
"Gak! Gue gak mau! Gue mau pulang sekarang! Gue udah gak betah disini! Baju gue dari kemarin juga gak ganti! Pokoknya gue mau pulang sekarang!" Allisya menekankan kata-katanya. "Gue juga lapar sekarang. Gue mau makan! di markas gue, bukan di markas lo!" lanjut Allisya. Dominic berdecak kesal mendengar ucapan Allisya.
"Sama aja, Al. Makanan disini juga sama kayak di rumah kamu." ujar Dominic dengan sangat kesal.
"Ya, pokoknya gue gak mau makan disini! Gue mau makan di markas gue! Kalau lo makan disini, makan aja. Gue tungguin, tapi gue tetap makan di markas gue!" ujar Allisya.
Dominic berdecak kesal melihat Allisya, dia langsung berjalan ke arah kamar mandi. Sementara Allisya menunggu Dominic dan mengecek hpnya. Dia beberapa kali menelpon teman-temannya, tapi tidak ada yang menjawabnya sama sekali. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di sana, pikir Allisya.
Dominic dan Allisya sudah berada di mobil Allisya. Dominic tidak sarapan karena Allisya tidak mau sarapan dengannya. Kali ini Allisya lah yang menyetir mobilnya, padahal Dominic mau menyetir mobil tapi Allisya melarangnya.
"Apa gak bisa di tunda beberapa jam gitu, Al?" tanya Dominic kesal.
Dia masih enggan sekali untuk menginjakkan kakinya di rumah besar keluarganya. Dia juga masih kesal dengan mama dan kakaknya.
"Gak bisa! Kerjaan gue banyak! Gue gak mau nunda pekerjaan gue cuma gara-gara lo doang!" jawab Allisya dengan ketus.
Alliysa mulai melajukan mobil sportsnya itu untuk pergi ke markasnya, menyusul Kaila dan membawanya pulang bersama Dominic.
***
Sementara di markas Allisya, Gevan sedang menyuapi Kaila makan. Mereka bertiga sudah meminum obat anti body mereka agar mereka lebih kuat saat mendapat serangan dari Allisya nanti. Keringat dingin sudah bercucuran di dahi Alex dan Mikel, tangan Gevan juga sudah gemetar dan berkeringat. Apalagi saat Allisya mengabarkan kalau dia sudah ada dalam perjalanan ke markasnya.
"Om Gege kenapa? Kok kayak orang ketakutan gitu?" tanya Kaila dengan nada polosnya. "Om curut sama Om Miki juga kayaknya ketakutan gitu? Ada apa sama kalian bertiga?" lanjutnya lagi.
"Gak apa-apa. Kita cuma habis olahraga aja kok, makanya masih ada keringat sama ekspresi kelelahan sama takut gitu." bohong Gevan.
"Tapi kayaknya gak begitu." Kaila mulai curiga dan menerka-nerka.
"Gak ada apa-apa, La. Setiap pagi kita emang kayak gini kok wajah kita. Soalnya kita kan ada di hutan, rata-rata emang kayak gini kalau pagi." Gevan mencoba untuk menyakinkan Kaila.
Kaila mengangguk, mengerti dengan apa yang Gevan ucapkan. Gevan masih menyuapi Kaila makanan.
"Nanti, ayo kasih kelinci makan ya, om." pinta Kaila dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Gak bisa." tolak Gevan.
Raut wajah Kaila langsung berubah masam saat mendengar penolakan dari Gevan.
"Kenapa?" tanya Kaila sedih.
"Soalnya kakak lo mau kesini." jawab Gevan.
"Kakak yang mana? Aku punya 2 kakak soalnya." tanya Kaila lagi.
"Dominic." jawab Gevan.
"Oh ya? Beneran?"
"Iya."
"Berarti ada kak Allisya juga dong?"
"Iya."
Kaila bersorak gembira seperti anak kecil yang di berikan permen. Wajah dan tingkah laku Kaila membuat ketiga lelaki ini sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Menurut mereka, Kaila seperti obat penghilang ketakutan. Karena saat melihat wajah imutnya yang gembira, membuat mereka menjadi lebih tenang.
Ketiga lelaki ini keluar dari kamar Kaila dan membiarkan Kaila sendirian di dalam kamar Gevan.
