CEO Tampan Vs Pramugari Cantik

CEO Tampan Vs Pramugari Cantik
Menjemputnya


__ADS_3

"Kenapa anda mencari saya, tuan?" ujar Allisya saat melihat kedatangan Dominic.


"Allisya, aku ingin menyelesaikan masalah ku denganmu." jawab Dominic.


"Saya tidak pernah ada masalah dengan anda."


"Allisya, jika kamu tidak mau menikah atau bertunangan denganku, setidaknya beri aku kesempatan untuk membuatmu mencintaiku."


"Gue gak pernah jatuh cinta sama sekali. Gue juga gak mau merasakan apa itu jatuh cinta. Kenapa lo selalu seperti ini? Harusnya waktu itu lo cukup mengagumi saja tanpa memberikan rasa." ujar Allisya.


"Allisya, apa kamu tidak senang aku mencintaimu?"


"Lo bertanya seperti itu ke gue, gue jawab gak. Karena gue gak mau jatuh cinta!"


"Kenapa?"


"Alasannya sudah jelas, jangan memperbelit masalah! Lo bisa cari perempuan yang lebih baik dari gue. Mana ada orang yang mau menikah sama psikopat."


Allisya memandang Dominic dengan sangat datar, sementara Dominic memandangi Allisya dengan sangat tajam. Dominic tidak tahu apa lagi yang harus dia lakukan, Allisya benar-benar menolaknya mentah-mentah.


"Jika mau mu seperti itu baiklah. Tapi beri aku kesempatan untuk mendekatimu." ujar Dominic.


Allisya memandangi Dominic dengan seksama, dia bisa melihat kesungguhan di mata Dominic. Bukan Allisya kalau sampai merasakan jatuh cinta. Jika, kedua belah pihak sama-sama egois itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Begitu pula dengan Dominic dan Allisya. Mereka tetap pada ego mereka. Allisya tetap pada pendiriannya dan tidak mau menerima Dominic. Sementara, Dominic tetap pada pendiriannya dan tidak mau melepas Allisya begitu saja.


"Gue beri lo kesempatan. Tapi, kalau sampai gue jatuh cinta sama lo maka gue harus pergi!" ujar Allisya.


"Kenapa?" tanya Dominic heran.


"Gue punya alasan sendiri. Lebih baik lo pergi dari sini!"


"Saat kamu sembuh, aku akan menjemput kamu dan mengajakmu jalan-jalan."


"Gue menunggu hari itu. Sekarang pergi, gue ingin istirahat!"


Dominic pergi dari kamar Allisya dan tersenyum senang. Bagaimana tidak senang, wanita yang selama ini dia incar akhirnya bisa dia dapatkan.


"Gimana? Lancar?" tanya Ken saat dia melihat Dominic turun dari tangga.


"Tentu saja. Gue selalu mendapatkan apa yang gue inginkan." jawab Dominic sedikit sombong.


"Berhati-hatilah, sekali lo mengecewakannya penyesalannya akan seumur hidup." ujar Ken memperingatkan.


"Gue tahu itu."


Dominic pergi meninggalkan markas Allisya dan menuju ke markas geng motornya.


***

__ADS_1


Saat dia sampai di markas besar Icepick Willie Alderman, dia di sambut oleh anggota geng motornya. Semua membungkukkan badannya melihat kedatangan Dominic. Dominic duduk di kursi kebesarannya dan menyuruh anggotanya untuk duduk.


"Gue akan terus disini setiap saat. Gue sudah keluar dari rumah keluarga Leonardus, jadi gue akan sering datang kesini. Gue akan cari uang dengan cara gue sendiri. Dan juga… gue mau ngasih tahu ke kalian, kalau gue di beri kesempatan oleh Allisya."


Semuanya yang ada di ruangan tepuk tangan mendengar ucapan Dominic.


"Gue akan membuat Allisya suka sama gue. Gue ingin kalian mengawasinya. Gue gak mau Allisya kenapa-kenapa. Gue akan menunjukkan tiga orang dari kalian."


Semuanya mendengarkan Dominic dengan seksama, tidak ada yang membuka suara sama sekali.


"Thomas, Jackson dan Jansen. Kalian awasi saja Allisya, jangan membuat masalah. Kalian cukup mengawasinya. Kalian mengerti?"


"Siap." jawab mereka serempak.


"Sekarang pergilah dan awasi dia. Markasnya ada di hutan XX. Jangan pernah mencari masalah dengan temannya atau nyawa kalian yang ada dalam bahaya! Sekarang pergilah!"


Mereka bertiga keluar dari markas mereka. Semuanya yang ada di dalam markas memandangi Dominic.


