CEO Tampan Vs Pramugari Cantik

CEO Tampan Vs Pramugari Cantik
Over protektif


__ADS_3

"Ini? Ini gara-gara aku lancang, kak." jawab Kaila yang masih tersenyum secerah matahari.


"Lancang? Lancang karena apa?" tanya Allisya.


Kaila tidak menjawab, dia tidak tahu harus menjawab saat ini. Inginnya Kaila jujur tapi takut kalau dia jujur, om-omnya itu akan mendapatkan pelajaran dari Allisya. Kaila mencoba untuk menemukan alasan yang pas untuk menjawab pertanyaan dari Allisya itu, tapi sayangnya dia tidak menemukan apa-apa.


"Jawab, Kai!" Allisya menekankan kata-katanya lagi karena Kaila tidak kunjung menjawab.


"I-i-itu... a-a-aku... " Kaila gagu.


"Iya, aku apa?" tanya Allisya tidak sabaran.


Allisya menegakkan tubuhnya lagi, melihat Kaila dengan wajah datarnya lagi. Allisya langsung berjalan keluar melewati Dominic yang baru saja masuk ke kamar Gevan. Ya, dia sempat nyasar tadi saat mencari kamar Gevan, jadi sedikit agak lama.


"Mau kemana, Al?" tanya Dominic yang tidak di jawab dengan Allisya. Dia langusng pergi melenggang pergi, Dominic menatap Allisya kebingungan.


"Kenapa lagi sih tuh anak? Aneh banget. Meskipun aneh, gue tetep suka." gumam Dominic yang sedang seperti orang yang di mabuk cinta. Bukan seperti, tapi memang orang yang sedang di mabuk cinta.


Dominic beralih melihat Kaila, Kaila sangat senang sekali dengan kehadiran Dominic. Dia berlari dan langsung meloncat untuk memeluk Dominic. Dominic dengan sigap langsung menangkap tubuh Kaila agar tidak jatuh. Kaila melingkarkan kakinya di pinggang Dominic, mencium seluruh wajah Dominic dan Dominic hanya diam saja.


"Kakak kenapa sih pergi dari rumah? Aku kan jadi sendirian." tanya Kaila sambil memayunkan bibirnya.


"Sekarang lo udah mulai nakal ya? Siapa yang ngajari hah?" bukannya menjawab pertanyaan Kaila, Dominic malah bertanya balik.

__ADS_1


"Bukan aku yang nakal, tapi kakak yang nakal. Kakak pergi dari rumah gitu aja, aku kan jadi kesel!" rajuk Kaila sambil bersedekap. Untung saja Dominic memegang pinggangnya, jadi dia tidak jatuh.


"Ada Nevan di rumah. Lo ngapain sih ngintil gue terus?!" jawab dan tanya Dominic dengan nada tak suka.


"Kak Nevan itu gak enak, dia jahat banget sama aku. Yang ada di otaknya itu cuma kak Zeline aja dan gak ada aku di otaknya. Lagian kak Zeline kemana sih?!" ujar Kaila yang masih saja dalam mode ngambeknya.


Kaila memang tidak tahu kemana dan sebab apa perginya Zeline, yang dia tahu kalau Zeline sedang ada di luar negeri dan menyelesaikan studinya disana. Zeline dulu sering sekali bermain dengan Kaila, bukan untuk mencari perhatian kepada keluarga Leonardus tapi karena dia tidak memiliki saudara yang bisa di ajak bermain. Posisinya sebagai anak bungsu dan juga satu-satunya wanita di antara saudaranya membuat dia di jaga ketat oleh kakak-kakaknya. Bahkan untuk bergaul saja, Zeline harus memilih teman yang baik. Karena dia sendiri juga jarang sekali bermain dengan teman-temannya, alhasil dia bermain dengan Kaila gadis polos bin lugu yang tidak tahu apa-apa. Kakaknya sendiri juga tidak melarang kalau Zeline bermain dengan Kaila, karena kakak Zeline tahu kalau Kaila adalah gadis yang baik.


