
Sementara ke empat orang itu sedang memandangi punggung rapuh Ken, Kaila saja jadi ikut sedih gara-gara Ken sedih. Hati Kaila sakit, tapi dia juga tidak berhak untuk marah karena dia bukan siapa-siapa, hanya orang yang menumpang hidup selama berhari-hari. Gevan? Alex? Mikel? Mereka sudah menyerah dengan sifat keras kepala Ken. Sudah banyak sekali cara agar Ken bisa mencari pasangan lagi dan berhenti untuk mengharapkan Amelia, tapi semua itu sia-sia dan hanya membuang waktu saja. Ken masih percaya dengan cinta Amelia meskipun Amelia sudah menikah tanpa sepengetahuan Ken. Allisya satu-satunya orang yang dapat memahami Ken dengan baik saja sudah pasrah, karena Ken tidak bisa di nasehati. Jadi terserah Ken mau berbuat apa, selagi tidak menyangkut nyawanya Allisya tidak akan pernah turun tangan.
Kaila menghampiri Ken, ketiga lelaki ini hanya melihat Kaila yang menghampiri Ken tanpa mencegahnya sedikitpun. Kaila menarik ujung jas milik Ken, Ken pun refleks untuk berbalik. Sudah ada senyuman sehangat dan secerah matahari di hadapan Ken.
"Apa?" tanya Ken.
"Om kenapa?" tanya Kaila yang masih saja tersenyum meskipun hatinya sedang sakit sekali saat ini, melihat Ken sedang mengingat masa lalunya dengan seorang perempuan yang Ken cintai.
"Gue gak apa-apa. Lo ngapain kesini? Kan ada Gevan, Alex sama Mikel, kalau butuh apa-apa tinggal panggil mereka aja kan?" tanya Ken.
"Om, ada saatnya kita kehilangan seseorang dan ada saatnya juga kita mendapatkan seseorang yang baru lagi. Yang kita lihat itu masa depan, bukan masa lalu." ujar Kaila. Ken mengerutkan keningnya tak mengerti dengan ucapan Kaila baru saja.
"Gue gak tau apa yang lo maksud." ujar Ken.
"Kenapa?" tanya Kaila.
"Kenapa apanya?" tanya Ken balik.
"Kenapa om Kentang terus menerus memperjuangkan orang yang buka milik om Kentang?" tanya Kaila sendu.
Ken sudah melayangkan tatapan amarah kepada Kaila. Ketiga lelaki yang bersembunyi itu sudah mengetahui aura Ken, mereka segera menghampiri Kaila dan Ken.
__ADS_1
"Apa maksud lo? Lo gak tau apa-apa tentang gue! Jadi lo gak usah sok tau tentang gue!" ujar Ken yang sudah tersulut emosi. Gevan dan kedua temannya sudah ada di belakang Kaila.
"Aku emang gak tau tentang om, tapi aku cuma ngingetin om aja." ujar Kaila. Dia sedikit takut saat mendengar nada bicara Ken yang sudah mulai meninggi.
"Ngingetin apa?! Gak ada yang harus lo ingetin buat gue! Lo itu cuma bocah yang gak tau apa-apa tau gak! Yang lo tau itu cuma buat orang susah, itu yang lo tau!" ujar Ken.
Kata-kata Ken cukup menancap di hati Kaila. Kaila menggigit bibirnya, getir sekali rasanya.
"Asal om tau, Amelia itu udah menikah. Dia juga udah punya anak 2 sekarang, dia sedang hamil anak ketiga malahan. Om itu itu salah mencintai istri orang lain." ujar Kaila.
Ke empat lelaki ini terkejut sekali saat mendengar ucapan Kaila, apalagi Ken. Tubuhnya terasa tersambar petir sekali, dia sangat marah kepada Kaila karena Kaila bicara yang tidak-tidak tentang Amelia, bukan Kaila yang salah tapi Ken, karena Ken tidak pernah tahu kehidupan Amelia sekarang ini. Gevan, Alex, dan Mikel sudah siap siaga saat Ken sudah melayangkan tatapan pembunuhan kepada Kaila. Mereka bertiga tidak akan menyalahkan Kaila dalam hal ini, tindakan Kaila untuk memberitahu Ken sudah benar karena Kaila adalah anak yang jujur sekali. Ada kemungkinan Ken akan percaya tapi nyatanya dia tidak percaya sama sekali dengan ucapan Kaila.