Mereka bertiga sudah duduk di sofa yang ada di ruang tamu mereka sambil membenamkan wajah mereka dengan kedua tangan mereka.
"Gue udah minum pil itu 5 sekaligus. Kalau gak bisa ngelindungin gue dari serangan Allisya nanti, gue mau obat itu di ganti lagi sama yang baru dan minta yang lebih kuat." ujar Mikel frustasi.
Mikel dan Alex sama-sama meminum 5 pil sekaligus, sementara Gevan hanya meminum 2 pil saja. Entah pil itu akan kuat menerima serangan Allisya nanti atau tidak, mereka juga tidak tahu.
Terdengar suara mobil sportsnya milik Allisya dari luar, mereka bertiga buru-buru untuk keluar dari rumah berkedok markas itu. Mereka bertiga menyambut kedatangan Allisya dengan sangat natural sekali, bahkan seperti tidak terjadi apa-apa.
Allisya keluar dari mobilnya bersama dengan Dominic dan menghampiri mereka bertiga.
__ADS_1
"Dimana Kaila?" Allisya langsung menanyakan Kaila.
"Ada di kamar gue." jawab Gevan. Allisya mengerutkan keningnya saat mendengar jawaban dari Gevan.
"Kamar lo? Kenapa dia ada di kamar lo? Bukannya dia harusnya punya kamar sendiri?" tanya Allisya menyelidik.
Allisya sudah tahu kalau ada yang tidak beres semenjak teman-temannya tidak membalas chat Whatsapp nya kemarin. Dan ternyata sepertinya benar kalau ada sesuatu terjadi di markasnya. Jangan meragukan firasat dan insting seorang Allisya, karena apapun yang dia duga selalu benar.
"Kaila ngunci dirinya di kamar, jelas kita langsung mendobrak pintunya. Dan... ya... pintunya rusak dan ada beberapa benda tajam juga berserakan. Jadi gue pindah ke kamar gue, supaya dia gak terluka." jelas Gevan singkat.
Supaya tidak terluka? Meskipun mereka tidak memindahkannya, Kaila juga akan tetap terluka. Karena kejadiannya di balkon bukan di kamar.
Allisya tidak menjawab lagi, dia langsung berjalan meninggalkan mereka bertiga.
"Gue harap lo bisa menenangkan emosi Allisya nanti." ujar Gevan saat Dominic melewatinya.
Dominic tidak tahu apa yang di maksud oleh Gevan, tapi dia tetap menganguk saja dengan permintaan Gevan itu. Dominic pun mengikuti Allisya dari belakang.
Setibanya di kamar Gevan, Allisya melihat Kaila yang menonton tv di depannya itu. Tapi tak lama Kaila langsung menoleh melihat pintu yang disana sudah ada Allisya. Kaila menerbitkan senyuman secerah matahari pagi kepada Allisya. Tapi tidak dengan Allisya, mata Allisya langsung memerah saat melihat luka yang ada di pipi dan sudut bibir Kaila.
"Kak Allisya." panggil Kaila senang.
Allisya menghampiri Kaila dengan wajah yang sangat susah di artikan.
"Kak, kakak tau gak? Masakan om curut enak banget loh. Terus om Miki juga pinter banget nyanyi. Terus... " ucapan Kaila menggantung saat Kaila tiba-tiba melihat wajahnya dengan kasar.
"Kenapa sama pipi lo ini, Kai? Apa mereka ngelakuin kekerasan sama lo?" Allisya menekan kata-katanya.
Kaila ketakutan melihat wajah marah Allisya yang baru saja dia ketahui.
"Ini? Ini gara-gara aku lancang, kak." jawab Kaila yang masih tersenyum secerah matahari.
"Lancang? Lancang karena apa?" tanya Allisya.
__ADS_1
Kaila tidak menjawab, dia tidak tahu harus menjawab saat ini. Inginnya Kaila jujur tapi takut kalau dia jujur, om-omnya itu akan mendapatkan pelajaran dari Allisya. Kaila mencoba untuk menemukan alasan yang pas untuk menjawab pertanyaan dari Allisya itu, tapi sayangnya dia tidak menemukan apa-apa.
Bersambung......