Semenjak kepergian Zeline, Kaila menjadi sendirian dan tidak punya teman untuk bermain saat weekend. Bukannya Kaila tidak punya teman, dia punya teman saat ada di sekolah tapi saat weekend dia tidak di izinkan untuk bermain dengan teman sekolahnya itu. Karena apa? Itu karena kedua kakaknya yang over protektif terhadapnya, sama seperti kakak Zeline. Bedanya Zeline dilarang dengan lembut tapi kalau Kaila? Siapapun yang dekat dengannya atau pacar dari temannya saat bermain sudah pasti akan di habisi oleh kedua kakaknya itu. Bedanya hanya itu, tidak ada yang lain. Kalau temannya bermain di rumah keluarga Leonardus itu tidak apa-apa, tapi tentu saja akan menjalani beberapa pemeriksaan ketat saat ada di gerbang utama.


Dominic diam, tidak menjawab ucapan Kaila lagi, dia tidak mau membahas tentang Zeline di hadapan Kaila langsung. Karena jika Kaila tahu kebenarannya pasti dia akan sangat sedih sekali dan akan kecewa berat dengan Nevan. Karena Nevan lah yang membuat Zeline pergi dari hadapan keluarganya.


Sementara Gevan, Alex dan Mikel sudah berdiri berjajar di ruang tamu, keringat dingin sudah muncul di dahi mereka, apalagi saat mendengar suara heels milik Allisya. Mereka bertiga melihat Allisya yang berjalan di tangga dan sudah pasti akan menghampiri mereka.


Bugh


Bugh


Bugh


Mereka bertiga langsung mendapat bogeman dari tangan Allisya langsung. Darah sudah bercucuran di sudut bibir dan hidung mereka bertiga, hanya Gevan yang tidak terlalu parah. Allisya menghampiri Gevan yang tersungkur gara-gara bogemannya. Dia menjongkokkan badannya agar sama dengan wajah Gevan.


"Apa yang kalian lakuin sama bocah itu?!" Allisya sudah menekankan kata-katanya. "Jawab!!!" lanjut Allisya dengan bentakan.

__ADS_1


"Ken, Ken yang buat wajah Kaila jadi kayak gitu, bukan kita bertiga." jawab Gevan dengan sangat jujur sekali.


Lebih baik jujur saat ini, jika mereka berbohong yang ada luka mereka akan bertambah parah dan berakhir dengan panggilan dokter.


"Ken? Apa yang dia lakuin sama bocah itu?" tanya Allisya lagi.


"Kaila ngomong soal Amelia yang udah nikah dan berumah tangga, dan Ken gak terima dengan kenyataannya itu. Dia beranggapan kalau itu akal-akalan Kaila karena Kaila suka sama dia dan Ken langsung nampar wajah Kaila dengan sangat keras. Kaila bahkan sampai tersungkur jatuh ke lantai." jelas Gevan.


Tanpa pikir panjang lagi, Allisya langsung naik lagi ke atas untuk menghampiri Ken. Gevan langsung membantu Alex dan Mikel untuk berdiri. Sepertinya mereka berdua tidak mampu untuk berdiri sendiri karena kaki mereka bergetar ketakutan saat Allisya memukul mereka tadi.


"Sial! Obatnya gak berguna sama sekali!" ujar Mikel sedikit emosi.


"Bukan salah obatnya, tubuh lo aja yang masih kurang kuat." jawab Gevan. "Buktinya gue minum cuma 2 pil doang, gue bisa nerima serangan Allisya dan gak terlalu terluka parah juga kayak kalian." lanjut Gevan.


Mereka bertiga langsung tepar di sofa, tidak kuat lagi untuk berbuat apa-apa selain tidur saat ini.


Sementara Allisya, dia sudah sampai di depan kamar Ken.


Braaakkh


Tendangan dari Allisya langsung membuka pintunya. Sudah ada Ken di hadapan Allisya. Tanpa pikir panjang lagi Allisya menendang perut Ken dan membuat Ken tersungkur ke belakang sampai menabrak dinding kamarnya, padahal kamar Ken sangat luas. Sudah tidak di ragukan lagi pukulan dan tendangan Allisya, yang sudah pernah merasakannya pasti akan ketakutan dan tidak mau merasakannya lagi. Ken memang sudah siap di belakang pintu kamarnya saat mendengar mobil sports milik Allisya. Dia juga sudah tahu apa yang akan terjadi padanya saat Allisya datang ke kamarnya. Ken sudah mempersiapkan mentalnya sejak kemarin malam, jadi dia sudah tidak terkejut lagi dengan apa yang Allisya lakukan saat ini.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2