
Kenzo terlalu letih jadi dia tidak mendengar panggilan yang dilakukan oleh Naomi.
"Tuan!" Panggil Naomi sambil menarik tangannya yang digenggam oleh Kenzo.
Laki-laki itu akhirnya terbangun juga karena merasa jarinya ditarik oleh seseorang namun dia merasa sedikit lemas akibat baru saja bangun dari tidurnya. Kenzo sebelumnya sudah bangun untuk melaksanakan shalat subuh, namun karena melihat Naomi masih tidur dia pun kembali tertidur di samping perempuan itu.
"Naomi, Kamu sudah bangun sayang? Apa kepalamu sakit? Aku akan segera memanggilkan dokter untukmu, Kamu tunggu sebentar ya!" ujar Kenzo terlihat bingung mau mengatakan apa, karena gadis tersebut hanya diam memandangnya seolah meminta penjelasan.
Naomi kembali menarik tangan Kenzo menunjuk kamar mandi, hal itu malah membuat Kenzo merasa takut karena dikiranya Naomi tidak bisa lagi bicara kepadanya.
"Naomi, Suaramu mana? Tunggulah dokter akan segera kupanggil!" ujarnya menenangkan gadis yang sedang memberikan isyarat kepadanya, namun Naomi tidak melepaskan tangan Kenzo sama sekali, sehingga laki-laki tersebut tidak bisa melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar itu.
"Maaf aku mau ke kamar mandi," kata Naomi menjelaskan dengan kedua alis matanya yang bertautan karena merasa sedikit malu.
"Hufff, aku kira Kamu nggak bisa bicara lagi, ayo aku bantu kalau kamu memang mau ke kamar mandi." ujarnya tersenyum simpul.
Kenzo melepaskan genggaman tangan lalu dia berjalan ke sebelah kiri Naomi dan membantunya mengangkat botol infus, agar Naomi lebih mudah untuk berjalan.
Naomi tidak ingin bertanya apa-apa dahulu, karena kantong kemihnya sudah terasa sangat penuh. Dia sudah sangat tidak tahan karena dia sendiri tidak mengetahui sudah berapa lama dia tertidur di rumah sakit itu.
Saat sampai di pintu, Naomi sedikit bingung karena dia tidak mungkin membiarkan laki-laki yang tidak dikenalnya untuk masuk bersamanya ke dalam kamar mandi.
Naomi meminta botol infus yang dipegang oleh Kenzo agar dibawanya masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Botolnya biar ku pegang sendiri," pinta Naomi sambil menjulurkan tangan kanannya.
Kenzo memberikan botol infus tersebut ke tangan kanan gadis yang sangat dicintainya itu, dia sedikit khawatir ketika Naomi hendak masuk ke kamar mandi sendirian, namun dia juga sadar bahwa dia tidak mungkin ikut masuk ke dalamnya.
"Ingat ya Naomi, botol ini harus lebih tinggi letaknya dari tanganmu, karena jika botolnya terlalu di bawah maka darah yang ada di tanganmu akan naik ke dalam botol tersebut!" Kenzo mengingatkan Nomi agar tidak salah dalam meletakkan botol infusnya.
Naomi hanya menganggukkan kepalanya lalu dia pun masuk ke dalam kamar mandi, dia juga membersihkan mukanya karena terasa sangat lengket dan juga tidak enak. Naomi hanya bisa membersihkan seadanya karena dia tidak punya peralatan apapun di rumah sakit itu.
Setelah selesai dia pun keluar dari kamar mandi dan melihat laki-laki tersebut telah meletakkan beberapa makanan di atas tempat tidur untuk sarapan pagi mereka. Naomi juga merasa bingung dari mana laki-laki itu mendapatkan makanan yang sudah tersedia hangat di kamarnya.
Melihat Naomi keluar dari kamar mandi, Kenzo langsung membantunya dan mengambil botol infus, lalu meletakkannya kembali pada tiangnya.
Naomi hanya bisa menurut karena dia sedang bingung dengan dirinya sendiri dan dia juga tidak mengerti kenapa Kenzo memanggilnya Naomi.
"Menurutmu, jika aku tidak mengenalmu? Apakah mungkin aku akan menjagamu semalaman di sini?" Kenzo balik bertanya agar perempuan di depannya bisa berpikir sendiri tentang opini yang ada dipikirannya.
