
Tembok itu hancur tak tersisa, bahkan batu-batu yang harusnya berserakan hancur lebur seperti tanah. Mereka semua meneguk ludah mereka kasar saat melihat tembok itu hancur, bahkan Erwin sudah tidak bisa bergerak sama sekali, tubuhnya terasa sangat kaku sekali. Mereka semua beralih menatap Allisya, dan Allisya sudah melayangkan tatapan pembunuhan kepada mereka semua. Ken bahkan sudah siap dengan dirinya sendiri. Saat ini Ken sudah ada di depan Allisya tapi tidak menutupi tubuh Allisya dengan tubuhnya. Ken sudah benar-benar kesal melihat mereka semua, dan bisa-bisanya mereka mau mengeroyok mereka berdua. Ken dan Allisya sudah menatap mereka dengan tatapan pembunuhan.
"Sepertinya nyawa kalian ada banyak ya? Apakah tubuh kalian mau menjadi seperti tembok itu? Aku bisa saja melakukannnya. Kalian mau?" ujar Allisya dengan sangat datarnya. Mereka semua merinding ketakutan.
Jarum yang tadi di lemparkan Allisya adalah jarum yang sudah dia modifikasi menjadi sebuah jarum bom. Jika jarum itu di lemparkan maka benda yang kena jarum itu akan hancur lebur seperti abu. Allisya tidak pernah menggunakannya pada tubuh manusia, dia melemparkan jarum itu hanya untuk membuat mereka takut.
Mereka semua diam membeku, tidak bisa bergerak sama sekali. Jangankan bisa bergerak, bernafas saja sepertinya mereka sangat kesusahan.
"Ada apa ini?" ujar Dominic tiba-tiba. Semuanya langsung mengalihkan pandangan melihat Dominic.
Dominic yang mendengar seperti suara bom dari kamarnya langsung bergegas untuk keluar. Dan sepertinya ada sesuatu yang telah terjadi di markasnya. Dominic langsung mengalihkan pandangannya melihat ke arah yang di tuju oleh anak buahnya dan betapa terkejutnya dia saat melihat Allisya dan juga Ken ada di markasnya.
"Allisya?" gumam Dominic.
Allisya tersenyum licik dan menaikkan sebelah alisnya sambil menatap Dominic. Ken langsung berdecak kesal saat melihat Dominic keluar dari dalam.
"Dominic, ajarin anak buah lo itu untuk menerima tamu dengan tangan terbuka. Kayaknya gue ragu kalau Allisya sama lo. Baru pertama kali aja dia datang kesini dan ini perlakuan yang Allisya dapatkan? Huh! Gue gak pernah sudi kalau lo harus sama Allisya!" ujar Ken sambil berdecak kesal.
Saat mendengar ucapan Ken, Dominic langsung melihat anak buahnya sambil mendengus kesal.
"Allisya, kenapa kamu datang kesini? Aku bisa datang ke markasmu jika kamu mau." tanya Dominic dengan lembut kepada Allisya.
"Ada yang pengen gue omongin sama lo." jawab Allisya.
"Apa?" tanya Dominic.
Allisya beralih menatap Ken, Ken langsung menganggukkan kepalanya dan pergi meninggalkan Allisya sendirian di markas Dominic. Anak buah Dominic langsung kebingungan melihat kepergian Ken, padahal Allisya hanya menatapnya saja dan Ken sudah tahu apa yang di inginkan Allisya, pikir mereka semua.
"Secara pribadi." ujar Allisya singkat. Dominic mengangguk dan menyuruh Allisya untuk mengikutinya.
Dominic mengajak Allisya ke kamarnya, Allisya memandangi kamar Dominic.
Markas yang begitu sangat megah juga, sama seperti markas milikku. batin Allisya.
__ADS_1
Allisya sibuk menilai markas Dominic, sementara Dominic memandangi punggung mulus Allisya yang tertutupi oleh rambut panjang Allisya. Dominic melingkarkan kedua tangannya pada pinggang ramping Allisya, Allisya tidak memberi reaksi apapun. Dominic membalikkan tubuh Allisya lalu Dominic mendekatkan bibir tipisnya dengan bibis tipis Allisya.
"Jangan melebihi batasanmu, Dominic!" aksi Dominic terhenti saat mendengar ucapan Allisya. Dominic mengendurkan pelukannya yang ada di pinggang Allisya, lalu menatap Allisya lekat.
