
Jam menunjukkan pukul tujuh pagi, tapi Dominic sudah berjalan ke arah ruangan Allisya. Dia ingin cepat-cepat melihat keadaan Allisya. Saat sampai di ruangan Allisya, Dominic melihat Allisya yang sudah sadar.
"Allisya, kamu sudah sadar?" tanya Dominic berjalan ke arah Allisya. Allisya mengerutkan keningnya bingung.
"Siapa kau?" tanya Allisya terbata.
"Apa kamu tidak ingat aku? Aku yang pernah menabrakmu di taman tiga tahun yang lalu."
Allisya mulai mengingat kejadian tiga tahun yang lalu. Dia menyeringai.
"Kenapa anda menyelamatkan saya, tuan?" ujar Allisya formal, karena Allisya tahu bahwa yang ada dihadapannya ini adalah seorang CEO perusahaan Leo Corp.
"Allisya, aku mengkhawatirkan kamu."
"Kenapa?"
"Karena kamu telah mengubah hidupku semenjak aku bertemu denganmu."
"Saya tidak pernah mengubah hidup anda, tuan. Saya hanya pernah bertemu dengan anda sekali saja."
"Tapi, kamu lah yang membuat aku merasakan jatuh cinta lagi."
"Anda harusnya tidak berkata seperti itu, tuan. Saya hanya orang biasa saja."
"Apakah kalian semua bisa pergi?" ujar Dominic kepada semua orang yang ada di ruangan Allisya. Mereka pun segera pergi.
"Kenapa anda menyuruh mereka pergi?" tanya Allisya yang tidak dijawab oleh Dominic.
Allisya sangat bingung sekali. Dia tahu apa yang ingin Dominic katakan padanya saat ini. Dominic mencintainya, Allisya tahu itu. Karena tiga tahun ini banyak sekali orang yang mencari tahu tentangnya dan itu semua atas perintah dari CEO mereka, yaitu Dominic Michael Leonardus.
"Allisya." panggil Dominic.
"Saya harap anda tidak mengatakannya, tuan atau anda yang akan sakit hati mendengar jawaban saya."
"Apa kamu tahu apa yang ingin aku katakan?"
"Tentu saja."
"Wiil you marry me, Allisya."
"Tidak."
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Dominic heran.
"Anda tidak mungkin tidak tahu alasannya kan? Anda mencari tahu tentang saya tiga tahun ini. Saya tidak berhak untuk anda, karena saya bukan wanita yang baik untuk anda."
"Kenapa kamu berbicara seperti itu?" tanya Dominic heran.
"Saya tahu anda mencintai saya, tapi maafkan saya, tuan. Bagi saya menjalani hubungan percintaan akan membuat saya setres sendiri. Saya masih ingin sendiri dan menikmati masa muda saya."
Dominic tahu kalau dia akan di tolak, tapi dia tidak akan menyerah begitu saja. Allisya yang sudah membuat dia jatuh cinta, Dominic tidak akan melepaskan Allisya begitu saja.
"Jika, kamu tidak mau menikah denganku, bagaimana kalau kita bertunangan?"
"Jawaban saya tetap sama, tuan. Saya tidak mau menerima yang bekas."
"Apa maksudmu?"
"Saya tahu anda sering sekali tidur dengan wanita, oleh sebab itu kenapa saya tidak mau dengan anda."
"Apa? Apa kamu mempercayai rumor itu?" tanya Dominic tak percaya.
Bagaimana bisa seorang detektif tersembunyi percaya dengan rumor seperti itu? Aku yakin sekali jika itu hanya alasannya saja. ujar Dominic dalam hati.
"Rumor tetap rumor, tuan."
"Saya tidak pernah meminta anda untuk mencari saya, tuan. Tapi, anda lah yang telah mencari saya dengan cara anda sendiri. Kakak anda, Nevana Leonardus saja saya tolak apalagi anda, tuan."
"Allisya, berhenti bicara formal! Aku tahu kamu hanya tidak suka berhubungan dengan seorang lelaki. Tapi, kenapa teman-teman detektif mu laki-laki semua?"
