
Sebenarnya Allisya sangat irit sekali berbicara, jika tidak penting dia juga tidak akan menjawab. Dia akan terus berbicara saat dengan Siska atau Kaila, karena mereka berdua sama-sama banyak omongnya. Kalau tidak di jawab mereka pasti akan marah dan mengoceh tidak ada henti. Berbicara dengan Dominic saja sebenarnya dia malas sekali, apalagi Dominic menyukainya juga. Itu malah membuat Allisya enggan sekali berbicara dengannya.
"Tapi kamu sama temen-temen kamu juga ngomongnya banyak." ujar Dominic.
"Kalau penting ya gue ngomong, kalau gak penting ya nggak." jawab Allisya.
"Apanya? Kamu ngomong gak penting aja juga banyak kok."
"Mereka sahabat gue dari smp, makanya kenapa gue ngomong banyak sama mereka."
"Gak adil tau gak!"
"Lo harus tau. Gue itu gak gampang percaya sama orang yang baru gue kenal. Gue butuh waktu beberapa tahun buat percaya sama mereka. Lo pikir gue temenan sama mereka itu langsung akrab gitu? Gak! Lo salah besar kalau mendefinisikan gue kayak gitu. Gue sama temen gue butuh waktu sekitar 2 tahun untuk saling mengerti keadaan. Begitu juga dengan mereka, mereka juga gak bisa langsung ngerti apa yang gue inginin." jelas Allisya.
Allisya dan ke empat temannya memang membutuhkan waktu selama kurang lebih 2 tahun untuk mengerti keadaan mereka masing-masing sebelum menjadi sahabat seperti sekarang. Selama 2 tahun itu juga mereka menunjukkan sisi buruk dan sisi kebaikan mereka. Dan disitulah mereka tahu sisi baik dan buruknya temannya.
Kita tidak bisa langsung begitu percaya dengan orang yang baru kita kenal, semuanya membutuhkan waktu dan juga proses. Ada juga yang sudah kenal sangat lama bahkan dari kecil juga, mereka menunjukkan sisi baik mereka saat di depan kita dan mereka akan menunjukkan sisi buruk mereka jika di belakang kita, dan kita harus waspada dengan hal itu.
Teman-teman Allisya sangat beruntung bisa mengenal Allisya dan menjadi sahabat baiknya. Di balik sifat dingin dan cueknya, dia menyimpan sejuta perhatian kepada orang terdekatnya dan orang yang dia sayangi. Jarang sekali Allisya menunjukkan perhatiannya secara terang-terangan, biasanya dia selalu mengawasi dari jauh.
"Al... " lirih Dominic.
"Gue seorang detektif Dom, gue berpengalaman dalam hal apapun, menguji nyawa sekalipun." ujar Allisya seolah-olah tahu apa yang ada di pikiran Dominic.
Dominic membaringkan tubuhnya di pinggir tubuh Allisya, tapi sebelum itu dia melepas heels yang di pakai oleh Allisya. Dominic memeluk Allisya dari belakang karena Allisya memungunginya.
__ADS_1
"Al." panggil Dominic.
"Hmm." hanya deheman yang keluar dari mulut Allisya.
"Gimana kamu tahu apartment aku? Dan juga gimana kamu tahu tentang Leli? Padahal dia juga baru beberapa kali ke rumah." tanya Dominic heran.
Kenapa Dominic bertanya demikian? Perlu kalian ketahui. Apartment yang sekarang ini di tempati oleh Dominic dan juga Allisya dkk adalah apartment tersembunyi. Hanya keluarga dan pelayan keluarga Leonardus yang tahu apartment milik Dominic yang terletak di tengah-tengah hutan ini. Bukan hutan, lebih tepatnya pekarangan yang masih belum sempat untuk di bangun sebuah bangunan.
"Lo lupa kalau gue detektif?" tanya Allisya.
"Gue gak lupa, gue cuma heran aja." jawab Dominic.
"Gue emang tau apartment lo ini, dan untuk persoalan Leli. Lo gak usah tanya lagi, lo tau kalau gue seorang detektif tersembunyi." jelas Allisya singkat.
