CEO SOMBONG VS GADIS KAMPUNG

CEO SOMBONG VS GADIS KAMPUNG
Chapter 6


__ADS_3

💖Jangan lupa like, rate dan komen ya terima kasih. Happy reading 💖


Dasar anak kurang ajar bisa-bisanya dia melawan ku awas aja nanti akan kubuat kau tidak akan pernah betah tinggal di rumahku. Gumam tante Linda di dalam hatinya yang berapi-api ingin menyingkirkan Naomi dari rumahnya.


Naomi baru saja selesai mengganti pakaiannya karena dia tidak mau pakaian yang dibawa ke kampus dipakai juga di dalam rumah, sebab dia tidak begitu memiliki banyak pakaian yang bagus untuk dipakai ke luar rumah.


Naomi berjalan ke arah dapur karena dia ingin makan siang, sebab perutnya sudah mulai terasa keroncongan karena dari pagi hanya baru sarapan yang meluncur ke dalam Sumatera tengahnya.


"Hai Bibi, masak apa sekarang nih Bi?" tanya Naomi kepada salah seorang pelayan yang bekerja di rumah paman Bimo.


"Oh, Nona Naomi, bibi sudah menyiapkan makan siang di meja makan Non, kenapa Non malah masuk ke dapur sini?" tanya pelayan itu karena dia melihat Naomi yang sedang siap-siap mengambil piring dan hendak makan di dapur di tempat para pelayan biasa makan.


"Hehehe, mungkin karena status kita sama Bibi, jadi jika Paman tidak ada, maka aku akan makan di dapur saja, sebab jikalau aku makan di meja makan, nanti bisa-bisa ada nenek lampir yang marah-marah. So ... lebih baik kita menghindari pertengkaran, betul apa nggak tuh bibi?" tanya Naomi kepada pelayan itu sambil mengambil sebuah piring dan mengisinya dengan nasi serta lauk pauk.


"Kagak usah dimasukin dalam hati ya, Non. Nyonya Linda memang sudah seperti itu orangnya, dia selalu ngerendahin kami yang hanya pelayan ini, tetapi ya mau bagaimana lagi Non, kita butuh makan dan butuh uang untuk hidup sehari-hari. Kalau Bibi sudah biasa non mendengar hinaan dari Nyonya Linda."


Pelayan itu bercerita tanpa menghilangkan senyuman dari bibirnya dan itu, membuat naomi merasa senang karena bisa merasa punya seseorang yang sangat dekat dengannya. Apa lagi orang itu bisa dijadikan tempat mengadu di dalam keluarga itu walaupun dia hanyalah seorang pelayan.


"Yaa Bibi, kita itu jangan mau ditindas, Bi. Walaupun kita ini seorang pelayan, tetapi kita ini kan manusia, kita ini sama-sama saling membutuhkan, dia butuh tenaga kita dan kita butuh uang orang kaya itu. Jadi seharusnya mereka juga bisa menghormati kita bukan hanya kita saja yang harus hormat sama mereka."


Naomi mengajari pelayan itu seolah-olah apa yang dilakukan oleh tante Linda adalah sesuatu yang sangat salah padahal buat pelayan tersebut itu hal biasa karena dia hanyalah seorang pembantu dirumah tersebut.


"Bibi tidak berani, Non. Nanti kalau Bibi melawan atau membantah Nyonya Linda, yang ada nanti Bibi kehilangan pekerjaan, di Jakarta ini mencari pekerjaan sangat susah Non Naomi. Apa lagi yang sesuai gajinya dengan kebutuhan hidup kita."

__ADS_1


Pelayan tersebut tetap tidak berani untuk mengedepankan haknya di depan majikan. Buat dia yang terpenting adalah mendapatkan uang dari hasil jerih payahnya selama satu bulan dan dia tidak akan menghiraukan hinaan apapun dari sang majikan.


Tiba-tiba saja, Tante Linda datang menghampiri mereka yang sedang mengobrol.


Prok prok prok.


Tante Linda bertepuk tangan dengan riang sambil berjalan ke arah Naomi dan pelayan yang sedang bercerita.


