CEO Tampan Vs Pramugari Cantik

CEO Tampan Vs Pramugari Cantik
Zeline


__ADS_3

"Gue kan udah bilang tadi sama lo. Hutan ini sebenarnya banyak banget racun. Tumbuhan yang lo kira baik-baik aja, sebenarnya gak baik-baik aja. Gak satu dua tumbuhan ini tumbuh, tapi udah tersebar luas di hutan terlarang ini. Dan kemungkinan besar Zeline udah keracunan, karena saat gue lihat dari atas tadi, dia udah sempoyongan sambil megang kepalanya, apalagi saat ini dia ada di hutan terlarang. Gue gak yakin kalau dia akan terus bertahan hidup." jelas Dominic lagi.


Mendengar jawaban Dominic membuat Nevan terkejut, dia tidak siap jika harus kehilangan Zeline. Meskipun dulu Nevan membencinya, tapi sekarang dia sudah sangat menyayangi Zeline. Saat ini harapan Nevan adalah semoga Zeline baik-baik saja.


"Gak usah berharap terlalu banyak, kita bisa nemuin dia di hutan ini adalah keberuntungan yang sangat besar, gak bernyawa sekali pun." ujar Dominic.


Nevan tidak bisa menjawab apa-apa lagi, dia sepertinya tidak bisa berharap terlalu banyak lagi.


Zeline sudah tidak kuasa untuk terus membuka matanya. Dia benar-benar tidak bisa melihat dengan jelas keadaan sekitarnya. Tanpa dia sadari tanah yang dia injak saat ini sangat licin sekali, tidak tahu karena apa. Dia mau berjalan lagi, tapi sepertinya keberuntungan tidak perpihak padanya. Kaki Zeline terpeleset dan dia masuk ke dalam jurang.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!" teriak Zeline menggelegar.


Dia jatuh ke dalam jurang yang cukup dalam juga. Teriakan Zeline membuat Dominic dan juga Nevan berlari lebih cepat. Mereka semua berhenti saat melihat tas dan juga hp milik Zeline tergeletak di tanah. Nevan mengambil kedua barang itu dan melihat-lihat ke sekelilingnya. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat Zeline yang pingsan dengan luka yang sangat banyak sekali.


"Cepat arahkan helikopternya kesini!" perintah Dominic dengan segera.


Nevan menaiki tangga tali helikopter itu bersama dengan Dominic, mereka tidak bisa berjalan ke bawah karena ini juga bisa membuat mereka ikut jatuh ke jurang. Nevan langsung memeluk Zeline.


"Zeline! Bangun! Ze! Bangun, Ze!" teriak Nevan dengan lantang.


Mata Zeline sedikit terbuka, dia melihat Nevan yang sedang memeluknya, tapi itu tidak bertahan lama karena mata Zeline tertutup kembali.


"Nev.... van.... " lirih Zeline, lalu dia tak sadarkan diri.


"Ze! Bangun, Ze! Lo denger gue kan, Ze! Bangun!" teriak Nevan sambil menepuk pipi Zeline.


"Heh! Beg*! Cepet bawa dia ke helikopter, beg*! Ngapain lo malah main drama! Kayak lagi acting aja lo!" ujar Dominic kesal.


Nevan mendengus kesal melihat Dominic, tapi dia langsung membawa Zeline masuk ke dalam helikopter. Dominic memerintahkan semua pasukannya untuk naik ke helikopter, karena tidak mungkin mereka berjalan lagi. Akhirnya helikopter keluarga Leonardus pulang dengan membawa Zeline yang tidak sadarkan diri.


***


Sementara Allisya sedang menikmati wine sambil melihat TV dengan ke empat temannya.


"Kayaknya Zeline udah ketemu." ujar Ken.


"Oh ya?" tanya Allisya.

__ADS_1


"Iya. Gue lihat pelacaknya menuju ke kediaman keluarga Leonardus." jawab Ken.


Allisya memang menaruh pelacak di baju Zeline saat mereka sedang di pasar malam tadi, tentu tanpa sepengetahuan Zeline. Karena Allisya sudah menduga hal ini akan terjadi, oleh sebab itu kenapa dia memasang pelacak di baju Zeline.


"Syukur deh kalo gitu."


"Apa lo gak keterlaluan?" tanya Alex.


"Yang nentuin tempatnya bukan gue tapi Nevan. Dan itu adalah tanggung jawab Nevan bukan gue. Gue udah nyaranin buat ketemu di caffe XX, tapi Nevan nolak dan milih ke hutan." jelas Allisya.


