
💖Jangan lupa tinggalkan jejak anda dengan like komen dan vote ya, happy reading dan terima kasih 💖
"Buahaha, itu artinya nama Kenzo Heryanto tidak melekat erat di dalam hati Naomi berarti aku masih punya kesempatan untuk bersaing secara sehat," ucap Rio sangat optimis sambil menaik turunkan kedua alisnya kearah laki-laki yang seperti ingin sekali membunuhnya.
Kenzo meradang, dia sangat tidak suka dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Rio, karena bagaimanapun Naomi sudah dilamar nya untuk menjadi istri sah yang akan dinikahinya sepekan lagi. Dia sudah tidak tahan ingin sekali menghajar laki-laki yang baru saja dikenalnya semenjak diselamatkan nyawanya oleh Naomi. Namun dia berusaha untuk bersabar karena tidak ingin memperlihatkan kekerasan di depan Paman Bimo dan juga wanita yang dicintainya.
"Kamu sebenarnya manusia atau bukan sih? Naomi sampai terluka bahkan sampai hilang ingatan, itu semua gara-gara kamu. Seharusnya kamu itu tidak menyakiti perempuan yang saya cintai, apalagi ingin merebut nya, percuma kamu itu seorang pengusaha tetapi di dalam kepalamu hanya sedang berusaha ingin mengambil sesuatu yang bukan milikmu."
Paman Bimo tidak ingin adanya pertumpahan darah atau saling jotos antar pemuda yang sedang memperebutkan keponakannya, akhirnya Paman Bimo mengajak Rio untuk mencari sarapan yang akan mereka makan.
"Oh ya, Nak Rio, bisa tidak Paman minta tolong belikan sarapan untuk Naomi, karena tadi pagi dia belum sarapan di rumah sewaktu mau berangkat kuliah," pinta Paman Bimo kepada laki-laki yang bernama Rio agar pertengkaran tidak berlanjut.
"Tentu saja saya bersedia, Paman."
"Kamu mau sarapan apa, Nomi?" tanya Rio mengalihkan wajahnya ke arah Naomi yang masih berbaring di atas tempat tidur.
Naomi malah memandang Kenzo, dia ingin menanyakan kepada tunangannya tersebut, apa yang sedang ingin dimakannya.
"Mau nasi goreng tidak?" tanya Naomi tanpa senyuman, namun pandangan terasa sangat teduh ke arah laki-laki yang selalu bertengkar dengannya.
Kenzo merasakan, bahwa tatapan yang diberikan oleh Naomi adalah sebuah pandangan yang sudah lama tidak didapatkannya dari gadis tersebut. Sekarang dia menemukan kembali tatapan cinta dari gadis yang selalu membuatnya merasa tidak fokus saat berjauhan. Kenzo tersenyum lalu menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan nasi goreng yang ingin dipesan oleh Naomi.
"Kalau begitu belikan nasi goreng saja ya, Bang Rio," ujar Naomi sambil tersenyum kearah laki-laki yang telah menabraknya hingga ingatannya kembali.
Rio sebenarnya tidak suka saat Naomi bertanya kepada Kenzo tentang apa yang ingin di dimakannya, namun bagaimanapun juga, dia tidak ingin memperlihatkan jiwa aslinya di depan Paman Bimo yang notabennya adalah Wali dari Naomi Wulandari.
"Kalau begitu baiklah, saya permisi dulu untuk membeli nasi goreng spesial untukmu, Naomi." Ucap Kenzo sambil tersenyum ramah kepada perempuan yang ada di atas tempat tidur tanpa menghiraukan tatapan tajam penuh kebencian di mata Kenzo.
__ADS_1
Rio akhirnya pergi dari ruangan tempat Naomi dirawat, hal itu memang sengaja dilakukan oleh Paman Bimo agar Naomi bisa beristirahat dan juga saling membuka diri dengan Tuan Kenzo Heryanto. Paman Bimo tidak ingin, jika keponakannya dianggap perempuan yang tidak bisa menghargai calon suaminya, makanya dia sengaja menyuruh Rio untuk pergi dari ruang inap keponakannya.
"Oh ya Naomi, Paman ada keperluan sedikit, jadi kamu ditemani dulu sama Tuan) Kenzo. Ingat satu hal, Kenzo ini benar-benar telah melamarmu kemarin dan Paman harap kamu menghargainya dengan baik," ucap Paman Bimo sambil tersenyum ke arah keponakannya dan dia pun menitipkan pesan kepada laki-laki yang selalu setia menemani Naomi.
"Tuan Kenzo, saya titip Naomi sebentar karena Taman ada keperluan untuk membeli sesuatu," ucap Paman Bimo sambil menepuk pelan bahu Kenzo, seperti sedang memberikan kode bahwa 'kamu lah yang memiliki waktu bersamanya saat ini Maka jangan disia-siakan'.
"Tentu, Paman, saya pasti akan menjaga Naomi dengan baik, tetapi saya minta tolong sama Paman, jangan panggil saya dengan sebutan Tuan lagi, karena pamannya Naomi merupakan Pamanku juga," pinta Kenzo penuh rasa hormat dan juga harapan terhadap Paman Bimo.