"Jangan asal ngomong lo soal Amelia! Lo gak tau apa-apa tentang dia!" bentak Ken. Kaila sampai terkejut saat Ken membentaknya.
Plaaak
Tamparan keras mendarat di pipi kiri Kaila, Kaila memegang pipinya sambil meneteskan air matanya, sakit sekali. Ketiga lelaki yang ada di belakang Kaila sudah mau menolong Kaila, tapi sayang mereka kalah cepat, Ken sudah mencengkeram dagu Kaila dengan sangat keras. Kaila tak berhenti untuk meneteskan air matanya.
"Dengar baik-baik apa yang gue omongin! Gue tau lo suka sama gue, tapi lo gak ada hak buat memfitanah dia! Lo itu cuma bocah yang gak tau apa-apa! Bisa-bisanya lo memanfaatkan situasi gue saat ini untuk ngambil hati gue!" kata-kata Ken menekan sekali.
Ken meleparkan tubuh Kaila, lalu dia berjalan melenggang pergi dari hadapannya. Kaila menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
"Ken, lo iblis! Udah tau dia ngasih tau kebenarannya, tapi kenapa lo menyangkalnya! Dasar bodoh!" ujar Gevan emosi.
Ken tidak memperdulikan ucapan Gevan dan pergi meninggalkan mereka yang ada di balkon itu.
Gevan melihat wajah Kaila yang bercucuran darah di sudut bibir dan pipi kirinya. Kaila terus menangis tersedu-sedu mengingat Ken tiba-tiba saja menamparnya dengan sangat keras sekali, hatinya sakit sekali.
"Kaila, lo gak apa-apa kan?" tanya Gevan panik.
"Kenapa? Hiks... kenapa? Padahal aku cuma mau kasih tau kebenarannya tapi kenapa om Kentang malah marah? Apa aku salah? Perasaan apa yang aku ucapkan tadi itu benar." ujar Kaila sesenggukan.
Ketiga lelaki ini tidak mampu berkata-kata lagi. Inilah akibatnya jika ada orang bicara yang tidak-tidak tentang Amelia, bukan salah orang itu tapi ini adalah salah Ken yang tidak mau percaya dengan ucapan orang. Jika tidak percaya dengan ucapan orang, dia bisa saja mencari informasi itu sendiri, tapi dia tidak pernah melakukan hal itu. Ken lah yang bodoh, dia terlalu percaya dengan janji Amelia sampai dia melupakan segalanya. Ken menepati janjinya, tapi tidak dengan Amelia. Amelia telah mengingkari janji cinta mereka.
Mata Kaila tiba-tiba buram, dia tidak bisa melihat dengan jelas, semua yang ada di sekitarnya terlihat buram sekali. Pendengarannya tiba-tiba tidak berfungsi dengan normal, dia tidak bisa mendengar ucapan lelaki yang ada di depannya ini. Lama kelamaan dia menutup kedua matanya, pingsan. Ketiga lelaki ini panik bukan main saat Kaila tiba-tiba memejamkan matanya.
"Kaila! Kaila! Bangun! Kaila! Bangun!" teriak Gevan sambil menepuk pipi Kaila dengan pelan.
"Gev, gimana ini? Gue takut, Gev!" ujar Mikel panik.
"Mikel, Cepat panggil dokter! Alex, bawain gue air dingin sama handuk!" perintah Gevan.
Mikel dan Gevan langsung bertindak saat Gevan sudah menyuruhnya. Gevan menggendong tubuh Kaila dan membawanya ke kamarnya, karena kamar Kaila masih berantakan. Gevan membaringkan tubuh Kaila di ranjangnya itu sambil menyelimuti tubuh Kaila. Alex membawakan air dan juga handuk, Gevan segera mengompres dahi Kaila yang tiba-tiba panas dan juga dia mengompres pipi dan juga sudut bibir Kaila yang memar akibat tamparan keras dari Ken tadi. Alex masuk ke dalam lemari dan melihat Kaila yang terbaring pucat sekali, dia juga sudah menghubungi dokter pribadi mereka. Sekitar 10 menit lagi dokter itu akan sampai disini.
__ADS_1
Bersambung......