Mereka tidak ada yang menjawab lagi, karena sepertinya yang di ucapkan allisya benar. Allisya menekan sebuah nama di benda pipih itu dan tak lama sambungan telpon pun tersambung. Terdengar suara helikopter dari seberang sana.


"Ada apa, sayang?" tanya di seberang sana yang tak lain adalah Dominic. Allisya mendengus kesal mendengar ucapan Dominic.


"Sayang, sayang, pala lo peyang! Gimana Zeline? Ketemukan dia?" ujar Allisya kepada seberang sana.


"Udah kok, ini aku mau bawa dia ke rumah." jawab Dominic yang ada di seberang sana.


"Ya udah kalau gitu."


"Kamu gak tanya tentang aku gitu, Al?"


"Kenapa?"


"Karena lo gak penting!"


"Cih! Awas kamu nan... "


Tut... tut... tut...


Tidak mendengarkan ucapan Dominic, Allisya langsung mematikan sambungan telponnya. Sementara Dominic berdecak kesak karena Allisya memutuskan sambungannya secara sepihak.


"Al, gue minta cuti beberapa hari ini." ujar Ken. Allisya melirik Ken


"Kenapa?" tanya Allisya.


"Gue mau liburan beberapa hari, buat menyegarkan otak gue." jawab Ken.

__ADS_1


"Ya, dari dulu lo butuh itu, supaya otak lo bersih dari cewek itu. Gue kasih lo cuti selama sebulan, soal kerjaan lo bakal gue yang urus. Pilih aja liburan mana yang cocok buat lo, soal biaya lo gak usah pikirin."


"Iya. Thanks."


Allisya sangat senang karena akhirnya Ken mau berlibur juga setelah sekian lama. Informasi tentang Amelia juga sudah Allisya buka sepenuhnya. Allisya berharap Ken akan segera tahu tentang kenyataannya dan berhenti untuk mengharapkan Amelia.


"Gue gak bisa terus ada disini, jadi gue harus pulang juga ke kontrakkan." ujar Allisya tiba-tiba.


"Kenapa tiba-tiba sih, Al?! Ngapain juga lo kesana? Lo kan lagi cuti!" ujar Gevan tak suka.


"Kasihan Siska sendirian disana, gue gak mungkin ninggalin dia sendirian."


"Dia bakalan baik-baik aja!"


"Baik-baik aja? Cih! Gak yakin gue kalau dia baik-baik aja, yang gue yakin dia itu gak baik-baik aja!" Allisya mencibir Siska.


"Iya, tuh anak terlalu polos banget menurut gue. Kok bisa ya anak desa jadi Pramugari? Heran aja gitu gue." ujar Mikel.


"Gue juga gak tau. Dia pinter dalam bahasa, makanya dia jadi Pramugari. Gue juga pernah lihat piala di kamar dia, dan tulisan piala itu juara 1 lomba bahasa." jawab Allisya.


"Tapi gue heran aja gitu. Dia kan anak desa, terus dapat uang sebelum dia jadi Pramugari itu dari mana? Secara kan dia juga harus tinggal di kota ini beberapa hari." ujar Alex.


"Orang tuanya hutang sama rentenir, tapi udah lunas semenjak Siska jadi Pramugari." jawab Allisya.


"Heh. Ken, Gevan." panggil Mikel kepada mereka berdua. Ken dan Gevan menatap Mikel meminta jawaban. "Menurut kalian berdua gimana Siska? Cantik atau gimana gitu?" tanyanya.


Mereka berdua tersenyum kecut mendengar pertanyaan dari Mikel. Seharusnya Mikel sudah tahu jawabannya, tapi tetap saja bertanya.


"Seharusnya lo tau jawabannya kan? Lo gak perlu tanya lagi." jawab Gevan.


"Jawaban gue sama kayak Gevan." balas Ken.


Mikel berdecak kesal mendengar jawaban dari Ken dan Gevan. Mikel sendiri juga tahu bagaimana tanggapan teman-temannya soal Siska dan sebaiknya tidak usah bertanya lagi.


"Kenapa lo tanya soal Siska? Lo suka sama dia?" tanya Allisya datar.


Allisya selalu terheran dengan Mikel saat dia sedang membahas tentang Siska. Mikel selalu saja antusias jika soal Siska. Allisya bisa melihat kalau Mikel memang tidak suka dengan Siska, tapi jauh di lubuk hatinya terdalam ada rasa sayang yang begitu sangat dalam.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2