
"Seharusnya lo tau jawabannya kan? Lo gak perlu tanya lagi." jawab Gevan.
"Jawaban gue sama kayak Gevan." balas Ken.
Mikel berdecak kesal mendengar jawaban dari Ken dan Gevan. Mikel sendiri juga tahu bagaimana tanggapan teman-temannya soal Siska dan sebaiknya tidak usah bertanya lagi.
"Kenapa lo tanya soal Siska? Lo suka sama dia?" tanya Allisya datar.
Allisya selalu terheran dengan Mikel saat dia sedang membahas tentang Siska. Mikel selalu saja antusias jika soal Siska. Allisya bisa melihat kalau Mikel memang tidak suka dengan Siska, tapi jauh di lubuk hatinya terdalam ada rasa sayang yang begitu sangat dalam.
"Heh! Allisya! Lo kalo ngomong ati-ati ya! Mana mungkin gue suka sama tuh cewek! Bukan selera gue kali!" sarkas Mikel.
"Lagian sendiri lo selalu antusias saat bahas tentang dia. Tapi menurut gue lo itu suka sama dia." balas Allisya.
"Enak aja lo kalo ngomong! Kagak suka gue!"
Allisya hanya melirik Mikel sekilas, lalu pandangannya beralih ke arah tv lagi.
***
Satu minggu kemudian......
Sudah satu minggu berlalu, satu minggu itupun juga Zeline masih tak sadarkan diri. Kata Dokter ada banyak sekali racun yang menyebar di tubuh Zeline. Obatnya memang bereaksi dalam tubuh Zeline, tapi prosesnya sangat lama karena tubuh Zeline terkena racun yang sangat banyak. Tubuh Zeline sangat pucat sekali bagai mayat, itu juga karena pengaruh obatnya. Awalnya tubuhnya membiru, tapi karena obat yang di berikan dokter untuknya, tubuhnya menjadi pucat.
Nevan terus setia merawat Zeline yang tak sadarkan diri itu. Dia selalu membersihkan tubuh Zeline dengan handuk dan menggantikan pakaian Zeline setiap hari, layaknya Zeline yang membuka matanya.
Nevan pergi meninggalkan Zeline sendirian, dia mau menyelesaikan berkas tentang bandaranya sekarang. Karena sudah satu minggu dia menundanya.
__ADS_1
Selepas kepergian Nevan, Zeline tiba-tiba saja membuka matanya perlahan, tangannya juga bergerak. Zeline sudah membuka matanya sepenuhnya, dia duduk sambil memegang kepalanya yang sedang di perban. Dia mengedarkan sekelilingnya, mencari tahu apakah dia kenal dengan tempat ini, tapi nyatanya tidak. Zeline turun dari ranjang, menyibak tirai jendela itu. Dia melihat ada banyak sekali pepohon disana, layaknya hutan.
Ada dimana gue? Ini hutan kan? Baju gue kok putih juga? Apa jangan-jangan gue udah mati ya? Tubuh gue juga pucat banget. Fiks gue beneran mati. Akhirnya gue bisa bebas dari cowok brengsek itu. batin Zeline senang.
Zeline mengira bahwa dirinya telah mati, padahal dia tidak mati. Tempat yang sekarang Zeline tempati adalah apartment milik Dominic. Nevan membawa Zeline kesini agar tidak ada yang tahu keberadaan Zeline, termasuk keluarga Andreas. Dan soal baju putih itu adalah saran dari dokter. Dokter bilang kalau Zeline lebih baik memakai baju putih dari pada baju yang berwarna, karena kulitnya masih beracun dan sangat sensitive karena racunnya masih belum sepenuhnya hilang. Dan dokter juga menyarankan untuk memakai hanbok berwarna putih semua, karena kain yang lumayan tipis dan juga tebal, dan itu sangat baik untuk kulit Zeline saat ini.
Zeline tersenyum senang saat mengetahui dirinya telah mati, tapi dia terheran saat di kepalanya ada perban.
Ceklek
Terdengar suara pintu terbuka dan menampakkan sosok Nevan yang berdiri di ambang pintu. Zeline sangat terkejut saat melihat Nevan, bukankah seharusnya Nevan tidak ada disini? Pikir Zeline. Sementara Nevan juga terkejut saat melihat Zeline yang berdiri sambil menatap bingung.
