
Zeline melirik ke seluruh penjuru ruangan ini, berharap akan ada pelayan atau orang yang lewat tapi ternyata tidak ada sama sekali, bahkan hanya ada dia dan Nevan saja disini. Zeline ingin berteriak tapi dia takut akan membangunkan Kaila.
Dengan sekali tarikan, Zeline sudah bersentuhan dengan Nevan. Zeline meronta-ronta agar Nevan melepaskannya tapi Nevan malah mempererat tangan yang ada pada pinggang Zeline.
"Lepasin gue!" bisik Zeline lirih dengan penuh kebencian sekali. Nevan tersenyum sangat sinis mendengar dan melihat lirikan mata Zeline yang terpancarkan kebencian, bahkan dia juga bisa melihat ada air mata di pelupuk mata Zeline.
"Kamu kenapa sih, sayang? Aku gak bakalan ngapa-ngapain kamu kalau kamu nurut sama aku. Jadi jangan bantah kalau mau selamat dan masih ingin hidup." ujar Nevan dengan senyum yang menyiratkan sebuah rencana.
Nevan langsung menggendong Zeline, dan tentu saja Zeline meronta-ronta. Zeline tetap mencoba untuk lepas dari Nevan, meskipun tenaganya kalah jauh dengan Nevan.
Tubuh Zeline di banting tepat di atas tempat tidur, Nevan mengunci kedua tangan Zeline. Air mata yang ada di pelupuk mata Zeline sudah tidak bisa terbendung lagi.
"Kamu kenapa menangis, sayang? Tenang aja, aku gak bakalan ngapa-ngapain kamu kok. Kita pemanasan aja dulu." ujar Nevan dengan senyum liciknya.
Nevan mengikat kedua tangan Zeline dengan dasi yang dia kenakan tadi. Zeline sudah tidak bisa berbuat apa-apa, lidahnya terasa sangat keluh sekali untuk berbicara. Zeline sangat pasrah.
"Coba kita lihat, seberapa sucinya dirimu nona muda Zeline Andreas."
Nevan melucuti satu-persatu pakaian yang di pakai oleh Zeline. Zeline rasanya ingin berteriak tapi dia tidak bisa. Dia menyesali perbuatannya yang datang ke rumah keluarga Leonardus.
Sekarang mereka berdua sudah tidak mengenakan sehelai benang sama sekali. Nevan sudah melancarkan aksinya, tapi saat itu dia terkejut.
"Lo masih p*r*w*n?!" ujar Nevan dengan sangat terkejutnya.
Nevan melihat ke arah bawah dimana sudah ada d*r*h segar yang keluar.
"Tolong lepasin gue..." ujar Zeline dengan lirih sekali.
Nevan memeluk tubuh polos Zeline yang sedang menangis.
"Maaf, gue pikir lo bukan wanita baik-baik, tapi ternyata dugaan gue salah. Gue bakalan tanggung jawab soal hal ini. Lo tenang aja." ujar Nevan tepat di telinga Zeline.
__ADS_1
Cup
Nevan mengecup pipi Zeline.
"Karena udah terlanjur, jadi ya.... nikmati aja." ujar Nevan dengan senangnya.
Nevan mulai lagi dengan aksinya, Zeline hanya menikmati apa yang di lakukan oleh Nevan. Memberontak pun juga percuma, dia tidak akan bisa. Tepat di tengah-tengah permainan mereka yang panas, Nevan membisikkan sesuatu di telinga Zeline.
"Lo... milik gue... Zeline... gak akan... ada orang... yang bisa ngerebutin lo dari gue... Zeline Andreas... " ujar Nevan dengan nafas terengah.
***
Jam sudah menunjukkan jam 4 subuh, Nevan terlelap dengan memeluk Zeline dari belakang yang sedang menangis. Tubuh polos mereka berdua hanya tertutup selimut. Perlahan Zeline bangun dari tidurnya dengan air mata yang tidak bisa berhenti.
Lo udah gak suci lagi, Lin. batin Zeline.
Zeline memakai kembali satu persatu pakaiannya. Setelah selesai, Zeline beranjak dari duduknya dengan berjalan terseok-seok karena merasakan sakit di area terlarangnya. Zeline membuka pintu dan keluar meninggalkan Nevan yang sedang tidur terlelap.
Suara bariton milik seseorang terdengar jelas di telinga Zeline. Zeline membalikkan tubuhnya dan mendapati Dominic yang sedang berjalan ke arahnya dengan Robert sekretarisnya.
"Kenapa lo diem aja waktu kakak lo berbuat hal itu sama gue?!" tanya Zeline penuh kebencian.
