alhamdulillah nggak apa-apa, Paman. Kok paman bisa tahu kalau aku berada di rumah sakit? Pasti itu kerjaan macan tutul ini kaan, bikin rusuh aja jadi orang," ucap Naomi menatap tajam ke arah Kenzo yang hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Naomi.
"Seharusnya kamu bersyukur, untung Tuan Kenzo telah bersedia memberi tahu paman tentang keadaan mu, kalau tidak siapa yang akan bertanggung jawab kalau bukan pamanmu ini."
Tunggu dulu, sejak kapan Paman kenal dengan si mesum ini?" tanya Naomi dengan mimik wajah yang keheranan, melihat pamannya bisa akrab dengan Kenzo yang selalu saja mengganggu dalam hidupnya sejak dia sampai di Jakarta.
"Naomi, apa maksudmu bicara seperti itu sayang? Bukankah kemarin kamu itu baru saja dilamar oleh Tuan Kenzo. Sebenarnya ada apa ini? Apakah ingatanmu sudah kembali, Nak?" tanya Paman Bimo memegang kedua bahu keponakannya menunggu jawaban dari gadis yang masih terlihat bingung dengan apa yang dikatakan oleh pamannya.
Naomi mencoba untuk mengingat apa saja yang telah terjadi, namun tiba-tiba kepalanya terasa sangat sakit, akhirnya Kenzo langsung memanggil dokter agar segera memeriksa keadaan calon istrinya.
Dokter langsung datang dan memeriksa keadaan Naomi, setelah itu sang dokter menyuruh seorang perawat untuk penyuntikan obat penenang lewat infus yang dipakai oleh pasien. Tidak butuh waktu lama, Naomi mulai memejamkan kedua matanya dan langsung tertidur.
"Maaf, Dokter, sebenarnya apa yang terjadi dengan Naomi? Kenapa tiba-tiba kepalanya terasa sakit, padahal sebelumnya dia sudah terlihat sangat sehat, bahkan ingatan semuanya telah kembali kecuali ingatan waktu dia amnesia."
Kenzo bertanya dan juga menceritakan sedikit keadaan Naomi setelah sadar dari kecelakaan yang menimpanya.
"Anda tenang saja, ini biasa terjadi pada pasien yang baru saja kembali dari ingatan lama dan ketika seseorang mengungkit sesuatu yang dilakukannya ketika dia amnesia, maka pasien akan memaksakan diri untuk mengingatnya, sehingga kepalanya terasa sakit. Perlahan-lahan dia akan bisa menerima keadaan ini dan juga ingatan dia sewaktu amnesia juga akan kembali."
"Terima kasih banyak atas semua informasi yang Anda berikan, Dokter," ucap Paman Bimo sambil tersenyum kepada dokter yang baru saja selesai memeriksa keponakannya.
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu," ucap dokter lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruang inap Naomi.
"Tuan Kenzo sebaiknya juga pulang, biarlah saya yang akan menjaga Naomi, jadi Anda tidak usah khawatir terhadap keadaannya."
__ADS_1
Kenzo merasa tidak suka mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Paman Bimo, karena dia merasa tidak dianggap sebagai laki-laki yang akan menjadi suaminya Naomi.
"Paman tenang saja, kalau masalah biaya biar Kenzo yang menghandle semuanya. Tugas paman hanyalah mempersiapkan pernikahan kami sebaik mungkin dengan kedua orang tuaku."
Dasar laki-laki ini, keponakan saya masih berbaring di rumah sakit, tetapi pikirannya masih aja tentang persiapan pernikahan. hatinya terletak di mana coba. Gumam Paman Bimo hanya bisa menghela nafas dengan berat.
"Bagaimana mungkin semua biaya Tuan yang menanggung nya, sementara Anda ini belum syah menjadi suaminya keponakan saya," ucap Paman Bimo merasa keberatan jika biaya rumah sakit diambil alih oleh kenzo Heriyanto.
Saat mereka masih membicarakan masalah biaya perawatan Naomi, tiba-tiba salah seorang perawat yang disuruh Kenzo untuk mengambil detil biaya rumah sakit datang menyampaikan, bahwa ternyata semua biaya rumah sakit atas pasien sudah di lunasi oleh calon suaminya termasuk deposito untuk perawatan lanjutan.
"Maaf, Tuan Kenzo.
Sepertinya semua biaya rumah sakit sudah di lunasi oleh seseorang, termasuk biaya untuk perawatan lanjutan jika dibutuhkan," ucap perawat tersebut sambil memberikan rincian biaya rumah sakit kepada Kenzo.
Kenzo melihat dan membaca dengan teliti, lalu dia meremukkan kertas tersebut dan melemparkan nya ke sembarang arah. Wajahnya begitu suram karena menahan emosi yang sedang tertahan setelah membaca detail biaya rumah sakit yang dilunasi seseorang dengan ttd calon suami.
"Dasar Rio brengsek, bisa-bisanya dia menginjak harga diri gue sebagai calon suami Naomi," ucap Kenzo menggertakkan giginya karena menahan kemarahan yang hampir saja naik ke ubun-ubun, namun dia tidak mau terlihat sangat emosi di depan Paman Bimo.
