
"Sekarang ini gue udah gak mau bantu lo lagi. Gue mau kasih sedikit nasehat sama lo. Berdamailah sama Nevan, Nevan itu lelaki baik hanya saja dia di rasuki oleh pikiran-pikiran buruk. Gue yakin hati lo itu masih untuk Nevan kan, lo gak bisa membohongi perasaan lo sendiri. Nevan emang udah menggoreskan luka di hati lo, tapi Nevan sendiri yang bisa mengobati luka lo itu. Berdamailah sama dia dan berdamai sama masa lalu lo. Suatu hari jika lo ketemu sama dia jangan pernah menghindar." lanjut Allisya sambil beranjak dari duduknya. Dia mengambil tas dan memakai kacamata hitamnya. Dia mulai berjalan keluar ruangan private itu, meninggalkan wanita itu sendirian.
"Gue gak mau ketemu sama Nevan. Gue benci sama dia. Kalau gue berdamai sama Nevan apa gue akan baik-baik aja atau malah sebaliknya. Allisya, lo benar-benar gila." gumam wanita itu.
"Gue gak akan pernah menampakkam diri gue ke Nevan. Dia yang udah mengambil keperawanan gue tanpa alasan. Gua gak akan pernah sudi sama dia." gumamnya lagi.
Wanita itu keluar dari ruangan private ini, tidak lupa dia memakai masker, topi dan hoodie takut identitasnya di ketahui oleh seseorang suruhan Nevan.
***
Malam pun beranjak, Nevan juga sudah mengendarai mobilnya untuk menemui Allisya. Dia tidak sendiri, awalnya hanya sendiri tapi adiknya ingin ikut. Tentu saja Nevan mengiyakannya, karena jika Kaila ikut kemungkinan besar keselamatannya akan terjamin. Dasar kakak laknat.
"Kak, jalan itu belok ke arah kanan ." ujar Kaila saat sudah melihat perempatan.
"Lo yakin? Itu kan arah hutan terlarang." ujar Nevan memastikan.
"Iya, bener kok. Aku gak salah. Memang itu jalannya."
Nevan mengangguk tanda mengerti. Dia terus menuruti ucapan Kaila. Saat sampai di hutan, tidak ada lampu di pinggir jalan hanya lampu mobil Nevan yang menjadi penerang.
"Kai, lo yakin ini jalannya? Kok sepi gini?" ujar Nevan takut.
"Ini emang jalannya, kak. Aku juga lewat sini kok waktu pertama kali ketemu sama kak Allisya. Aku malah jalan sendirian dan bawa senter, karena taksi yang aku tumpangi gak mau lewat sana karena ada hewan buas. Tapi sewaktu aku lewat juga gak ada apa-apa kok." jelas Kaila.
Waktu Kaila datang kesini memang dia naik taksi, tapi saat di perempatan jalan dia di berhentikan disana dan taksi itu bilang kalau disana ada hewan berbahaya yang bisa membunuhnya. Sementara Kaila tetap melanjutkan jalannya dengan membawa senter yang di berikan oleh supir taksi tadi.
"Tapi ini gelap banget, Kai. Lo gak takut apa?"
"Nggak kok, kak. Biasa aja malahan. Kakak aja yang penakut." ejek Kaila.
"Bukannya gitu, kalau tiba-tiba ada musuh gimana? Kakak gak bawa perlengkapan senjata."
"Gak akan ada musuh. Kakak percaya deh sama aku. Udah jangan ngomong mulu, lihat jalan sana nanti kita nabrak lagi."
__ADS_1
Nevan pun mulai menyetir dengan serius dan memperhatikan sekitarnya, waspada jika musuh tiba-tiba datang. Karena keluarga Leonardus memiliki banyak musuh yang masih belum di tuntaskan.
Nevan memberhentikan mobilnya, Kaila yang melihat itu langsung bingung.
"Kenapa berhenti, kak?" tanya Kaila.
"Kai, lo buta apa ya? Gak lihat tuh disana gak ada jalan?" tunjuk Nevan pada saat melihat jalan yang dia lewati adalah jalan buntu hanya terlihat seperti sebuah tebing yang tidak terlalu tinggi.
