
Langsung datang 6 pelayan ke ruang tamu. Dominic menyuruh pelayan itu untuk mengantarkan Gevan, Alex dan Mikel ke kamarnya. Mereka bertiga pun juga ikut saja, karena mereka juga sudah mengantuk karena kemarin malam tidak tidur. Tentu saja itu adalah kebiasaan mereka, karena saat malamlah pekerjaan mereka akan menumpuk.
Dominic langsung menggendong tubuh Allisya dan pergi meninggalkan Nevan sendirian yang kebingungan. Ya, dia bingung mau kemana. Mau ke kamar Zeline pun nanti ada adiknya itu yang akan membuat rusuh dengannya. Nevan menghela nafas, lalu dia ikut naik ke atas juga. Untuk urusan Kaila, nanti saja saat dia sudah sampai ke kamar Zeline.
"Kak Nevan kok kesini?" tanya Kaila cemberut saat melihat Nevan masuk ke kamar Zeline dan mengganggu acara bermainnya.
Nevan duduk di pinggiran ranjang dan meraba tengkuknya. Bingung, itulah yang Nevan alami saat ini. Dia berfikir bagaimana caranya agar adiknya pergi dari kamar ini tanpa harus mengusir Kaila dengan terang-terangan.
Gimana ya? Nanti kalau gue usir terang-terangan dia nangis, nanti kalau dia nangis gue juga yang kena imbasnya. Terus gue harus gimana dong kalau gini ceritanya? Apalagi kalau sama gue bawaannya mewek terus nih anak, padahal gue juga gak ngapa-ngapain. Hadeuuh, bingung gue. batin Nevan dengan kebingungan yang melanda.
Kaila memang tidak terlalu suka dengan kakaknya Nevan, dia lebih suka dengan kakaknya Dominic. Tidak tahu kenapa, pokoknya dia tidak suka dengan Nevan. Mungkin karena Nevan tidak pernah merawatnya dulu dan hanya sibuk dengan dunianya sendiri, itu mungkin.
Nevan melihat jam yang ada di pergelangan tangannnya. Pukul setengah 12 siang, harusnya sekarang ini Zeline sudah makan dan harus istirahat agar tubuhnya lekas pulih.
"Kai, apa lo gak mau tidur? Inikan udah siang." ujar Nevan. Berharap Kaila menjawab iya dan pergi meninggalkan Zeline berdua dengannya.
"Nggak." jawab Kaila cepat sambil menggelengkan kepalanya. Sayang sekali harapan Nevan tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan.
"Kenapa?" tanya Nevan.
"Aku masih mau main sama kak Zeze." jawab Kaila senang.
Nevan tersenyum kecut mendengar jawaban dari Kaila. Dia menatap Zeline, berharap Zeline mengerti dengan keadaannya sekarang. Tapi yang ada Zeline menjulurkan lidahnya, mengejek Nevan.
"Kai, kak Zeze harus istirahat juga. Masa iya dia gak boleh istirahat. Kak Zeze kan lagi capek." ujar Nevan. Kaila beralih melihat Zeline.
"Kak Zeze mau istirahat? Kak Zeze capek?" tanya Kaila dengan nada imutnya.
__ADS_1
"Nggak kok, Kai. Kak Zeze gak capek." jawab Zeline dengan senyuman yang terukir dengan kemenangan.
Nevan mendengus kesal karena Zeline tidak mau menuruti instruksinya. Lihat saja nanti, batin Nevan.
Nevan sudah mau berkata lagi, tapi ketukan pintu membuat dia harus berhenti berbicara dan menyuruh masuk orang tersebut. Terlihat ada 3 pelayan yang datang, satunya membawa nampan yang berisi makanan dan minuman serta obat, satunya membawa nampan yang berisi buah, dan satunya lagi membawa nampan yang berisi baju ganti.
"Maaf tuan muda Nevan, nona muda Kaila dan nona Zeline. Maaf karena telah mengganggu waktu menyenangkan anda. Kami kesini untuk membawakan nona Zeline makanan, obat dan juga baju ganti. Kami sudah menyiapkan makanan sesuai dengan apa yang di sarankan oleh dokter untuk nona Zeline." ujar salah satu pelayan.