"Zeline, kamu udah sadar?" tanya Nevan sambil mendekati Zeline.
Nevan memeluk tubuh Zeline erat, dan Zeline hanya diam tidak mengerti dengan situasinya saat ini, karena dia mengira bahwa dia sudah mati.
"Kenapa lo ada disini? Tempat ini kan cuma buat orang yang udah mati, terus kenapa lo ada disini?" tanya Zeline saat Nevan melepaskan pelukannya.
Mereka berdua sama-sama diam. Apalagi Nevan, dia tidak mengerti dengan ucapan Zeline sama sekali.
"Apa? Mati? Tempat orang mati? Maksudnya gimana coba?" tanya Nevan kebingungan.
"Iya, mati. Inikan tempatnya orang mati. Lo gak lihat baju gue putih semua, ini juga ada di hutan kan? Berarti gue udah mati. Terus lo ngapain kesini? Lo kan masih hidup, sementara gue udah mati." jawab Zeline.
Sudut bibir Nevan tertarik, dia tertawa terbahak-bahak saat mendengar jawaban Zeline.
"Jadi, kamu kira kamu udah mati gitu? Hahahahahaa." ujar Nevan yang tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Zeline hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tidak mengerti dengan Nevan yang tiba-tiba tertawa.
"Zeline, dengerin aku. Kamu itu gak mati, kamu cuma gak sadarkan diri. Lagian kalau kamu mati, ngapain perban ini ada di kepala kamu? Hah? Terus ini juga, kamu pakai baju putih karena tubuh kamu keracunan, dan tubuh kamu sensitif karena tubuh kamu kena racun. Jadi dokter nyaranin buat pakai baju putih. Terus soal tempat ini, emang tempat ini ada di hutan. Ini apartment punya Dominic, aku yang bawa kamu kesini supaya kamu lebih tenang saat istirahat. Dan kamu itu gak mati." jelas Nevan yang masih dengan di iringi tawa.
Zeline sangat terkejut saat mendengar ucapan Nevan. Dia sendiri juga merasa begitu, tapi dia menepisnya tadi. Setelah Zeline sadar kalau dia tidak mati, dia langsung mendorong Nevan menjauh darinya. Nevan sangat terkejut saat tiba-tiba Zeline mendorongnya.
"Apa sih yang lo mau dari gue?! Kenapa lo selalu aja ganggu gue?!" teriak Zeline emosi. Dadanya sesak saat dia sedang emosi, tapi Zeline menahannya.
"Ze... "
"Kurang puas lo ambil mahkota gue?! Mau lo apa lagi sekarang?! Jual tubuh gue?! Iya?!" potong Zeline lagi.
Zeline bisa mengingat dengan jelas masa lalunya dengan Nevan, apalagi saat dia bersama Nevan saat ini. Sungguh ingatan itu bisa terpapar dengan jelas di pikirannya.
"Aku... cuma mau kamu." jawab Nevan.
Zeline tersenyum kecut mendengar jawaban Nevan, sudah ada air mata di pelupuk matanya dan siap untuk jatuh di pipinya.
"Gue benci sama lo!" Zeline menekankan kata-katanya.
"Aku gak peduli kamu benci sama aku atau nggak, tapi kamu udah jadi milik aq seutuhnya." ujar Nevan.
"Gue bukan milik lo!" sarkas Zeline dengan cepat.
"Ze, lebih baik kamu ikut kata-kata aku aja dari pada kamu terus mengelak kayak gini. Kamu mengelak terus menerus, itu malah bikin aku ingin memiliki kamu. Kita akan mulai dari nol lagi dan mulai berkenalan lagi." ujar Nevan.
"Gue gak mau mulai dari nol sama lo lagi! Gue lebih baik mati dari pada gue harus hidup sama lo!" teriak Zeline dengan air mata yang mengalir deras.
__ADS_1
Nevan ingin sekali mengusap air mata itu, tapi sayangnya Zeline tidak mau di sentuhnya. Zeline menangis sejadi-jadinya di hadapan Nevan langsung. Meluapkan semua isi hatinya selama 4 tahun ini, yang dia pendam. Hatinya sangat sakit sekali.
Bersambung......