
Pagi ini Ken sudah bersiap-siap untuk ke rumah sakit. Dia juga sudah memasangkan alat-alat pada lengan dan kakinya. Dia sangat yakin untuk melakukan hal ini.
"Ken, lo yakin mau melakukan hal ini?" ujar Gevan.
"Di coba dulu, nanti kalau gagal ya gak apa-apa." jawabnya.
"Gue sedikit khawatir sama lo."
"Sudah, jangan mikirin gue. Lo tenang saja, gue juga gak akan di bunuh juga kok sama Dominic. Lagian ya, kalau Dominic bunuh gue dan kalau Allisya tahu, ya udah pasti hubungannya akan sangat buruk."
"Tapi lo harus ingat ya! Kalau udah ngerasa gak enak itu gak usah di lanjutkan!"
"Hmm."
Mereka berempat bergegas untuk pergi ke rumah sakit. Dominic juga sedang dalam perjalanan untuk ke rumah sakit.
***
Saat sampai di rumah sakit, mereka turun dari mobilnya. Mereka juga sudah melihat Dominic yang sedang duduk di kursi.
"Kalian sudah datang? Oke, kalau gitu ayo kita masuk berdua, Ken!" ujar Dominic.
Apa? Berdua? Kalau gue berdua sama lo, yang ada rencana gue gagal! Belum apa-apa sudah gagal seperti ini. Sial! ujar Ken dalam hati.
Ken mengikuti Dominic yang berjalan di depannya. Para bodyguard pun juga sudah baris di setiap sudut.
Hebat sekali. Dia melakukan ini semua agar aku tidak membawa Allisya? Benar-benar CEO Leo Corp. Sepertinya memang seharusnya gue lihat keadaan Allisya saja. ujar Ken dalam hati.
Dia tahu, dia sudah kalah semenjak kedatangannya tadi. Tapi baginya melihat keadaan Allisya sudah membuat hatinya merasa sedikit tenang.
Saat sampai di depan pintu sebuah ruangan, Dominic mematung.
"Kenapa lo berhenti?" tanya Ken.
"Allisya ada di dalam." jawabnya.
"Kalau gitu, kenapa lo berhenti?"
"Lo gak boleh megang dia! Lo cuma boleh lihat dan ngomong sama dia! Ngerti?"
"Terserah."
"Dan juga… waktu lo cuma lima belas menit, gak lebih!"
Dominic membuka pintunya. Seketika Ken tertegun melihat keadaan Allisya. Dia benar-benar sangat terkejut. Sahabatnya sedang sekarat saat ini. Ken menghampirinya dan berdiri di sebelah berangkar Allisya.
"Allisya apa yang terjadi denganmu? Kenapa lo jadi seperti ini? Seharusnya gue menentang lo dulu." ujar Ken sedih.
__ADS_1
Dominic terus memperhatikan gerak-gerik Ken, tidak ada yang dia lakukan sama sekali dan hanya mengucapkan beberapa kata tadi.
Nih anak sebenarnya niat gak sih menjenguk Allisya? Dari tadi cuma lihatin mulu. ujar Dominic dalam hati.
"Dominic, kenapa lo gak melakukan sesuatu buat Allisya? Lo bilang, lo akan bertanggung jawab tapi kenapa lo gak melakukan apapun ke Allisya? Apa lo memang mau buat Allisya sekarat? Sejak kecelakaan ini, lo sudah benci kan sama dia? Wajar saja kalau lo gak melakukan apapun." ujar Ken.
"Apa? Berani-beraninya lo berfikir seperti itu! Gue masih berusaha, cuma saja gue gak menunjukkannya!" ujar Dominic kesal. Ken diam, tidak menjawab ucapan Dominic.
"Waktu lo habis, silahkan keluar!" ujar Dominic.
Ken berjalan keluar ruangan Allisya. Dia berhenti dan menoleh ke belakang saat dia sudah sampai di ambang pintu.
"Gue gak mau tahu, lo harus tanggung jawab!" ujarnya pada Dominic.
"Lo tenang saja."
Setelah itu, mereka berdua pergi. Hanya ada pada bodyguard saja. Ken dan teman-temannya juga sudah pulang.