Naomi terlihat bingung, dia memandang wajah Kenzo tanpa berkedip seolah sedang berusaha untuk mengingat siapa laki-laki yang ada di hadapannya saat ini. Begitu lama Naomi memandang ke arah manik hitam Kenzo, karena dia sedang mencari kebenaran didalam mata indah laki-laki tersebut.
Lama bertatapan membuat hati Kenzo merasa pilu, karena dia yakin perempuan yang dia cintai itu tidak mengenalnya sama sekali. Mata Naomi mulai berkaca saat mereka masih sedang bertatapan, tatapan itu bukanlah tatapan cinta yang sedang rindu kepadanya, melainkan tatapan yang penuh dengan tanda tanya tentang banyak hal mengenai jati dirinya.
Kenzo mengambil kedua tangan Naomi dan dia ikut duduk ke atas tempat tidur disamping makanan yang telah disiapkannya. Dia menggenggam erat tangan gadis itu, berharap agar perempuan tersebut merasa nyaman di dekatnya.
Naomi tidak menolak sama sekali karena dia yakin orang yang ada bersamanya adalah seseorang yang sangat mengenalnya dan juga sangat menyayanginya. Naomi menyadari satu hal, jika laki-laki itulah yang telah menjaganya selama dia tidak sadar.
__ADS_1
"Tuan, siapa aku dan aku siapanya Tuan?" kembali memandang wajah Kenzo untuk mendapatkan sebuah kebenaran. Kenzo tersenyum lalu meraih kepala Naomi ke dalam dekapannya memberikan Kedamaian agar gadis itu bisa merasakan sendiri apa yang dia rasakan.
Naomi masih mengikuti apa saja yang dilakukan oleh laki-laki yang ada di hadapannya.
"Aku sangat mencintaimu dan aku bukanlah tuanmu. Aku adalah calon suamimu," jawab Kenzo sambil meraih tangan kanan Naomi yang telah diselipkan cincin berlian sewaktu dia masih tidak sadarkan diri.
Kenzo memperlihatkan jari manis Naomi yang melingkar sebuah cincin berlian nan indah berkilau. Naomi memandangnya dengan sangat lama dan dia sama sekali tidak bisa mengingat apapun, karena sebenarnya cincin itu melekat dalam keadaan dia juga tidak menyadarinya.
"Kalau Kamu adalah calon suami ku, lalu dimana keluargaku?" tanya Naomi meminta kepastian pada laki-laki yang sedang mendekapnya. Naomi merasakan jika dekapan laki-laki tersebut membuatnya sangat nyaman, itu tidak mungkin bisa dirasakannya andai saja Kenzo adalah seseorang yang tidak mengenalnya.
Kenzo terlihat bingung untuk menyampaikan siapa diri Naomi sebenarnya, karena dia mengetahui bahwa Naomi memang hidup sebatang kara dan masih memiliki seorang paman yang bernama Bimo. Sayangnya sepengetahuan Kenzo, Paman Bimo adalah laki-laki yang telah mengusir keponakannya dari rumah mewahnya.
"Kamu tidak usah memikirkan apapun sekarang! Aku sudah sangat bahagia karena kamu kembali sadar dari tidur panjangmu sejak kecelakaan itu."
Kenzo memegang kedua pipi Naomi lalu memandangnya dengan intens, mereka saling bertatapan namun di mata Naomi terlihat ada kesedihan yang sangat mendalam dan Kenzo tidak mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh gadis yang sedang ditatapnya.
Kenzo ingin sekali mengatakan kepada gadis itu, bahwa dia punya seorang paman yang sangat jahat, karena telah mengusirnya. Itu membuat Kenzo merasa sangat terluka dan sakit hati karena melihat kekasihnya dibuang begitu saja di kota yang tidak dikenalnya.
"Hanya aku keluarga yang kamu punya, aku yang benar-benar menyayangimu, Kamu adalah bidadariku dan aku tidak akan membiarkanmu merasa disakiti lagi oleh siapapun," ujar Kenzo sambil mendaratkan hidungnya didahi gadis tersebut.
"Apakah hidupku setragis itu sehingga tidak ada keluarga yang menyayangiku? "Naomi masih tetap menatap manik hitam laki-laki yang sedang memegang kedua pipinya sambil meneteskan air mata.
🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓
__ADS_1
Jangan lupa berikan dukunganmu dengan, like, komen dan vote, agar author semangat dalam menulis. Terima kasih.