
Dominic masih ada di ruang kerjanya. Dia sedang menunggu Robert untuk membawa informasi tentang Allisya.
Lama Dominic menunggu. Dia tidak melakukan apapun, hanya menatap langit-langit ruangannya.
"Permisi tuan." ujar Robert sambil membuka pintu.
"Lo lama banget sih!"
"Maaf tuan. Itu karena informasi tentang Allisya sangat tertutup."
"Jadi gimana?"
"Saya mendapatkan kabar tentang rumah orang tua Allisya. Rumahnya di jalan XX no. XX."
Robert menyodorkan amplop berwarna coklat kepada Dominic. Dominic membuka satu-persatu lembaran tersebut.
Cih. Kenapa teman-temannya tidak mau memberitahu tentang Allisya sama sekali sih! ujar Dominic dalam hati.
"Maafkan saya tuan, karena informasinya tidak memuaskan anda."
"Sudahlah, itu tidak apa-apa. Yang penting gue udah tahu alamat orang tuanya Allisya."
Dominic masih memandangi kertas-kertas tadi.
"Robert, ayo kita ke rumah orang tuanya Allisya!"
Apa? Kenapa? Kenapa anda mengajak saya tuan? ujar Robert dalam hati bingung.
"Gue mau memperkenalkan diri sebagai calon menantu." tersenyum bangga.
Apa? Calon menantu? Apa anda sudah gila, tuan? Jangan cari-cari masalah dengan keluarganya. Bisa-bisa anda yang akan kehilangan Allisya nanti. ujar Robert dalam hati.
"Ayo, ngapain lo masih ada disana?" ujar Dominic yang sudah membuka pintu.
"Apa tuan yakin mau kerumah orang tua Allisya?"
"Ya iyalah. Memang lo pikir gue bohong!"
"Saya harap anda tidak membuat masalah, tuan."
"Terserah."
Mereka keluar dari perusahaan Leo Corp dan melajukan mobil mereka. Mereka berhenti di sebuah supermarket untuk membeli beberapa makanan. Setelah selesai mereka melanjutkan perjalanan mereka.
Saat sampai di rumah Allisya, Dominic memandang rumah berlantai dua itu. Rumahnya sederhana, tampak asri dan juga damai. Dominic mengetuk pintu rumah tersebut.
Tok… tok… tok…
Ada seseorang yang membuka pintu. Ibu Allisya menatap aneh kepada Dominic.
__ADS_1
"Maaf, anda siapa?" tanya ibu Allisya.
"Perkenalkan saya tante. Saya Dominic Michael Leonardus. Saya adalah CEO perusahaan Leo Corp. Saya kesini untuk membahas tentang anak anda, Allisya."
"Silahkan masuk."
Dominic duduk disofa sambil melihat foto-foto yang terpajang di dinding. Dominic tersenyum saat melihat masa kecil Allisya.
Imut sekali. ujarnya dalam hati.
Ibu Allisya membawakan teh dan juga camilan. Lalu dia duduk disofa.
"Maaf. Saya ingin bertanya. Apa keadaan Allisya baik-baik saja?" tanya ibu Allisya khawatir.
"Tante tenang saja. Saya yakin Allisya akan baik-baik saja. Saya minta maaf untuk kejadian yang menimpa Allisya. Saya berjanji untuk membuatnya cepat sadar."
"Terima kasih. Apa saya boleh datang mengunjungi Allisya?"
"Untuk itu… saya masih belum memperbolehkan. Maafkan saya."
Ibu Allisya begitu sedih saat dia tidak dapat mengunjungi Allisya. Bagaimanapun dia seorang ibu, hatinya pasti sangat hancur melihat keadaan anaknya saat ini.
"Kalau saya boleh tahu, siapa nama tante?"
"Nama saya Lina."
"Baiklah, tante Lina. Saya datang kesini juga mempunyai maksud. Saya ingin memperkenalkan diri saya sebagai calon menantu, tante."
Apa? Calon menantu? Allisya saja tidak pernah mengenalkan lelaki manapun kepadaku. ujar ibu Lina dalam hati.
"Maaf saya tidak mengerti maksud anda, tuan."
"Saya adalah calon suami Allisya sekaligus calon menantu tante."
"Apa? Calon menantu? Calon suami?"
"Ya tante."
Tuan, hentikan kata-kata menakutkan anda. Mana mungkin ada orang yang percaya dengan ucapan anda barusan. ujar Robert dalam hati.
"Tapi, Allisya tidak pernah mengenalkan lelaki manapun ke saya."
