
"Dan jangan lupakan panti jompo juga, mereka juga harus dapat bagian. Gue gak mau kalau ada yang tertinggal satu pun. Gue mau semua terbagi dengan rata dan gak ada yang tertinggal. Ken gue percayakan ini sama lo, jangan buat gue kecewa. Biasanya lo teledor jika menyangkut ini." lanjut Allisya.
Selama ini uang yang di hasilkan oleh mereka, mereka selalu membaginya dengan orang yang lebih membutuhkan. Tidak tanggung-tanggung juga mereka memberi sumbangan itu. Mereka tidak akan pernah bisa menghabiskan uang mereka jadi mereka lebih memilih untuk menyumbangkannya. Meskipun mereka jahat tapi hati mereka sangat baik.
"Tenang aja, gue pasti akan nuruti perintah lo barusan." ujar Ken.
Allisya duduk lagi di sofa dan berhadapan dengan Kaila lagi. Allisya bingung melihat sikap Kaila yang tidak takut padanya, kalau kakaknya memang tidak akan takut kepada Allisya. Tapi ini Kaila lo, gadis imut, polos bin lugu.
"Kenapa gak mau pulang? Apa gak sekolah besok?" tanya Allisya kepada Kaila. Kaila segera menggeleng dengan cepat.
"Nggak, Kaila gak sekolah." jawab Kaila.
"Kenapa?" tanya Allisya heran.
"Aku kalau sekolah cuma mau di antar sama kak Dominic karena kak Dominic gak ada jadi aku gak sekolah, karena bukan kak Dominic yang antar aku." jelas Kaila dengan nada polosnya.
"Ada Nevan kan? Kenapa gak sama Nevan?" tanya Allisya lagi.
"Aku gak suka kalau berangkat sekolah di antar sama kak Nevan!" jawab Kaila sambil memayunkan bibirnya.
"Kenapa?"
"Karena kak Nevan itu jahat! Dia suka banget marahin temanku, kan mereka jadi takut kalau mau dekat sama aku!" Allisya mengangguk mengerti, dia tahu kenapa Nevan bersikap seperti itu kepada teman-teman Kaila.
"Terus apa Kaila gak ngantuk?" tanya Allisya.
"Sebenarnya Kaila ngantuk banget, Kaila juga pengen tidur. Boleh numpang tidur gak?" jawab Kaila.
"Tentu. Ken yang akan antar kamu ke kamar."
Ken berdiri dari duduknya dan menyuruh Kaila untuk ikut dengannya. Tapi Kaila malah masih duduk bukan malah mengikutinya, Ken berdecak kesal melihat Kaila yang masih duduk.
__ADS_1
"Kenapa lo masih duduk? Lo mau tidur apa nggak?" tanya Ken. Kaila merentangkan keduanya sambil menatap Ken.
"Gendong." ujar Kaila dengan nada imutnya. Ken melotot mendengar ucapan Kaila. Dia menggendong Kaila? Sungguh sangat tidak mungkin.
"Enak aja lo! Lo punya kaki kan? Jalan sendiri sana!" ujar Ken penuh emosi. Kaila menurunkan tangannya.
"Ken, gendong dia dan bawa ke kamar." suruh Allisya. Ken melongo mendengar ucapan Allisya.
"Tapi Al... " Ken ingin menolak.
"Ada hal yang harus kita selesaikan. Gue gak mau membuang waktu gue, Ken." jelas Allisya singkat.
Dengan penuh keterpaksaan akhirnya Ken menggendong Kaila. Ken tidak merasakan apa-apa saat menggendong tubuh Kaila, tubuh Kaila sangat kecil, berat badannya juga tidak terlalu berat.
"Nama kamu Ken kan?" tanya Kaila. Ken tidak menjawab. Kaila menunjuk-nunjuk pipi Ken dengan jari telunjuknya.
"Mau mati ya lo!" ujar Ken penuh emosi.
"Kalau gitu jawab dong!"
"Ken, Ken, Ken, Kentang." ujar Kaila sambil mengeja nama Ken. Ken melotot saat Kaila menyebutnya dengan sebutan Kentang.
"Apa lo bilang? Kentang? Nama gue itu Ken, bukan kentang! Mau mati ya lo!" ujar Ken penuh emosi.