Nevan tersenyum sangat senang dengan kedatangan pelayan tersebut. Bagaimana tidak senang, karena pelayan itu yang akan membuat Kaila pergi dengan sendirinya. Sementara Kaila mengerutkan keningnya bingung, tidak mengerti dengan apa yang di katakan pelayan yang membawakan obat untuk Zeline, padahal setahu dia Zeline baik-baik saja. Dan Zeline panik ketakutan, karena sudah pasti Kaila akan pergi saat mendengar kalau dirinya sakit. Dan itu adalah tindakan yang buruk, karena saat Kaila pergi dia sudah tahu apa yang akan terjadi dengan dirinya dan Nevan.
"Kak Zeze sakit?" tanya Kaila dengan raut wajah kesedihan.
"Iya, kak Zeze sakit. Makanya lo harus biarin kak Zeze istirahat biar sembuh." cerocos Nevan.
"Aku gak tanya kak Nevan!" ujar Kaila sambil memayunkan bibir mungilnya itu. Kaila beralih menatap Zeline lagi. "Kak Zeze sakit apa?" tanya Kaila lagi.
Zeline kebingungan mau menjawab apa, dia berusaha untuk mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Kaila.
Kaila berdiri dari duduknya, dia memasukkan mainnannya ke dalam tas. Dia mengambil paksa mainan yang di pegang oleh Zeline. Zeline langsung pucat pasi saat melihat tindakan Kaila.
"Ya udah, kalau gitu aku juga mau istirahat juga. Aku sebenarnya juga capek sama ngantuk, jadi aku mau tidur biar gak sakit. Hoooaaaam." ujar Kaila sambil menguap.
"Eh, Kai! Tidur disini aja sama kak Zeze." ujar Zeline gelagapan.
"Gak mau! Kak Zeze sakit. Aku gak mau ketularan juga." tolak Kaila.
Kaila langsung menuju ke kamar yang sudah di siapkan untuk dirinya. Zeline langsung berdecak kesal melihat Nevan. Dia langsung menutup semua tubuhnya dengan selimut.
__ADS_1
"Taruh aja nampannya disana." ujar Nevan kepada pelayan tersebut sambil menunjuk ke arah nakas.
Pelayan tersebut mengangguk dan menaruh nampan mereka di atas nakas. Lalu mereka membungkukkan badan dan pergi dari kamar Zeline.
Sementara Dominic langsung membanting tubuh Allisya di ranjang king size miliknya itu. Dominic menindih tubuh Allisya dengan tubuhnya. Allisya hanya diam saja, tanpa ingin memberontak, wajahnya juga sama saja datar saat melihat Dominic.
"Al!" panggil Dominic.
Allisya mengerutkan keningnya, meminta jawaban kenapa Dominic memanggilnya. Dan tentu saja Dominic berdecak kesal melihat respon Allisya yang seperti itu.
"Kenapa diem aja?!" tanya Dominic kesal.
"Gak ada yang gue omongin." jawab Allisya singkat.
Dominic langsung membenamkan wajahnya di ceruk leher Allisya. Dia menghisap leher jenjang Allisya sampai berwarna ungu kebiruan. Allisya tidak memberikan reaksi apa-apa juga. Dan itu malah membuat Dominic semakin kesal.
"Lo kenapa dingin banget sama gue sih, Al?!" tanya Dominic sambil memeluk tubuh Allisya.
"Ini sifat gue. Gue gak dingin sama lo aja." jawab Allisya.
Sebenarnya Allisya sangat irit sekali berbicara, jika tidak penting dia juga tidak akan menjawab. Dia akan terus berbicara saat dengan Siska atau Kaila, karena mereka berdua sama-sama banyak omongnya. Kalau tidak di jawab mereka pasti akan marah dan mengoceh tidak ada henti. Berbicara dengan Dominic saja sebenarnya dia malas sekali, apalagi Dominic menyukainya juga. Itu malah membuat Allisya enggan sekali berbicara dengannya.
"Tapi kamu sama temen-temen kamu juga ngomongnya banyak." ujar Dominic.
"Kalau penting ya gue ngomong, kalau gak penting ya nggak." jawab Allisya.
"Apanya? Kamu ngomong gak penting aja juga banyak kok."
__ADS_1
"Mereka sahabat gue dari smp, makanya kenapa gue ngomong banyak sama mereka."
Bersambung......