"Memang tante, karena saya menjalin hubungan dengan Allisya semenjak Allisya kecelakaan."
Tunggu! Apa maksudnya ini? Jadi dia mengaku sebagai calon suami Allisya disaat Allisya tidak sadar, begitu? ujar ibu Lina bingung.
Ibu Lina dibuat terkejut beberapa kali oleh Dominic. Bagaimana bisa CEO perusahaan Leo Corp berfikiran seperti itu? CEO yang terkenal dengan sikap angkuh, dingin dan kejamnya tiba-tiba datang mengaku sebagai calon menantunya dan calon suami Allisya.
Sekitar satu jam Dominic berada di rumah orang tua Allisya, sampai akhirnya dia pulang. Ibu Allisya benar-benar ingin pingsan rasanya. Menurutnya, Dominic begitu sangat konyol sekali. Percayalah ibu Lina, Dominic akan seperti itu pada orang yang dia cintai, jangan terlalu terkejut begitu.
__ADS_1
Saat ada di mobil, Dominic marah-marah dan mengomel tidak jelas.
"Bagaimana bisa ibu Allisya gak percaya kalau gue calon menantunya!?" ujar Dominic dengan kesal.
"Tuan, itu wajar karena Allisya tidak pernah mengenalkan satu pria pun sebagai kekasihnya kepada ibunya, dia hanya mengenalkan teman-teman detektifnya saja."
"Tapi, gak usah seperti itu juga! Seharusnya dia percaya. Memang orang tua mana yang gak percaya kalau anaknya memiliki kekasih seperti gue!"
Robert diam tidak menjawab ucapan Dominic. Persetan dengan tuannya saat jatuh cinta membuat dia pusing tujuh keliling.
"Kita ke rumah sakit sekarang!"
"Baik."
Melajukan mobilnya untuk ke rumah sakit.
Gue gak mau tahu, Allisya harus jadi milik gue! Apapun itu caranya! ujar Dominic dalam hati.
***
Saat sampai di rumah sakit, Dominic berjalan ke ruangan Allisya. Saat sampai di ruangan Allisya, dia duduk di samping Allisya.
"Allisya, kapan kamu akan sadar? Sadarlah, aku mohon." ujarnya sambil mengecup tangan Allisya.
Dominic bercerita banyak sekali tentang kehidupannya. Dia baru merasakan jatuh cinta lagi saat dia bertemu dengan Allisya. Allisya membuatnya berubah.
Sekitar dua jam Dominic menghabiskan waktunya untuk menemani Allisya, akhirnya dia pulang. Hari sudah sore dan dia juga sangat lelah sekali. Dia akan menemui teman Allisya lagi besok, kebetulan juga besok itu weekend.
***
Saat sampai di rumah, Dominic disambut oleh mamanya dan juga seorang wanita cantik.
"Dominic, kamu sudah pulang? Sini ngobrol bentar sama mama." ujar mama Kirana. Dominic berjalan ke arah mamanya dan duduk di samping mamanya.
"Dominic, ini kenalkan namanya Leli. Dia anaknya teman mama, cantik kan?" ujar mamanya. Semetara Leli hanya tersenyum malu.
"Biasa saja." jawab Dominic acuh.
"Loh kok ngomongnya gitu sih? Leli ini cantik loh. Dia itu selera kamu juga kan?"
Apa yang dikatakan mama Kirana itu benar. Leli memilki lekuk tubuh yang indah, sesuai dengan selera Dominic. Tapi, entah kenapa Dominic tidak terlalu senang dengan Leli. Hatinya sudah beralih ke Allisya dan tidak bisa diganti lagi. Berpindah hati tidak semudah berpindah tempat. Begitu juga dengan Dominic, dia sudah terlanjur mencintai Allisya, dia tidak akan mudah untuk berpindah hati begitu saja.
"Terserah mama." setelah mengatakan itu, Dominic beranjak dari duduknya dan menaiki tangga untuk pergi ke kamarnya.
"Maafkan Dominic ya, Leli. Dia memang seperti itu." ujar mama Kirana.
"Gak apa-apa kok, tante." ujar Leli tersenyum.
Dia ganteng banget. Tubuhnya juga gagah dan besar. Dia seleraku sekali. Aku harus mendapatkannya. Mana mungkin dia tidak tertarik kepadaku. Aku memilki tubuh yang indah dan paras yang cantik. Aku hanya butuh bersabar saja untuk melunakkan hati Dominic. Kalau sudah lunak, aku akan mengajaknya tidur dan menghabiskan malam denganku. ujar Leli dalam hati.
__ADS_1
Bersambung......