"Galak amat sih. Pokoknya aku mau manggil kamu Om Kentang, biar beda dikit sama yang lain." celetuk Kaila dengan entengnya, tidak tahu lelaki yang sedang menggendongnya ini sedang mati-mati'an menahan amarah.
"Apa lo bilang? Om? Om Kentang? Mau mati kayak gimana lo?! Mau gue lempar dari atas lo?! Gue bukan om, lagian muka gue juga gak kayak om-om amat!" ujar Ken yang berusaha untuk menenangkan dirinya agar tidak emosi.
"Ya pokoknya aku mau manggil gitu."
"Terserah!"
__ADS_1
"Kamu tau gak? Aku setiap mau tidur selalu di gendong kak Dominic sampai kasur aku. Badannya juga gede kayak badan kamu, jadi aku gak takut jatuh kalau di gendong kak Dominic." ujar Kaila yang tidak di respon oleh Ken. Kaila terus mengoceh kemana-mana kepada Ken, bercerita ini itu kepada Ken. Tidak lihat kalau wajah Ken sudah sangat merah menahan marah.
Ini jalan gue udah cepet banget tapi kenapa gak sampai-sampai ya?! Telinga gue rasanya mau pecah dengar dia terus mengoceh kemana-mana. Ken menggerutu di dalam hatinya.
Tak lama mereka sampai di kamar Kaila, Ken menurunkan Kaila di ranjang queen size itu. Kaila mengedarkan pandanganya melihat sekelilingnya, kamarnya terlihat seram tapi mewah.
"Apa gak ada kamar yang lebih cocok untukku?" tanya Kaila. Ken berdecak kesal.
"Ini markas gue. Ini markas dengan bentuk rumah. Ini itu markas detektif mafia, bukan rumah anak-anak! Lo lihat ruang tamu kan? Berarti lo bisa memprediksi gimana dalamnya kan?!" jelas Ken yang penuh emosi.
"Barang kali ada." jawab Kaila.
Ken sudah mau pergi dari kamar yang Kaila tempati, tapi tiba-tiba Kaila memegang tangannya.
"Apa?" tanya Ken.
"Aku gak berani tidur sendirian disini, om. Temenin yah?" Kaila mencoba untuk memohon.
"Kalau lo takut, kenapa lo gak pulang aja bodoh?!" Ken menunjuk kening Kaila.
"Aku pengen nginap disini sekali, kak Allisya juga gak ngelarang kok." ujar Kaila.
"Gue masih ada pekerjaan yang harus gue selesaikan. Gue gak bisa temenin lo tidur, lebih baik lo tidur sendiri dari pada gue tiduri lo nanti!" ucapan Ken membuat Kaila mengerutkan keningnya bingung.
"Tiduri aku? Maksudnya gimana coba? Om Kentang mau tidur di atas tubuh aku gitu? Tubuh Om Kentang kan besar, kalau Om Kentang tidur di atas tubuh aku, yang ada tubuh aku penyet nanti." ujar Kaila dengan polosnya. Ken menepuk jidatnya, lupa kalau gadis di depannya benar-benar sangat polos sekali. Ken duduk di sebelah Kaila.
"Heh! Lo denger ya omongan gue baik-baik! Gue lagi ada kerjaan, kerjaan gue numpuk dan harus di selesaikan. Lebih baik lo tidur sendiri, lo itu udah gede." ujar Ken sedikit lembut. Ken berdiri dari duduknya.
Cup.
Ken mengecup puncuk kepala Kaila, wajah Kaila merona malu. Setelah mengecup puncuk kepala Kaila, Ken pergi meninggalkan Kaila sendirian. Sementara Kaila sedang berguling-guling di atas tempat tidur sambil menyentuh kepalanya yang baru saja Ken cium.
__ADS_1
"Om Kentang cium aku? Pokoknya aku harus kasih tau kak Dominic kalau kak Dominic udah pulang." ujar Kaila dengan sangat senang. "Eh? Tapi kenapa om Kentang tiba-tiba cium kepala aku ya? Bodoh ah, yang penting udah di cium sama om Kentang." lanjut Kaila. Tak lama dia terlelap dengan tidurnya, mungkin karena pegal habis berguling-guling.
Bersambung......