***
Saat sampai di markas mereka. Ken menceritakan kejadian saat dia masuk rumah sakit tadi dan melihat keadaan Allisya. Temannya pun juga mendengarkan dengan seksama apa yang di ceritakan Ken.
"Terus kita harus gimana?" ujar Mikel saat Ken sudah selesai bercerita.
"Gue gak tau. Gue pusing memikirkan ini. Rencana gue gagal!" ujar Ken meremas rambutnya frustasi.
"Kita serahkan saja ke Dominic. Gue yakin dia akan bertanggung jawab. Lagi pula dia juga pernah berbicara kalau dia mencintai Allisya kan? Mungkin dia akan melakukan segala cara untuk membuat Allisya sadar, itu mungkin." ujar Gevan.
Mereka diam tidak menjawab ucapan Ken. Apa yang di ucapkan Ken memang benar, mereka tidak tahu apa-apa dan mereka hanya bisa menebak saja tapi tidak tahu kenyataanya.
***
Saat makan malam di keluarga Leonardus, Dominic benar-benar sangat kesal. Bagaimana wanita jalang ini masih ada di rumahnya? Begitu pemikirannya.
"Siapa dia, ma?" tanya Arav kepada Kirana. Arav tidak tahu tentang Leli karena kemarin dia sedang dinas keluar kota.
"Dia Leli, pa. Dia anaknya teman aku… cantik kan?" jawab Kirana. Leli hanya tersenyum malu.
"Oh."
Arav tidak terlalu suka dengan Leli, karena Leli berpakain sangat ketat dan lumayan terbuka. Arav yakin sekali kalau Kirana sedang berusaha untuk mengenalkan Leli pada Dominic.
"Mampus lo. Kelamaan jomblo sih, makanya mama sampai bawa perempuan." ujar Nevan setengah berbisik di telinga Dominic. Dominic menatap jengah Leli tapi Leli menatap Dominic manis.
"Lo harus bantuin gue!" ujar Dominic juga setengah berbisik di telinga Nevan.
"Tenang. Karena lo udah bantuin gue dulu, maka gue akan bantuin lo sekarang." ujar Nevan.
__ADS_1
"Dominic, nanti kamu anterin Leli pulang ya?" ujar Kirana saat sudah selesai makan malam.
"Kenapa Dominic? Supir banyak kok, kenapa Dominic?" jawab Dominic ketus.
"Loh… kok kamu gitu sih? Kan kasihan Leli."
"Kan ada supir, ma."
"Tapi kan… "
"Dominic, pergi ke ruangan papa selesai makan malam. Kita harus berbicara soal dia!" sarkas Arav cepat memotong ucapan Kirana dan berjalan meninggalkan meja makan.
"Leli, nanti kamu pulang di anterin sama supir ya?" ujar Kirana kepada Leli.
"Iya, tante."
"Maaf ya."
"Gak apa-apa kok, tante."
Gak masalah kalau Dominic cuekin gue sekarang, tapi lihat saja dia pasti juga kepincut sama gue. ujar Leli kepedean dalam hati.
Sementara Dominic juga sudah ada di ruang kerja papanya.
"Makasih ya, pa."
"Kamu gak perlu berterima kasih, Dominic. Mama kamu memang seperti itu dari dulu, saking baiknya sampai semua orang dia anggap baik."
"Iya, pa."
"Kamu jangan kepincut sama dia. Dia itu sudah tidur sama beberapa laki-laki."
"Gimana papa bisa tahu?"
"Papa sudah mendengar kabar dari Kaila, kalau mama kamu membawa seorang cewek kesini. Jadi, papa juga menyelidiki cewek itu."
"Gitu ya."
Mereka diam sesaat, sampai Arav lah yang mengeluarkan suara terlebih dahulu.
"Papa udah cari Dokter terbaik untuk Allisya, dia akan datang besok." ujar Arav.
"Makasih pa."
"Saat Allisya sadar, kamu harus mengenalkan dia ke mama kamu. Kamu tahu kan kenapa? Supaya mama kamu berhenti cari calon buat kamu."
"Tapi… bukannya mama sudah tahu Allisya ya, pa?" tanya Dominic bingung.
__ADS_1
"Itu dulu, sekarang pasti dia tambah cantik." ujar Arav. Mereka berdua tertawa dan melanjutkan pembicaraan mereka tentang Allisya.
Bersambung......