"Kalau begitu, saya permisi dulu ya, Nak Kenzo. Assalamu'alaikum," ucap Paman Bimo sambil melangkahkan kaki membuka pintu ruangan rumah sakit tersebut dan pergi meninggalkan mereka berdua.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, hati-hati dijalan, jangan lama-lama ya, Paman."
Setelah kepergian Paman Bimo, keheningan dan kesunyian kembali tercipta di dalam ruangan tersebut. Mereka berdua sama-sama diam membisu tanpa ada yang bersedia memulai percakapan terlebih dahulu. Padahal seharusnya mereka berdua bisa saling terbuka ketika tidak ada orang lain diantara keduanya.
"Aku ...."
"Kamu terlebih dahulu," ucap Kenzo mempersilahkan Naomi agar berbicara mendahuluinya.
Naomi menggelengkan kepalanya pertanda dia tidak ingin mengatakan kalimat terlebih dahulu sebelum Kenzo yang memulai.
"Enggak lah, dimana-mana laki-laki yang duluan melakukan sesuatu, setelah itu baru perempuan yang mengikuti," jawab Nomi sambil tersenyum.
"Udahlah, bicara aja dulu! Memangnya ada peraturan yang membuat bahwa laki-laki harus berbicara terlebih dahulu, baru diikuti oleh perempuan, sepertinya aku belum pernah mendengarnya."
"Ada, barusan aku mengatakannya. Memangnya enggak dengar atau jangan-jangan telinganya udah berbulan-bulan tidak dibersihkan, hahaha," jawab Naomi sambil terkekeh dan memperlihatkan bibirnya yang merah Delima, memagari gigi yang putih berseri tersusun rapi.
"Enak saja bicara telingaku nggak bersih, telingaku wangi kali, kalau nggak percaya coba aja dicium pasti bakal ketagihan hahaha," ujar Kenzo sambil menggoda Naomi dengan cara mengedipkan sebelah mata kanan ke arah Naomi.
__ADS_1
"Widiiih, ada mata jelalatan nih, apa mau ku tampol pakai sendal?" tanya Naomi hanya sekedar bercanda.
"Masa sama sendal sih, tampol itu pakai cinta, Honey," ucap kenzo sambil memandang wajah cantik yang selalu menarik di matanya.
"Udah ah, jangan menggombal!" ucap Naomi sambil mengalihkan pandangannya ke arah langit-langit kamar, memperlihatkan ada rona merah yang terpancar indah di wajahnya.
"Wajahmu kenapa berubah jadi merah, Honey? Jangan-jangan suhu tubuh mu meningkat lebih tinggi, karena baru saja berhasil aku gombalin, hahaha."
Kenzo kembali menggoda Naomi yang sengaja mengalihkan pandangannya ke arah lain, karena dia sedang merasakan alunan indah dari detak jantung yang tiba-tiba saja berubah, bagaikan arus listrik dengan tegangan tinggi.
"Honey, aku minta maaf kalau tanpa sepengetahuan dan juga tanpa persetujuan darimu, aku telah lancang melingkarkan cincin receh di jari manismu. Tetapi kamu harus harus tahu, aku melakukan itu semua atas kesepakatan bersama. Waktu itu kamu kehilangan ingatan dan kamu sendiri baru saja diusir dari rumah pamanmu. Mama menyarankan agar kita bertunangan, awalnya aku tidak setuju karena tidak ingin membuatmu merasa tertipu, tetapi Ayu dan juga Pak Saga, mendukung keputusan yang disampaikan oleh Mama. Itulah sebabnya sekarang ada cincin berlian turun-temurun dari keluarga besar Heryanto berada di jari manis mu."
Kenzo merasa sangat lega setelah menyampaikan semua yang membuat dia merasa punya beban, gara-gara Rio mengatakan hal yang tidak seharusnya di depan Naomi.
Gadis itu akhirnya duduk dari pembaringan, dia menoleh ke arah laki-laki yang selalu terobsesi kepadanya dengan memberikan senyum indahnya, walaupun wajah Kenzo terlihat sangat jelas sedang merasa bersalah.
"Terima kasih karena kamu sudah mau jujur kepadaku. Walaupun sebenarnya, aku tahu kalau kamu tidak pernah ada niat jahat kepadaku. Oh ya, kapan aku bisa mengambil pakaianku yang masih tersisa di rumahmu, Honey?" tanya Naomi tanpa menghilangkan senyuman di bibir tipisnya kearah laki-laki yang telah memberikan warna tersendiri di dalam hidupnya.
"Honey ... kamu sebenarnya ingat padaku? Jadi sedari tadi hanya pura-pura begitu, tega bener mengerjain ku dari tadi ya," ucap kenzo langsung menggelitiki pinggang Naomi. Kenzo merasa ditipu mentah-mentah oleh kekasih hatinya hingga dia terpaksa minta maaf karena merasa bersalah telah memasangkan cincin di jari manis Naomi.
"Ampuun mesum, aku hanya bercanda. Hentikan, entar dilihat orang jadi malu!"
"Aku gak perduli, salah sendiri membuat jantung ku terasa mau lepas karena sikapmu yang pura-pura."
Sepasang mata sedang memandang nanar ke arah mereka berdua yang sedang asik bercanda ria penuh tawa dan bahagia.
********************************************
__ADS_1