CEO Tampan Vs Pramugari Cantik

CEO Tampan Vs Pramugari Cantik
Warna mata


__ADS_3

"Cari cara sana supaya Kaila bisa diam dan buka pintunya! Allisya gak mau tau pokoknya dia mau Kaila gak nangis lagi! Ini semua gara-gara Ken! Kemana tuh anak sekarang?! Gak tanggung jawab, langsung ngilang aja!" ujar Gevan emosi.


Sementara Allisya dia sedang berdecak kesal kepada teman-temannya, hanya mengurus bocah seperti itu saja tidak bisa.


"Kenapa?" tanya Dominic sambil memainkan rambut lurus Allisya.


"Adik lo nangis!" jawab Allisya emosi.


"Apa?! Kenapa?!" Dominic juga ikut marah saat dia tahu adiknya sedang menangis.


"Temen-temen gue gak becus buat ngerawat Kaila! Entah apa yang di lakukan mereka sampai Kaila menangis! Ini juga gara-gara lo tau gak!" Allisya mulai menyalahkan Dominic.


"Kenapa jadi aku?" tanya Dominic bingung.


"Gimana gak gara-gara lo?! Orang lo gak mau pulang sekarang! Kalau seandainya lo pulang sekarang, Kaila juga ikut pulang dan dia gak akan nangis sekarang, yang ada dia senyum terus!" jawab Allisya kesal.


Cup.


Satu kecupan manis dari Dominic mendarat langsung di hidung mancung Allisya, Allisya mengerutkan keningnya bingung.


"Gak usah di pikirin, gak penting juga." ujar Dominic.


"Terserah."


Saat ini mereka berdua duduk di sofa kamar Dominic dan sedang menonton tv, hanya Allisya saja yang menonton, Dominic hanya mencium dan memainkan rambut Allisya. Allisya terkejut saat Dominic tiba-tiba memeluknya dari samping.


"Al, kamu mau punya anak berapa?" tanya Dominic tiba-tiba, kepo. Allisya melotot mendengar ucapan Dominic.


"Udah gila ya lo! Gue gak pernah mikirin sampai anak!" ujar Allisya emosi.

__ADS_1


"Iya, aku gila gara-gara kamu. Jawab aja, mau punya anak berapa?" tanya Dominic lagi. Allisya berfikir sejenak.


"Gak tau, 2 mungkin." jawab Allisya.


"Apa? 2? Yakin cuma 2?" tanya Dominic.


"Yakin kok, gue juga gak mau punya banyak anak, bukan karena apa. Gue cuma takut gak bisa jadi ibu yang baik buat anak gue nanti, secara pekerjaan gue kan juga kayak gini." jawab Allisya.


"Ya udah kalau gitu kita buat sekarang, gimana? Kamu kan pengen punya anak." ujar Dominic sangat bersemangat.


"Apaan sih lo! Gak jelas banget jadi orang! Gue gak mau! Lo udah janji cuma buat tidur doang loh ya! Awas aja lo kalau sampai ngelakuin apapun!" ancam Allisya.


"Kenapa emangnya? Wajar kan kalau cowok cewek ngelakuin hal itu?" tanya Dominic.


"Gue udah gak perawan!" jawab asal Allisya. Dominic sangat terkejut saat mendengar ucapan Allisya, dia memegang wajah Allisya agar Allisya menatapnya.


"Iya, gue udah gak perawan! Puas lo!" jawab Allisya.


"Itu artinya kamu udah pernah ngerasain kan? Gimana rasanya? Enak kan? Kamu gak pengen ngelakuin lagi? Aku bisa loh muasin hasrat kamu." ujar Dominic dengan sangat genit. Bahkan tubuh Allisya sudah ada di bawah tubuh Dominic saat ini.


Apaan sih nih orang! Gue mana tau rasanya, orang gue tadi jawab asal juga! Kok malah jawabnya gini ya?! Lelaki mana coba yang mau nyentuh gue gitu aja, yang ada belum kesentuh nyawanya udah melayang duluan. batin Allisya.


Ya, tadi Allisya hanya menjawab asal saja, supaya Dominic kecewa dengannya tapi yang ada Dominic semakin bersemangat. Memangnya ada lelaki yang bisa menyentuh Allisya begitu saja? Dia itu psikopat, hanya mendengar namanya saja sudah membuat orang ketakutan, apalagi kalau sudah bertatap dengannya. Tapi entah kenapa tidak dengan Dominic, Allisya malah membiarkan Dominic untuk menyentuhnya.


