
πBantu author agar bersemangat up, dengan cara like, komen dan vote ya. Happy reading dan terima kasihπ
"Apakah hidupku setragis itu sehingga tidak ada keluarga yang menyayangiku?" Naomi masih tetap menatap manik hitam laki-laki yang sedang memegang kedua pipinya sambil meneteskan air mata.
"Kamu jangan terlalu banyak pikiran dulu ya! Sekarang ayo kita sarapan dulu karena sebentar lagi mama akan datang ke sini."
"Apakah aku sudah mengenal mama mu?" bertanya untuk mencari kebenaran pada mata laki-laki yang sedang menatapnya.
Kenzo tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Bahkan cincin yang melingkar di jari mu itu adalah warisan dari keluarga kami dan diberikan langsung oleh Mama ku," jawab Kenzo sambil tersenyum menjelaskan pada gadis yang sedang kebingungan tentang jati dirinya sendiri.
Sementara itu, Rio sedang memanaskan mesin mobilnya karena dia ingin menjenguk Naomi ke Rumah Sakit bersama neneknya. Rio tinggal bersama sang nenek yang sangat menyayanginya sedangkan kedua orang tuanya sedang berada di luar negeri menjalankan bisnis mereka.
"Rio, buah tangan untuk gadis yang kau tabrak itu sudah dibawa belum?" tanya sang nenek dengan lembut kepada cucunya.
"Sudah Rio masukkan ke dalam mobil, Nek." Rio menjawab sambil tersenyum pada neneknya yang telah sepuh namun masih terlihat energik.
"Ya sudah, pesan sama bibi jangan lupa nanti untuk memeriksa konpor, jangan sampai rumah kita terbakar kayak tetangga tuh!" pesan sang nenek agar cucunya kembali masuk untuk memberitahu pembantu mereka.
"Baik, Nek. Rio masuk dulu bilangin bibi ya," sahut Rio hormat pada neneknya.
Sang nenek berjalan ke depan rumah dan mulai membuka pintu mobilnya, ketika dia masuk, tiba-tiba ponsel Naomi berbunyi. Ternyata tas selempangan Naomi, tertinggal di dalam mobil Rio karena akibat kecelakaan yang menimpanya, Ayu lupa mengambil tas milik Naomi sehingga tertinggal di mobil Rio.
"Kayak ada bunyi handphone, tapi dimana ya?" sang nenek bicara sendiri sambil celingukan di dalam mobil mencari arah suara bunyi telepon.
Akhirnya dia menemukan tas Naomi yang ada di bangku paling belakang.
"Ooh handphone nya ada dalam tas ini, tapi ini milik siapa? Kok tas perempuan," si nenek bingung padahal cucunya sudah menceritakan kecelakaan yang menimpa seorang gadis sehingga dia terlambat pulang untuk membantunya mengantarkan ke rumah sakit.
Oleh karena nenek Rio terlalu lama berpikir akhirnya bunyi telepon tersebut berhenti sendiri padahal yang menelpon itu adalah paman Bimo yang sedang cemas mencari keponakannya.
__ADS_1
Saat Rio sudah sampai dan hendaknya menstarter mobilnya, nenek menceritakan bahwa ada ponsel yang berbunyi dan tidak berhenti dari tadi, namun dia bingung dan ragu untuk mengangkatnya.
"Coba kamu lihat ponsel tersebut! Mana tahu telepon itu adalah sesuatu yang penting." nenek memerintahkan cucunya untuk melihat isi tas Naomi.
Rio tidak bisa melihatnya karena ponsel Naomi memakai kata sandi untuk membukanya. Jadi Rio kembali memasukkan handphone tersebut ke dalam tas selempangan punya Naomi.
"Memangnya itu tesnya siapa? Kalau nenek lihat tas itu kan milik perempuan. Apa Kamu sudah punya perempuan dan tidak mau mengenalkannya sama nenek?" tanya sang nenek menyelidiki lewat mata cucunya.
"Masa nenek lupa sih, Rio tadi malam kan sudah cerita kalau Rio habis ditolong orang, hingga orang itu masuk rumah sakit. Nah pasti tas itu punya perempuan yang sekarang mau kita tengok di rumah sakit itu, Nenek. aduh nenek-nenek, pikun nya kambuh lagi nih."
Rio mengambil nafas dengan berat dan menghempaskannya, dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tetap tersenyum kepada sang nenek yang telah merawatnya setiap hari dari kecil hingga dewasa.
"Nenek lupa, kalau tadi malam kamu sudah cerita ya hehehe," ujar sang nenek hanya tertawa simpul sedikit malu pada sang cucu, karena dia lupa akan cerita yang telah didengarnya.