"Percuma juga. Nevan gak akan ngerti kalau dia gak ada bukti." jawab Dominic dengan santainya.
"Gue benci dengan keluarga ini!" kata-kata Zeline penuh penekanan sekali.
Setelah mengucapkan kalimat itu Zeline pergi meninggalkan rumah keluarga Leonardus. Dominic hanya menaikkan sebelah alisnya melihat kepergian Zeline.
"Lo benci pun, lo akan tetap jadi keluarga ini sebentar lagi. Lo gak akan bisa kabur sama sekali." lirih Dominic. "Nevan emang bodoh! Ciihhh!" lanjutnya lagi.
***
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Zeline langsung berteriak memanggil Papa, Mama dan Kakaknya sambil air mata yang terus menetes. Bahkan pelayan rumah pun berusaha untuk menenangkan Zeline.
Zeline menceritakan kejadian apa yang dia alami beberapa jam lalu kepada semua orang yang ada di rumahnya. Papa dan Mama Zeline menangis melihat anaknya yang baru saja di lecehkan, mereka berdua tidak bisa berbuat apa-apa karena urusan bisnis mereka juga bergantung kepada keluarga Leonardus. Ke 4 kakak Zeline mengepalkan tangannya kuat, mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa karena disana ada Dominic seorang mafia yang sangat mereka takuti.
Karena tidak bisa berbuat apa-apa, akhirnya mereka semua menuruti perintah Zeline untuk menyembunyikannya dari keluarga Leonardus. Anak sulung dari keluarga ini langsung bergegas untuk mencari keberadaan The Crazy Mobsters Detective.
Tepat pukul 6 pagi, kedua pihak antara keluarga Andreas dan The Crazy Mobsters Detective terjadi kesepakatan yang sama-sama menguntungkan. Zeline pun akhirnya di bawa oleh anggota The Crazy Mobsters Detective dan informasi tentang Zeline akan di tutup langsung oleh mereka. Dengan berat hati, Zeline meninggalkan rumah yang menjadi tempat dia tinggal selama ini.
"Lo tenang aja. Lo akan aman di tangan kita. Kita bakalan siapin semua kebutuhan lo setiap bulannya. Lo tinggal ngomong aja kalau lo mau sesuatu." ujar seorang wanita yang hanya terlihat matanya saja karena dia memakai masker dan topi, yang tak lain adalah Allisya.
Zeline hanya mampu untuk mengangguk saja karena dia juga masih di bayang-bayangi kejadian beberapa jam lalu.
"Dan... untuk sementara waktu lebih baik lo tinggal di markas kita untuk beberapa bulan ke depan. Karena gue mau masti'in lo hamil apa nggak. Dan waktu itu juga lo harus makan dan minum apa yang gak di perbolehi oleh ibu hamil. Lo ngerti kan apa maksud gue? Suka gak suka lo harus tetap lakuin hal itu kalau lo mau hidup bebas tanpa ada penghalang." lanjutnya lagi.
"Iya, gue ngerti. Tolong bantuin gue. Gue pasrahin semua sama lo dan temen-temen lo." jawab Zeline.
Allisya hanya tersenyum tipis mendengar jawaban Zeline. Sesekali dia juga melirik wanita yang ada di sampingnya yang sedang menatap kosong.
Tenang aja, lo bakalan aman sama gue. Gue juga butuh beberapa informasi dari lo. batin Allisya.
***
2 bulan kemudian...
Setelah 2 bulan akhirnya Allisya mengantarkan Zeline ke tempat tinggalnya yang baru, bukan di markasnya, tapi rumah persembunyian Zeline. Selama 2 bulan juga Allisya selalu memantau apakah ada janin yang tumbuh di dalam rahim Zeline, tapi ternyata tidak dan dia juga beberapa kali memanggil dokter untuk mengecek keadaan Zeline.
"Lo bakalan aman disini. Lo gak usah takut sama orang yang ada disini. Orangnya baik-baik. Gak ada yang jahat-jahat. Lo cuma perlu menyesuaikan diri aja. Kalau butuh apa-apa langsung hubungi Mikel, biar dia yang urus keperluan lo. Dan juga... gue akan ajak lo jalan-jalan kalau gue ada waktu. Semoga lo bahagia disini. Dan lo gak usah khawatir apa-apa, karena lo aman disini."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Allisya pergi meninggalkan Zeline di tempat kumuh itu, tapi Zeline menepisnya dan mencoba untuk menerima keadaannya yang saat ini.
Flashback Off
__ADS_1
Bersambung......