
Saat sampai di perusahaan Leo Corp, Kaila langsung menemui papanya Arav. Arav yang di temui Kaila sangat terkejut, terkejut karena penampilan Kaila seperti anak yang terlantar.
"Kaila, ada apa kamu datang kemari, nak? Dan juga kenapa kamu menangis, nak?" tanya Arav sambil mengusap air mata yang ada di pipi Kaila.
"Pa… bawa kak Dominic pulang." ujarnya sambil terisak. Arav menghela nafas berat.
"Maafkan papa ya, Kaila. Papa gak bisa menjamin kalau papa bisa membawa kak Dominic pulang sekarang." jawab Arav sambil mengusap kepala Kaila lembut.
"Kenapa pa?"
"Kakakmu sedang sakit hati, untuk sekarang biarkan dulu. Jika sakit hatinya mulai reda kita akan menjemputnya bersama-sama ya."
"Kenapa gak sekarang saja, pa?"
"Kaila, menyembuhkan hati yang terluka itu butuh proses yang lumayan lama. Kakakmu Dominic pasti kembali. Percayalah pada papa."
"Apa papa yakin?"
"Iya, papa yakin kakakmu akan kembali. Dia hanya butuh waktu yang lebih lama lagi untuk menyembuhkan hatinya."
Kaila mengangguk. Arav tahu Kaila sangat menyayangi Dominic lebih dari Nevan, tapi untuk saat ini Arav hanya bisa membiarkan Dominic saja.
"Sekarang pulanglah. Kamu seperti anak terlantar. Kamu tahu kan kalau Dominic tidak suka jika kamu seperti ini? Oleh sebab itu pulanglah dan mandi ya."
Kaila mengangguk dan keluar dari perusahaan Leo Corp. Hatinya sedikit tenang mendengar ucapan Arav tadi, tapi dia tidak akan pernah bisa menyembunyikan kalau dia masih khawatir.
Arav menelpon seseorang setelah kepergian Kaila.
"Pastikan dia baik-baik saja. Aku tidak mau kalau dia sampai kenapa-kenapa. Dia anakku yang sangat berharga."
Setelah itu Arav memutuskan sambungan telponnya dan menatap langit-langit ruangannya.
***
Sementara di markas The Crazy Mafia Detective sedang ada perbincangan yang cukup sengit.
"Allisya, apa lo yakin dengan keputusan yang lo ambil?" tanya Ken.
Allisya menceritakan bahwa dia memberikan kesempatan untuk Dominic, mendengar Allisya yang seperti itu membuat ke empat temannya tidak percaya dan berharap apa yang dilakukan Allisya tidak akan menimbulkan masalah.
"Gue yakin kok. Lagi pula gue mau mencoba juga gimana rasanya jatuh cinta, secara gue kan gak pernah jatuh cinta sama seseorang." jawab Allisya.
"Semoga dengan keputusan yang lo ambil tidak berdampak bagi kita."
"Apa maksud lo bicara seperti itu?"
__ADS_1
"Allisya, biasanya setiap tindakan yang lo lakukan itu selalu berdampak kepada kita. Ya... gue berharap dengan lo yang memberikan Dominic kesempatan tidak ada maksud lain."
"Apa yang bisa gue dapat dari Dominic memangnya?"
"Banyak. Secara keluarga Leonardus sangat kaya. Mereka memiliki cabang perusahaan yang berkembang pesat di dalam dan di luar negeri."
"Ya, gue tahu itu. Tapi gue memberikan Dominic kesempatan itu gak ada maksud lain."
"Gue juga berharap begitu."
Allisya memandangi buah-buahan yang baru saja Mikel bawa. Allisya mengambil satu buah strawberry. Dia memakannya.
"Kenapa lo makan buah seperti itu? Apa ada yang salah sama buah yang gue bawa? Gue juga gak pernah memberi racun ke makanan lo." ujar Mikel.
"Gue gak pernah berfikir seperti itu. Wajar kan kalau gue makan buah seperti ini. Secara gue sudah lama gak makan buah dan tiba-tiba lo datang membawakan buah." jawab Allisya.
"Lo sedang sakit makanya gue bawa buah."
"Gue baik-baik saja."
"Huh! Kelihatannya saja begitu tapi aslinya juga gak baik-baik saja!"