"Mereka sudah berteman dengan saya sangat lama, wajar jika saya mau berteman dengan mereka. Sementara, anda mengenal saya tiga tahun yang lalu, bahkan anda juga sempat membenci saya karena saya telah menabrak anda. Pertemuan kita hanya satu kali, setelah itu kita tidak bertemu sama sekali. Saya tahu anda mencintai saya, tapi cinta tidak bisa dipaksa. Jangan paksa saya untuk mencintai anda. Saya ingin mencari cinta saya dengan sendirinya. Anda adalah CEO perusahaan Leo Corp, semua wanita pasti tidak akan berpikir panjang jika anda mengajak mereka menikah. Anda bisa memilih pendamping hidup anda sendiri, tapi jika anda tetap memilih saya maka saya dengan senang hati akan menolak. Saya tidak mau menjadi istri yang tidak mencintai suaminya. Saya akan mencari cinta saya sendiri, begitu pula anda. Carilah cinta anda sendiri, saya yakin masih ada banyak wanita yang lebih baik dari saya di luar sana." ujar Allisya panjang lebar.
Dominic hanya mendengarkan ucapan Allisya tanpa membalasnya. Dominic beranjak dari duduknya dan ingin keluar, tapi dia berhenti saat Allisya menyebut namanya.
"Dominic." Dominic diam tidak menjawab.
"Biarkan aku pergi dari sini." lanjut Allisya. Dominic melanjutkan perjalanannya tanpa memperdulikan Allisya.
Seharusnya lo waktu itu hanya mengagumi saja, tidak perlu memberikan rasa cinta itu juga. Jika seperti ini, lo sendiri yang akan sakit hati. Gue gak pernah percaya rumor itu. Lo hanya pergi ke club untuk minum-minum saja, tidak lebih. Tapi, itulah alasan yang terbaik untuk saat ini. ujar Allisya dalam hati.
Dominic begitu sangat kecewa sekali kepada Allisya. Bagaimanapun Dominic telah membuang waktunya selama tiga tahun untuk mencari Allisya. Itu salahmu sendiri, ngapain mencari yang tidak pasti.
Sementara Allisya sedang bersiap-siap untuk pergi ke markasnya. Dia meminjam telpon rumah sakit untuk menghungi teman-temannya.
__ADS_1
Setengah jam telah berlalu, Allisya masih menunggu teman-temannya di halte bus. Dia masih merasakan sakit tapi dia menahannya.
"Ck. Kemana sih mereka ini? Gak tahu apa kalau temannya sakit seperti ini." gerutu Allisya.
Akhirnya mereka datang menjemput Allisya. Mereka keluar dari mobil mereka.
"Kalian kemana saja sih? Gue nungguin kalian setengah jam disini!"
"Maaf Allisya, tadi sedikit ada masalah." ujar Ken.
"Terserah."
Mereka mengantarkan Allisya pulang ke markas. Saat sampai di markas, Gevan langsung memanggil Dokter andalan mereka.
"Bagaiamana keadaannya, Dok?" tanya Ken saat Dokter tadi sudah memeriksa keadaan Allisya.
"Dia hanya perlu istirahat total saja. Sebaiknya dia tidak melakukan apa-apa terlebih dahulu. Kondisinya masih lemah, bisa saja dia pingsan tiba-tiba." Mereka berempat mengangguk.
"Ini. Ini adalah resep untuk obat Nona Allisya, kalian harus menebusnya di apotik." setelah memberikan resep obat tadi, Dokter tadi pamit untuk pulang.
"Apa lo baik-baik saja, Allisya?" tanya Gevan.
"Menurut lo? Gue baru saja mengalami kecelakaan yang hampir merengut nyawa gue dan lo tanya apa gue baik-baik saja!" ujar Allisya emosi.
"Maaf."
"Istirahatlah, Allisya." ujar Ken.
"Hmm. Jangan ada orang yang boleh menemuiku, gue ingin istirahat saat ini!"
"Iya."
Mereka meninggalkan kamar Allisya dan duduk di sofa ruang tamu.
"Allisya sedikit berbeda." ujar Alex.
"Itu karena Dominic." jawab Ken.
"Memangnya kenapa dengan Dominic?"
"Sudahlah, suatu hari kalian pasti akan tahu." ujar Ken meninggalkan mereka.
__ADS_1
Mereka hanya bisa angkat bahu saja, tidak tahu apa yang sedang terjadi. Mereka tidak akan pernah ikut campur urusan Allisya. Mencampuri urusan Allisya sama saja membawa mereka pada ajalnya.
Bersambung......