CEO Tampan Vs Pramugari Cantik

CEO Tampan Vs Pramugari Cantik
Wanita itu


__ADS_3

"Apa? Dominic tahu dimana rumah Allisya? Dan juga Kaila juga tahu dimana rumah Allisya? Gue gak pernah menyangka, ternyata adik gue yang imut itu diam-diam menghanyutkan. Bagaimana bisa gue kehilangan wanita itu? Gue yang sudah merusaknya dan seharusnya gue bertanggung jawab bukan malah membiarkannya pergi." gumam Nevan frustasi.


Selama ini Nevan memang tahu dimana markas Allisya berada, tapi dia tidak pernah kesana. Takut jika saja sekali masuk langsung banyak senjata yang menghadang tubuhnya, apalagi ini adalah rumah seorang psikopat. Dia bukan Dominic yang seorang mafia dan mengambil resiko yang sangat tinggi.


Nevan berjalan keluar perusahaan dengan langkah cepat untuk menemui adik kecilnya yang imut itu.


***


Sampai di kediaman keluarga Leonardus, Nevan langsung berteriak memanggil adiknya itu.


"Kaila! Kaila! Kaila!" teriak Nevan menggelegar.


"Nevan! Kenapa teriak-teriak begitu?" ujar Kirana yang baru saja keluar dari dapur sambil membawa nampan yang berisi potongan buah segar.


"Dimana Kaila, ma?" tanya Nevan.


"Ada di dalam kamar." jawab mama Kirana.


"Apa dia gak sekolah?"


"Gak mau. Dia gak mau sekolah kalau gak di antar sama Dominic." ujar Kirana sedih.


Nevan langsung berjalan ke arah kamar Kaila. Kirana yang melihat itu langsung membuntuti anak sulungnya itu, takut jika saja Nevan mencelekai Kaila.


Braakkh.


Suara pintu terbuka yang sangat keras.


"Woi! Pintu itu bisa rusak kalau gitu membukanya!" gerutu Kaila. Nevan tidak menggubris celotehan adiknya dan langsung menarik tangan Kaila.


"Sakit, kak! Lepasin!" Kaila.


"Dimana markas Allisya?"


"Ngapain tanya? Kan udah tau, kenapa masih tanya?"


"Apa disana gak ada sesuatu? Seperti senapan atau laser pembunuh?"


"Gak ada sih, sewaktu aku kesana aku lewati jalan juga gak ada apa-apa. Kenapa emangnya?"

__ADS_1


Nevan terdiam beberapa saat, sampai dia tidak ingat kalau dia mencekeram tangan adiknya dengan kuat.


"Sakit, kak! Lepasin!" Kaila meronta tapi Nevan tetap diam.


"Nevan!" teriak Kirana yanh membuyarkan lamunan Nevan.


"Apa, ma?"


"Lepaskan tangan Kaila! Dia kesakitan!"


Nevan melihat tangan Kaila yang begitu sangat merah, Nevan segera melepaskan tangannya. Dan Kaila berjalan menghampiri mamanya sambil memeluknya.


"Sakit, ma!" adu Kaila. Nevan hanya melengos melihat adiknya yang sedang mengadu itu.


"Kita obati di bawah ya." ujar Kirana.


"Kamu juga ikut mama, Nevan!" lanjut Kirana yang memberikan tatapan tajam.


Mereka bertiga sudah ada di ruang tamu saat ini. Kirana dengan telaten memberikan salep ke tangan Kaila yang memar akibat tangan Nevan.


"Biar di periksa Dokter ya? Mama khawatir tangan kamu patah." ujar Kirana.


Sementara Kirana menatap Nevan dengan tajam. Kirana merasa bingung dengan Nevan. Dulu Nevan hanya mencari tahu keberadaan Allisya tanpa menghampirinya dan kini Nevan mencari dan ingin bertemu dengan Allisya.


"Kenapa kamu mencari markas Allisya, Van?" tanya Kirana.


"Ma, mama masih ingat wanita yang pernah papa kenalkan denganku dan aku malah menuduhnya tidak perawan?" Nevan.


"Kenapa kamu membahas tentang dia?" Kirana sedih dengan ucapan Nevan. Sedih karena Nevan sudah merusak anak orang tanpa bertanggung jawab atas perbuatannya. Sudah ada air di pelupuk mata Kirana saat ini.