"Hei Al! Allisya! Lo kenapa sih?! Kok diem aja!" ujar Dominic yang berusaha untuk membangunkan Allisya dari lamunannya.


"Apa sih! Minggir sana! Berat tau tubuh lo itu!" ujar Allisya saat dia sadar bahwa Dominic menindih tubuhnya.


"Gak mau! Ayo kita ngelakuin hal itu, ini kan juga bukan pertama kalinya buat kamu." ujar Dominic dengan sangat genit.

__ADS_1


Dominic langsung m*l*m*t bibir Allisya, Allisya begitu sangat terkejut. Dia tidak membalasnya, tubuhnya terasa sangat lemas sekali.


"Balas, Al." ujar Dominic yang sedikit menjauh dari bibir Allisya.


Dia langsung m*l*m*t bibir Allisya lagi. Allisya membalasnya tapi dengan sangat kaku, karena ini juga pertama kalinya dia mendapatkan l*m*t*n bibir. Dominic tersenyum senang di sela l*m*t*nnya karena dia tahu Allisya hanya berbohong saat mengatakan kalau dia sudah tidak perawan. Awalnya Dominic juga kecewa tapi kecewanya hancur saat tahu Allisya tidak pandai berciuman dan sangat kaku sekali.


Dominic menurunkan ciumannya sampai ke leher jenjang Allisya, dia memberikan tanda kepemilikannya disana. Dominic menjauhkan wajahnya dari leher Allisya dan menatap wajah Allisya lekat. Dia merapikan rambut Allisya yang berantakan gara-gara ulahnya.


"Mau lebih gak?" tanya Dominic genit.


Dominic memasukkan tangannya di tali bahu Allisya, dan menurunkan tali itu sampai ke lengan Allisya. Dia sudah mau berbuat lebih, tapi Allisya mencekal tangannya.


"Jangan melebihi batas! Gue benci cowok yang ambil keuntungannya aja dari cewek! Gue harap lo juga gak ngelakuin itu!" ujar Allisya.


Dominic menghentikan kegiatannya, dia mengecup bibir Allisya.


"Ini juga salah kamu." ucapan Dominic membuat Allisya mengerutkan keningnya bingung. "Kenapa tadi kamu ngomong kalau kamu gak perawan? Cuma buat nakut-nakutin aku doang supaya aku kecewa dan menyerah? Itu gak akan pengaruh buat aku. Dan aku juga mau membuktikan sendiri apa benar kamu masih perawan atau nggak? Ternyata kamu masih perawan. Dan udah terlihat jelas saat aku mencium bibir kamu tadi." lanjut Dominic.


Allisya diam tidak menjawab lagi. Dia menyentuh wajah Dominic dan melihat iris mata Dominic yang berwarna hijau itu.


"Apa seandainya gue nikah sama lo dan punya anak, apa anak gue akan punya mata kayak gini?" tanya Allisya sambil menatap lekat mata Dominic.


"Kemungkinan besar iya. Kenapa? Kamu pengen punya anak yang warna matanya kayak aku?" jawab Dominic. Dan Allisya menganguk.


Allisya sangat menyukai mata hijau, biru dan abu-abu. Dia sudah bertekad untuk menikah dengan lelaki luar negeri agar anaknya juga memiliki mata yang seperti itu juga. Iris mata Allisya berwarna coklat terang, itu karena ayahnya yang memiliki darah Belanda dan Indonesia. Warna mata ayahnya seperti orang Indonesia pada umumnya, tapi berbeda dengan Allisya yang memiliki warna mata coklat terang. Bisa di bilang kalau mata Allisya berbeda sendiri di keluarga besarnya.


Allisya pernah ada niatan untuk mengoperasi matanya, tapi tidak jadi. Karena dia sadar, apa yang di berikan Tuhan harus dia syukuri dan bukan malah mengubahnya. Oleh sebab itu kenapa Allisya ingin sekali menikah dengan orang luar negeri, agar anaknya juga memiliki warna mata yang indah. Itupun jika dia berjodoh dengan orang luar negeri, jika tidak maka dia hanya bisa menerima kenyataannya dan bersyukur kepada Tuhan.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2