"Memangnya Rio itu siapa?" tanya Paman Bimo merasa tidak mengenal nama orang yang baru saja diucapkan kenzo.
"Wa'alaikumsalam warahmatullah," jawab Paman Bimo sambil tersenyum.
Saat yang bersamaan Naomi terjaga dari tidurnya dan mengerjapkan mata melihat ke arah orang yang baru saja masuk kedalam ruang inapnya.
Rio tersenyum sambil membawa satu buket bunga mawar berwarna merah kuning dan putih dan dia berjalan melangkah mendekati tempat tidur yang ditempati oleh Naomi.
Setelah sampai di samping tempat pembaringan Naomi, Rio memberikan buket bunga tersebut kepada perempuan yang sangat disukainya.
"Hai, namaku Rio. Maaf, gara-gara Aku terburu-buru yang akan menghadiri meeting, Aku tidak sengaja menabrak mu. Tetapi hanya sedikit, Hemm ... mungkin seujung kuku, sepertinya sih begitu, hahaha."
"Terima kasih banyak udah mau datang menjenguk ku, aku juga minta maaf karena sempat buruk sangka padamu," jawab Naomi sambil menerima buket bunga yang diserahkan oleh Rio.
Kenzo terlihat sangat tidak suka dengan kehadiran Rio di dalam ruangan tersebut, ingin sekali dia mencekik laki-laki tersebut agar segera mati dan tidak hadir lagi di dalam kehidupan antara dia dan Naomi.
__ADS_1
"Seujung kuku katamu, cih enggak nyadar diri. Kamu bisa lihat kondisi Naomi sampai lecet-lecet begini, kalau cuma seujung kuku dia nggak bakalan pingsan," jawab kenzo bersungut menahan emosi.
"Tuan Kenzo yang terhormat, kenapa begitu sewot dengan kehadiran ku di sini." ucapnya mencebik dengan lengkungan bibir ke bawah.
"Sekali lagi aku minta maaf ya, Naomi. Tetapi sepertinya berkat kecelakaan itu ingatanmu udah balik ya, berarti bagus dong waktu itu aku menabrak kamu," ucap Rio tanpa merasa berdosa dengan apa yang dikatakannya.
"Jadi kemarin itu aku beneran lupa ingatan ya," tanya Naomi menoleh pada pria dingin nan sombong.
"Iya, Honey. Kalau kamu tidak percaya silahkan tanya sama pamanmu sendiri, bahkan di jarimu ada bukti kalau kita udah tunangan," jawab Kenzo yang langsung meraih tangan Naomi dan menunjukkan jari manis gadis tersebut.
Di jari manis Naomi melingkar cincin berlian nan sangat indah. Paman Bimo hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya kepada sang keponakan.
"Kurasa Naomi harus mengetahui satu hal tentang kenapa cincin itu ada di jari manisnya," ucap Rio yang sengaja memprovokasi Nomi agar timbul rasa ingin tahu dari gadis tersebut.
"Apakah Paman juga tahu sewaktu Om Tua ini melingkarkan cincin di jariku?" tanya Naomi memandang pamannya tanpa berkedip.
"Pamanmu tidak tahu, pada waktu itu kamu pingsan gara-gara menyelamatkan nyawaku. Aku sudah mengingatkan agar Tuan Kenzo tidak melakukan pertunanganan dengan cara sepihak, tetapi semua yang ada di ruangan saat itu mendukung langkah Kenzo untuk melakukannya, apa lagi kamu tidak punya siapa-siapa."
Paman Bimo yang mendengar kisah awal kecelakaan hingga membuat Naomi amnesia merasa sangat bersalah, karena semua tidak akan terjadi jika sang keponakan di bawah perlindungannya, sayang istri dan anak-anaknya begitu kejam mengusir sang keponakan dari rumah.
"Maafkan paman, Sayang. Ini semua karena kelalaian paman."
"Sudahlah, Paman, semua juga sudah berlalu kok. Yang penting sekarang aku sudah ingat semuanya, walau mungkin ada yang hilang sedikit saat aku amnesia." ujar Naomi sambil memberikan senyum terindahnya agar bisa menghalau rasa bersalah yang menghinggapi pamannya.
"Berarti kamu sudah ingat dong kalau kemarin aku dan kedua orang tuaku melamarmu di rumah paman dulu?" tanya Kenzo dengan senyum sumringah di bibirnya yang sedikit hitam.
"Kalau soal itu, aku tidak ingat sama sekali," jawab Nomi sambil memberikan senyum tipis di bibirnya yang manis.
"Buahaha, itu artinya nama Kenzo Heryanto tidak melekat erat di dalam hati Naomi berarti aku masih punya kesempatan untuk bersaing secara sehat," ucap Rio sangat optimis sambil menaik turunkan kedua alisnya kearah laki-laki yang seperti ingin sekali membunuhnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Baca juga karyaku OB KERUDUNG BIRU ya dijamin lebih seru.
__ADS_1