Allisya terus memandangi buah-buahan yang ada di meja. Dia teringat kepada Dominic.
"Apa yang dilakukan Dominic sekarang ya?" Ucapan Allisya sukses membuat semua orang yang duduk di sofa membulatkan matanya sempurna.
"Ini gue Allisya, sebaiknya lo gak usah berfikir negatif tentang gue, Ken." ujar Allisya seolah mengerti dengan pemikiran Ken.
"Dominic mengundurkan diri sebagai CEO perusahaan Leo Corp." ujar Ken.
"Kenapa?" tanya Allisya penasaran.
"Gue masih belum tahu apa penyebabnya. Tapi kemungkinan Dominic sedang bertengkar dengan keluarganya." Allisya cukup mengerti dengan penjelasan Ken. Allisya diam menunggu apa yang dikatakan Ken selanjutnya.
"Sekarang Dominic tinggal dimana?" tanya Allisya.
"Dia tinggal di markas Icepick Willie Alderman. Markas geng motornya. Dia mulai tinggal disana sekarang."
"Apa ada hal yang menarik lagi?"
"Gak ada. Beberapa hari ini gue ada di rumah terus karena lo sakit."
Allisya mengangguk. Benar saja Dominic baru saja keluar dari rumah dan mereka sudah mengetahui informasi tentang Dominic. Hebat sekali, mereka patut di tiru. Tidak banyak bicara dan langsung bertindak.
"Ken." panggil Allisya saat buahnya sudah habis.
__ADS_1
"Apa? Apa lo ingin buah lagi?" jawab Ken sambil melihat ponselnya.
"Gak."
"Terus?"
"Ayo kita latihan pedang. Sudah lama kita tidak latihan pedang." Ken menatap Allisya.
"Allisya, lo itu baru saja keluar dari rumah sakit. Badan lo itu belum sepenuhnya pulih! Kalau gue gak panggil Dokter pribadi lo mungkin saat ini lo masih ada di kamar."
"Ck. Apaan sih lo Ken? Gue meskipun sakit gak seperti lo! Lo kalau sakit manja kalau gue kan gak."
"Terserah."
"Ayo atau gue bunuh lo sekarang." ujar Allisya sambil berjalan meninggalkan Ken.
"Ck." umpat Ken kesal. Ken berjalan mengikuti Allisya.
Mereka berdua, Allisya dan Ken sedang berlatih pedang. Hanya ada suara dentingan pedang di ruangan mereka sekarang.
"Ken, apa kemampuan pedang lo menurun?" tanya Allisya meremehkan.
"Huh! Gue seperti ini karena jarang latihan!" jawab Ken ketus.
"Gak usah bohong sama gue. Gue tahu kenapa lo gak mau latihan pedang seperti ini."
"Memangnya apa yang lo tahu?"
"Lo takut mengingat dia kan?"
"Dia siapa?" tanya Ken bingung.
"Amelia." gumam Allisya. Ken langsung menganga tak percaya, ternyata Allisya tahu tentang Amelia.
Ken menghentikan kegiatannya dan berjalan ke arah jendela. Dia mengingat-ingat nama Amelia.
Amelia adalah mantan kekasih Ken. Sudah lama mereka berpisah karena pertentangan keluarga. Kakak Amelia tidak setuju dengan Ken, karena Ken adalah seorang psikopat. Kakak Amelia takut kalau adiknya akan di bunuh oleh Ken, karena Ken sudah beberapa kali membunuh seseorang.
Ken tersenyum getir mengingat masa lalunya. Dulu dia selalu berlatih pedang dengan Amelia. Amelia yang selalu ingin berlatih pedang dengan Ken pun sangat bersemangat sekali, sampai akhirnya mereka berpisah.
"Carilah cintamu lagi, Ken." ujar Allisya menepuk bahu Ken.
"Kenapa?" tanya Ken heran. Karena dulu sewaktu Amelia pergi, Amelia berjanji untuk menjaga hatinya untuk Ken.
"Gue sarankan saja, lebih baik lo cari pengganti. Ya gue takut saja, kalau sampai lo tahu kebenaran tentang Amelia sekarang." Ken langsung melihat Allisya. Allisya tahu tentang Amelia? Begitu pemikirannya.
__ADS_1
Bersambung......