"Ma, Allisya tahu dimana dia berada. Aku ingin mencarinya. Dulu aku hampir berhasil mendapatkannya tapi dia lolos dan sekarang aku tidak akan pernah melepaskannya lagi jika aku bertemu dengannya. Aku yakin persembunyiannya saat ini juga di bantu oleh seseorang dan aku yakin kalau Allisya lah yang membantu wanita itu." ujar Nevan.


"Bagaimana Allisya bisa tahu tentang dia?"


"Allisya itu seorang detektif, ma. Dia pasti tahu segalanya. Aku akan membawanya pulang dan menjalani rumah tangga dengannya saat aku bertemu dengannya nanti."


"Jangan paksa dia, Nevan! Jika kamu memaksanya untuk berada di sampingmu yang ada dia akan menjauh! Kamu harus bersikap lembut kepadanya supaya dia mau bersamamu lagi!" ujar Kirana yang sudah terisak.


Lama wanita yang akan jadi calon menantunya itu menghilang akibat ulah anaknya sendiri. Kirana merasa telah gagal menjadi ibu untuk anak-anaknya.

__ADS_1


"Sekarang, pergilah ke markas Allisya dan cari tahu dimana dia!" Kirana menarik tangan Nevan. Nevan yang tangannya di tarik oleh mamanya menurut saja.


Kirana membawa Nevan ke teras rumah.


"Sekarang, ayo cepat cari dia dan bawa dia kesini lagi!" teriak Kirana.


"Mama tenang dong, ma! Kalau mau ketemu sama kak Allisya itu harus malam kalau siang itu dia gak ada." ujar Kaila menenangkan mamanya, meskipun Kaila tidak tahu siapa yang di bahas oleh mama dan kakaknya ini.


"Kemana dia kalau siang?" tanya Kirana.


"Kalau gak tidur ya... kerja." jawab Kaila dengan polosnya.


"Iya, ma. Apa yang di ucapkan Kaila itu memang benar. Allisya kalau siang seperti ini jarang bisa di temui. Lebih baik nanti malam aku akan menemui Allisya."


Kirana diam tidak menjawab.


"Mama gak mau tahu, kamu harus bisa menemukan wanita itu!" ujar Kirana sambil meninggalkan kedua anaknya.


Kaila hanya menatap kepergian mamanya tanpa mengikutinya.


"Siapa wanita yang mama sama kakak maksud?" tanya Kaila polos.


"Lo gak usah kepo! Anak kecil tau apa sih!" ujar Nevan ketus.


"Awas aja ya. Semoga kak Nevan pulang cuma bawa nama aja saat nanti keluar dari rumah kak Allisya!" ujar Kaila sambil meninggalkan Nevan dengan bibir yang mayun.


"Dasar adik durjana! Bukannya malah do'ain yang bagus malah doa'in yang jelek!"


Nevan masuk ke dalam mobilnya dan melajukan kendaraannya.


***


Nevan berhenti di sebuah rumah yang begitu sangat besar. Rumah yang tidak ada penghuninya sama sekali, hanya ada pelayan dan penjaga saja tanpa ada majikan di dalam.


Rumah ini adalah rumah yang Nevan buat setelah dia merusak wanita itu, setelah dia merobek selaput darah wanita yang belum sah menjadi istrinya itu.


Nevan memasuki rumahnya yang di sambut oleh beberapa pelayan. Nevan melihat ke semua penjuru rumah yang ada di ruang tamunya ini. Ada sebuah foto yang sangat besar bergambar wanita cantik sambil memakai gaun berwarna putih serta rambut yang di sanggul seperti wanita korea dengan kipas tangan yang dia bawa. Senyum secerah matahari terus Nevan pandang. Nevan berjalan mendekati foto itu dan menyentuh wajah yang ada di foto itu.


"Dimana kamu? Aku sudah lama mencarimu. Ayo tunjukkan keberadaanmu. Maka aku akan mengikatmu dengan tali pernikahan, agar kamu tidak bisa lari dariku. Aku berjanji akan selalu bersikap baik kepadamu tanpa menyakitimu. Kita akan hidup bersama selama-lamanya." gumam Nevan. Tanpa Nevan sadari ada butiran kristal bening yang keluar dari matanya.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2