"Apaan sih, kak? Coba deh kakak lewati jalan itu, pasti nanti masuk."
"Gak usah ngaco deh lo. Lo kagak lihat apa ada kayak tebing gitu? Lo mau nanti kita pulang ngesot?"
"Kakak juga gak lihat apa kalau di tebing itu ada tanaman hijau menjalar menutupi tebing itu?!" Kaila mulai emosi. Nevan kembali melihat dengan seksama, memang ada sebuah tanaman menjalar yang menutupi tebing itu. Tapi Nevan tetap tidak percaya.
"Lo salah jalan kali."
"Nggak kok, kak. Aku beneran gak salah jalan. Orang aku waktu kesini juga ngelewati tebing itu juga kok. Coba deh jalanin mobilnya." perintah Kaila.
Nevan kembali menjalankan mobilnya tapi dengan sangat lambat, takut jika mobilnya tiba-tiba menabrak tebing itu. Saat mobil Nevan masuk ke tebing itu, bukannya nabrak malah tambah terus berjalan.
"Eh? Kok jalan terus gini?" ujar Nevan.
"Terusin aja, kak. Gak akan ada apa-apa kok. Tanaman hijaunya emang tumbuh sampai ke dalam-dalam." ujar Kaila.
Nevan semakin memperdalam kemudinya. Dan saat dia sudah melewati tebing yang ada terowongan itu, dia bisa melihat banyak sekali pohon pinus.
"Ikuti lampunya, kak." perintah Kaila lagi.
Nevan mengikuti lampu hias yang ada di tanah ini. Hanya sedikit penerangnya, mungkin karena lampunya terbuat dari panel surya jadi sedikit agak redup.
"Berhenti, kak."
Nevan memberhentikan mobilnya, Kaila turun sementara Nevan masih di dalam mobilnya.
__ADS_1
Dok… dok… dok…
Kaila mengetuk jendela mobil Nevan.
"Ayo turun, kak." Nevan turun dari mobilnya sesuai perintah Kaila.
Nevan memandangi rumah yang ada di depannya ini dengan ketakutan. Rumahnya terlihat seperti rumah hantu jika di lihat dari luar.
"Ini rumah siapa, Kai? Kok ada rumah ya di tengah-tengah hutan?" Nevan.
"Ini rumah sekaligus markasnya kak Allisya."
"Apanya yang markas? Menurut gue ini bisa di sebut rumah hantu."
"Dari luar emang kayak rumah hantu, tapi dalamnya bagus kok. Udah ayo masuk!" Kaila menarik tangan Nevan yang sedang mematung.
Nevan juga hanya mengikuti langkah Kaila. Kaila mengetuk gerbang yang terbuat dari kayu itu, seketika gerbang itu membuka sendiri. Kaila melanjutkan jalannya. Nevan bisa melihat sebuah rumah yang sangat besar sekali, tapi tingkat kecahayaanya sangat sedikit, bahkan ini bisa di bilang seperti ruang rapat antara dirinya, Dominic dan papanya.
Kaila kembali mengetuk pintu rumah itu, lagi-lagi terbuka sendiri. Saat sudah masuk, Nevan sangat takjub melihat dalamnya.
Sungguh gak bisa di percaya. Pantas aja Allisya susah di temukan, orang markasnya aja ada di tengah-tengah hutan gini. Mengunjungi Allisya ternyata butuh extra kesabaran ya. batin Nevan.
Nevan melihat sebuah foto besar yang terpapang di dinding. Sangat mengerikan, pikirnya. Karena foto itu memperlihatkan kekejaman Allisya.
"Selamat datang di markas besar The Crazy Mobsters Detective. Apa ada yang bisa kami bantu, tuan?" ujar seseorang yang baru saja turun dari tangga.
Nevan dan Kaila sontak menoleh mendengar suara itu, mereka berdua bisa melihat bahwa ada seorang laki-laki berjas yang sedang berjalan ke arah mereka.
Kok dia sih? Kenapa bukan cowok ganteng yang waktu itu aja? Kemana ya dia? batin Kaila.
"Kalian!" ujar laki-laki itu terkejut saat melihat wajah Nevan dan Kaila.
Bersambung......
__ADS_1