Mereka berdua akhirnya sampai di rumah sakit. Rio menggandeng neneknya sambil membawa bunga dan juga sekeranjang buah serta tas yang kemarin tertinggal di dalam mobilnya.
"Oh ya, tas gadis itu biar nenek yang pegang, Kamu terlihat seperti seorang banci kalau membawa tas perempuan dan nenek tidak mau kalau cucu nenek sampai dikira banci oleh orang lain!" pinta sang nenek kepada Rio agar memberikan tasnya.
Rio menuruti apapun keinginan neneknya selagi itu adalah hal yang baik. Dia adalah cucu yang sangat penurut kepada sang nenek, karena nenek lah yang merawatnya dari kecil hingga dia dewasa disebabkan kedua orang tuanya yang selalu sibuk dengan profesinya masing-masing.
"Eh tante, selamat pagi," sapa Rio pada mamanya Kenzo.
"Selamat pagi juga, Rio. Ini siapa?" tanya Mama Kenzo penuh kesopanan sambil menjulurkan tangannya ke depan.
"Saya neneknya Rio, ini siapa ya?" tanya sang nenek saat mereka sedang berjabatan tangan.
"Saya mamanya Kenzo," ucapnya sambil tersenyum.
Mama Kenzo langsung membuka pintu kamar inap yang digunakan Nomi dalam menjalani perawatannya.
"Assalamu'alaikum," ucap mereka bertiga serempak saat Mama Kenzo membuka daun pintu.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Naomi serempak dengan Kenzo dari dalam kamar.
"Bagaimana kabarmu, Sayang?" tanya Mama Kenzo berjalan mendekati Naomi dan mencium dahinya.
Naomi terdiam sesaat karena dia merasa bingung ada dua perempuan yang masuk ke dalam kamar tersebut dan ditambah lagi 1 orang laki-laki tampan yang masuk bersama seorang nenek.
Gadis itu akhirnya memandangi wajah Kenzo dengan tatapan penuh tanda tanya, karena dia tidak mengetahui siapa perempuan yang baru saja datang ke dalam kamar rawat inapnya.
"ini Mama, Naomi." menjelaskan sambil tersenyum kepada gadis yang terlihat sedang bingung menatapnya.
Naomi memandang ke arah mamanya Kenzo, lalu mengambil tangan perempuan tersebut dan menciumnya dengan penuh kehangatan. Naomi seolah tidak bisa mempercayai siapapun selain Kenzo, karena laki-laki itu adalah orang pertama yang dilihatnya ketika dia baru sadar.
Naomi kembali melihat ke arah Kenzo lalu mengarahkan wajahnya pada seorang nenek yang berdiri di samping Rio. namun Kenzo hanya menaikkan kedua bahunya menandakan bahwa dia pun tidak mengenal nenek yang sedang berdiri di dekat Rio.
"Bagaimana keadaanmu sekarang, Naomi?" tanya Rio sedikit agak ragu karena dia melihat tatapan Kenzo yang sangat dingin.
Bukan Naomi yang menjawab tetapi mah Kenzo yang menjawabnya dengan tegas dan juga sedikit menyakitkan saat didengar telinga Rio.
"Kamu tidak usah bertanya tentang keadaan Naomi sekarang! Kalau Naomi tidak menyelamatkan hidupmu, mungkin kau sudah tidak berdiri dihadapan kami saat ini. Jadi enyahlah dari sini karena kehadiranmu tidak dibutuhkan di sini!" Bicara dengan tatapan yang sangat tajam penuh amarah yang tertahan.
Kata-kata Kenzo begitu menyakitkan buat Rio, namun dia berusaha menerima apapun yang keluar dari mulut Kenzo, karena dia memang merasa bersalah.
"Kenzo! Mama tidak pernah mengajarimu bicara tidak sopan seperti itu kepada orang lain!" seru mamanya sedikit tinggi mendengar sang anak bicara kasar kepada Rio.
"Maaf anak muda, nenek memang tidak tahu kejadian yang sebenarnya, namun nenek yakin kalau cucu ku Rio ini, tidak mungkin sengaja mencelakai perempuan yang ada didekatmu," ungkap sang nenek sambil tersenyum getir mendengar cucunya dibentak orang lain.
Kenzo berusaha menahan rasa sakit yang ada di dalam hatinya, dia mengalihkan pandangannya ke arah wajah Naomi sehingga pikirannya langsung terasa sejuk melihat gadis yang penuh harap kepada dirinya.
"Apa Kamu yang membuatku celaka?" tanya Naomi sambil memandang wajah Rio tanpa berkedip.
ππππππππππππππππ
__ADS_1
Baca juga karyaku OB KERUDUNG BIRU ya. Terima kasih.