"Ternyata Kamu tahu diri juga ya, tanpa saya larang dan mengusirmu makan di meja makan, kau telah berbaur duluan dengan pelayan kami. Memang meja makan di rumah ini hanya tempat orang kaya, bukan tempat orang miskin seperti kalian. Kamu lumayan pintar Naomi, jadi tante tidak perlu melarangmu lagi makan satu meja dengan suami tante, dan mulai saat ini dapur lah tempat yang pantas untuk levelmu jika mau mengisi perutmu agar tidak mati kelaparan."


Tante Linda berbicara dengan pandangan yang tajam kearah Naomi, namun yang di lihat dengan santainya tetap mengunyah makanan yang sedang ada di hadapannya bersama seorang pelayan.


Tante Linda menunggu Naomi bakal menjawab kata-kata yang pedas baru saja disampaikannya, tetapi sayangnya Naomi tetap makan tanpa menghiraukan kehadiran Tante Linda yang ada di dapur untuk menghinanya.


"Maaf Nyonya, sebaiknya Anda jangan berada di dapur, masalahnya di dapur ini tidak sebersih di ruangan yang lain. Jangan sampai pakaian Nyonya kotor karena nyonya berada di dapur bersama kami," ucap seorang pelayan yang sedang duduk bersama Naomi.


"Beraninya ya Kamu mengatur saya, Kamu lupa dengan posisimu di sini? Ingat! Kamu hanyalah seorang pem-ban-tu tidak lebih dan tidak kurang, jadi jangan pernah sekalipun mulut busuk mu itu mengatur saya, karena saya adalah nyonya di rumah ini.


Sementara, itu Kenzo sedang berada di sebuah restoran mewah untuk bertemu dengan kliennya. Mereka membicarakan tentang kerjasama yang akan lakukan untuk masa yang akan datang.


Ternyata orang yang menjadi klien dari Kenzo adalah Paman Bimo yang tak lain pamannya dari Naomi. Paman Bimo adalah seorang manajer pemasaran dari salah satu perusahaan yang lumayan besar di kota Jakarta bergerak di bidang properti.


Kenzo sengaja terjun ke bisnis properti sebagai tambahan usaha yang akan dilakukannya, demi bertambahnya pundi-pundi kekayaan yang akan dinikmati oleh keluarga besar Heriyanto nanti.

__ADS_1


"Selamat siang, Tuan Kenzo. Saya Bimo manajer perusahaan dari Cakep Properti." ucap Paman Bima sambil mengacungkan tangannya ke depan untuk berkenalan dengan Kenzo.


"Selamat siang Pak Bimo. Apa kabar? Senang berkenalan dengan Anda." jawab Kenzo sambil berjabatan tangan dengan paman Bimo.


Mereka akhirnya terlibat dengan pembicaraan bisnis yang menyangkut tentang kerjasama yang akan mereka bentuk antara perusahaan Heriyanto Group dengan Cakep Properti.


Setelah kesepakatan tercapai akhirnya mereka berhasil melakukan kerjasama tersebut. Paman Bimo tampak bahagia dan sangat sumringah karena bisa bekerjasama dengan Kenzo seorang presiden direktur perusahaan ternama Heriyanto Group.


Paman Bimo mengucapkan terima kasih kepada Kenzo karena telah mau bekerja sama dengan perusahaan yang dia wakilkan.


"Baiklah Tuan Kenzo, terima kasih banyak karena Anda telah memilih perusahaan kami sebagai tempat untuk berinvestasi, walaupun Cakep Properti bukanlah sebuah perusahaan yang besar." ucapan bingung sambil berjabat tangan dengan Kenzo.


"Semoga kerjasama kita bisa menghasilkan keuntungan yang setimpal untuk masa depan Perusahaan kita bersama." jawab Kenzo sambil berjabatan tangan dengan Paman Bimo.


"Baiklah, Pak Bimo. Saya permisi terlebih dahulu karena masih ada urusan yang harua saya selesaikan di kantor," ucap Kenzo tanpa senyum sedikitpun pada kliennya.


"Ooh silahkan, Tuan Kenzo," jawab Paman Bimo sambil menundukkan kepala tanda hormat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Baca juga karya author lainnya ya. Terima kasih.


__ADS_1


__ADS_2