"Gue ingin istirahat. Kalau ada yang mencari gue, bilang saja gak ada." ujar Dominic meninggalkan mereka semua.


"Baik." jawab mereka bersama.


Mereka semua melanjutkan acara bermain mereka dengan bermain catur atau kartu dan ada juga yang sedang memasak.


***


Kakak, kakak sedang apa? Apa kakak sudah makan? Apa kakak baik-baik saja? Kak, aku disini rindu dengan kakak. Kenapa kakak pergi dari rumah? Kakak tidak perlu sampai pergi dari rumah. Aku tahu mama keterlaluan kak, tapi kakak tidak perlu sampai pergi dari rumah dan meninggalkan aku sendirian. ujar Kaila dalam hati sedih.


Kaila mengeluarkan ponselnya dari tasnya. Dia sedang menghubungi seseorang.


"Apa kak Dominic ada di rumahmu, kak Azka?" tanya Kaila kepada Azka.


"Tidak. Dia tidak ada di rumahku." jawab di seberang sana.


"Lalu, apa kakak tahu kak Dominic ada dimana?"


"Tidak, Kaila. Maaf ya."


"Kak, jangan berbohong padaku. Kak Dominic selalu ada di rumah kakak jika ada masalah kan? Tidak mungkin kak Dominic tidak ada disana."


"Aku akan memberitahumu keberadaan Dominic, tapi jangan bilang kepadanya kalau aku memberitahumu."


"Iya, kak."


"Dominic ada di markas besarnya, yaitu markas Icepick Willie Alderman."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Dia akan tinggal disana mulai sekarang. Aku meminta bantuanmu untuk membawa Dominic pergi dari sana. Aku tidak mau Dominic seperti ini. Dominic itu adalah anak keluarga terpandang, aku tidak mau jika image Dominic jelek gara-gara ini."


"Apa kakak tahu alamat markasnya?" tanya Kaila cepat.


"Ya. Markasnya ada di tempat XX. Hati-hati jika masuk disana. Aku sarankan jika mau masuk ke gerbang besar bertulisan Icepick Willie Alderman kesana lemparkan tanah, karena biasanya ada laser pendeteksi yang tidak terlihat dan itu bisa saja membunuhmu karena anggota tubuhmu tidak terdaftar disana."


"Baik, kak. Terima kasih, aku akan menjemput kak Dominic dan membawanya pulang."


"Ya, semoga berhasil."


Sambungan mereka pun terputus. Kaila dengan cepat memberhentikan taksi yang lewat baru saja. Dia berbicara kepada supir untuk membawanya ke tempat XX.


"Pak, bisa antar aku ke tempat XX?" ujar Kaila yang sudah masuk ke taksi.


"Maaf nona, saya tidak bisa mengantarkan anda kesana." jawab supir taksi tadi.


"Kenapa?" tanya Kaila heran.


"Tempat itu cukup terlarang, nona. Ada kabar jika orang yang masuk kesana tidak akan pernah bisa kembali lagi."


"Tapi saya mau kesana, pak!"


"Jika, anda mau tetap kesana, maka saya akan mengantarkan anda ke pinggir jalan dekat dengan tempat XX."


"Terus saya ke tempat XX nya bagaimana?"


"Anda bisa berjalan kaki, nona. Jika anda tidak mau lebih baik anda turun. Saya masih menyanyangi nyawa saya dan saya juga masih memiliki anak yang masih sekolah."


Kaila nampak berfikir sejenak dan mengiyakan pendapat dari supir taksi tadi. Tidak ada cara lain, hanya itu caranya. Berhenti disana atau tidak sama sekali. Kaila mematikan ponselnya, agar dia tidak bisa dilacak oleh para bodyguardnya.


***


Supir taksi tadi memberhentikan ke tempat tujuannya. Kaila turun dan berbicara kepada supir taksi tadi.


"Maaf, apa bapak bisa memberi tahu jalannya?" tanya Kaila.


"Lurus saja nona, ikuti saja jalannya. Ini jalan satu arah tidak ada arah lain. Saya harap anda tidak nekat."


"Terima kasih. Ini ongkosnya, pak. Saya akan menjemput kakak saya disini."


Setelah mendapatkan uang dari Kaila, supir taksi tadi pergi. Kaila memandangi jalanan ini. Sepi, sunyi bahkan bisa di bilang seperti rumah hantu.


Apa benar ini jalannya? Kalau sampai salah bagaimana? Tidak mungkin juga kak Azka menjebakku. Tapi, aku takut sekali.


Kaila mulai menyusuri jalanan yang dia pijak sekarang.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2