"Dominic, gue mau tanya sama lo. Gimana bisa lo jadi seorang mafia yang di usia lo yang terbilang masih muda itu? Gue tanya sama lo langsung supaya gue gak susah nyari-nyari." ujar Allisya.
Dominic tersenyum senang dengan ucapan Allisya, tidak tahu karena apa. Mungkin karena Allisya menanyakan tentang hidupnya? Mungkin ya mungkin.
"Ceritanya panjang, Al. Aku bakalan ceritain ke kamu suatu saat nanti. Untuk sekarang ini aku gak lagi pengen cerita apa-apa sama kamu. Aku cuma mau tidur." jawab Dominic.
Allisya hanya mendengarkan jawaban Dominic tanpa harus menjawabnya. Perlahan-lahan mata Allisya mulai tertutup, dia juga lelah ingin istirahat. Dominic bisa merasakan tubuh dan hembusan nafas Allisya yang mulai tenang. Dominic menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dengan tubuh Allisya, lalu menyusul Allisya ke alam mimpi.
Panjang ceritanya sampai Dominic disebut oleh seorang mafia dan itu semua berawal dari dia saat berumur 16 tahun.
Sementara di kamar Zeline, Nevan di buat gemas dengan tingkah laku Zeline. Zeline terus saja menutup tubuhnya dengan selimut, ngambek. Nevan berdecak kesal sambil menyuruh Zeline untuk makan dan meminum obatnya.
__ADS_1
"Ze! Ayolah! Kamu gak usah kayak anak kecil juga!" ujar Nevan kesal.
Dia ingin kasar tapi takut kalau Zeline akan menjauhinya lagi. Tapi jika dia tidak bersikap kasar, Zeline akan terus ngelunjak.
"Gue gak laper!" teriak Zeline.
Habis sudah kesabaran Nevan. Nevan menaruh piringnya lagi di atas nakas. Dia langsung menarik paksa selimut yang menutupi tubuh Zeline. Zeline juga refleks ikut duduk juga.
"Lo bikin kesabaran gue habis tau gak! Muak gue! Lo tinggal ikutin apa yang gue omongin susah banget sih!" teriak Nevan menggelegar sambil meremas kedua lengannya.
Zeline melonjak terkejut dengan teriakan Nevan, Nevan pun juga terkejut dengan teriakannya. Zeline menatap Nevan dengan ketakutan, tubuhnya bergetar ketakutan, sudah ada genangan air di pelupuk matanya. Lagi, Nevan berteriak langsung di hadapannya setelah 4 tahun ini. Sakit, itulah yang Zeline rasakan saat ini. Padahal dia baru bertemu dengan Nevan setelah 4 tahun ini, dan inikah yang harus dia dapatkan?
Nevan menarik tubuh Zeline untuk berada di pelukannya, Zeline hanya menurut saja karena dia sedang ketakutan. Nevan mengelus rambut panjang milik Zeline dan mengecup puncuk kepalanya, berharap Zeline bisa tenang dengan perlakuannya saat ini.
"Maaf Ze, aku tadi gak sengaja. Aku bener-bener minta maaf sama kamu. Aku beneran gak sengaja. Aku tadi kelepasan." ujar Nevan meminta maaf.
Zeline hanya diam saja, dia masih ketakutan untuk menjawab ucapan Nevan. Nevan melepaskan pelukannya, dia menghapus air mata Zeline dan memandang wajah cantik yang selama 4 tahun ini menghilang dari hadapannya.
Cup.
Kecupan manis mendarat di bibir milik Zeline, Zeline hanya diam saja. Nevan mengambil piring yang berisi makanan itu lagi, dia menyuapkan satu sendok ke dalam mulut Zeline. Zeline hanya menurut saja karena dia sedang ketakutan saat ini. Nevan bisa melihat bibir dan tangan Zeline yang bergetar karena dirinya. Nevan merutuki kebodohannya di dalam hatinya.
Sial! Lo kenapa sih, Nev?! Baru aja ketemu, baru aja bisa ngomong sama dia, ngapain juga lo bentak dia?! Nanti kalau dia kabur lagi lo juga yang akan nyesel. Bodoh! batin Nevan merutuki kebodohannya itu.
Bersambung......
__ADS_1