"Apa yang membuatmu datang kesini?" tanya Dominic.
"Pulang." jawab Allisya.
"Apa? Pulang? Kamu mau pulang kesini? Ke Markasku?" tanya Dominic kebingungan.
"Bodoh!" ujar Allisya. Dominic tambah di bingungkan lagi dengan ucapan Allisya yang mengatainya bodoh.
"Allisya, aku bukan Ken yang bisa mengerti ucapan ataupun arti tatapanmu." ujar Dominic.
"Lo harus pulang ke rumah lo, rumah keluarga Leonardus." ujar Allisya. Dominic langsung melepaskan pelukannya dari pinggang Allisya dan sedikit mendorong Allisya.
"Aku gak mau." tolak Dominic.
"Apa? Aku tidak pernah menyusahkanmu, yang ada kamu malah membuatku kesusahan!" ujar Dominic sedikit emosi.
"Lo tau adik lo yang imutnya gak ada tandingannya itu?" tanya Allisya, dan Dominic hanya mengangguk saja. "Dia ada di markas gue dan gak mau pulang kalau gak ada lo!" lanjut Allisya. Dominic sedikit terkejut saat mendengar ucapan Allisya.
Allisya terpaksa menggunakan nama Kaila sebagai tamengnya, karena sepertinya Dominic akan menolak meskipun ini permintaan Allisya.
"Kenapa dia ada disana?" tanya Dominic bingung.
"Karena lo gak mau pulang, bego! Dia ada di rumah gue, dia gak akan pulang kalau lo gak pulang!" jawab Allisya emosi.
"Tapi aku gak mau pulang, Al." tolak Dominic dengan lembut.
"Terus? Lo mau adik lo itu di markas gue terus gue gitu? Gak sekolah gitu?!" ujar Allisya kesal.
"Apa? Gak sekolah?" tanya Dominic heran.
__ADS_1
"Iya gak mau sekolah karena bukan lo yang nganterin dia!" jawab Allisya. Dominic berdecak kesal saat mendengar jawaban Allisya.
Kaila itu gimana sih?! Ada Nevan juga ngapain minta anterin gue?! Supir juga banyak! batin Dominic kesal.
"Oke, aku bakalan pulang, asal kamu turuti syarat dari aku." ujar Dominic senang. Allisya hanya menatap Dominic datar.
Apalagi yang ada di pikiran orang ini? batin Allisya.
"Apa?" tanya Allisya.
"Kamu harus tidur sama aku malam ini." jawab Dominic dengan senyum secerah matahari.
"Mau mati ya!" Allisya mulai kesal.
"Kita gak akan melakukan apa-apa, cuma tidur doang. Mau gak? Kalau gak mau juga gak apa-apa, biar Kaila ada di markas kamu terus." ujar Dominic dengan sangat entengnya, tidak tahu kalau Allisya sedang menggerutu di dalam hatinya.
Gue tidur sama dia? Udah gila kali ya! Tapi kalau gue gak tidur sama dia yang ada Kaila gak pulang-pulang dan malah bikin ulah di markas gue. Tapi kalau gue tidur sama Dominic, gue gak suci lagi nanti. gerutu Allisya dengan kesalnya.
"Tenang aja aku gak akan melakukan sesuatu sama kamu, kita cuma tidur sambil pelukan aja. Gimana?" ujar Dominic yang masih tersenyum secerah matahari.
"Lo mencari kesempatan dalam kesempitan!" ujar Allisya kesal. Dominic hanya tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Allisya.
"Mau gak? Kalau gak mau ya udah gak apa-apa." ujar Dominic. Allisya mendengus kesal.
"Oke, gue akan tidur sama lo. Tapi cuma kali ini doang, besok-besok nggak!" tegas Allisya.
"Oke, no problem." jawab Dominic dengan tersenyum sangat senang.
Cup.
Satu kecupan manis mendarat di pipi kanan Allisya, hanya sekedar kecupan saja tidak lebih. Dominic membelai rambut Allisya, inginnya dia menciumnya tapi takut Allisya marah. Allisya juga tidak bereaksi apa-apa. Terkadang Dominic juga bingung dengan pola pikir dan tingkah laku Allisya, tapi bagi Dominic itu sangat menggemaskan.
Bersambung......
__ADS_1