CEO Tampan Vs Pramugari Cantik

CEO Tampan Vs Pramugari Cantik
Pilih kasih


__ADS_3

Dominic kembali ke rumahnya untuk meminta penjelasan kakaknya, Nevan. Saat dia sampai di ruang tamu, dia melihat ada mama Kirana, Nevan dan Kaila. Dominic duduk disofa.


"Kaila, kenapa tidak sekolah?" tanya Dominic kepada adiknya, Kaila.


"Aku sakit, kak." jawabnya. Dominic mengangguk mengerti, Kaila memang mudah sekali jatuh sakit karena tubuhnya yang lemah.


"Ngapain lo gak ke kantor?" tanya Nevan.


"Nev, dulu waktu lamaran lo di tolak sama Allisya, apa yang lo lakukan?" tanya Dominic kepada Nevan.


"Kenapa tanya itu? Jangan-jangan lo di tolak ya sama Allisya? Haha rasain lo, memang enak." ujar Nevan mengejek.


"Apa benar itu, Dominic?" tanya Kirana memastikan.


"Iya, ma."


"Mama sudah bilang kan sama kamu, Allisya pasti menolak. Kamu dulu waktu mama kenalkan sama anaknya teman mama, kamu menolak. Jika seperti ini jadinya, kamu mau bagaimana?" Kirana menuntut.


"Mama, kak Dominic itu sedang sedih. Kenapa mama malah berkata seperti itu? Mama, mama harus bersyukur kak Dominic bisa jatuh cinta lagi setelah sekian lama. Dulu waktu kak Nevan di tolak sama kak Allisya mama selalu menyemangati kak Nevan, tapi kenapa di saat kak Dominic sedang patah hati, mama tidak menyemangati dia? Aku tahu kalau mama sedikit berbeda jika memperlakukan kak Dominic, tapi setidaknya kasih dia semangat, ma. Mama jangan pilih kasih kepada anak. Itu tidak baik, ma." ujar Kaila menuntut mamanya.


Apa yang dikatakan Kaila memang ada benarnya. Kirana selalu memperlakukan Dominic dengan berbeda, tidak seperti Nevan dan Kaila.


"Dominic, mama tidak bermaksud untuk... " Kirana tidak melanjutkan ucapannya karena Dominic sudah beranjak dari duduknya dan menaiki tangga.


"Mama keterlaluan!" ujar Kaila meninggalkan mamanya.


Apa aku terlalu keterlaluan ya memperlakukan Dominic? Aku bukannya pilih kasih, tapi entah setiap pekerjaan yang di pegang Dominic selalu berdampak buruk. ujar Kirana dalam hati merasa bersalah.


Dominic pergi ke kamarnya, kepalanya seperti mau pecah sekali. Semua orang yang ada di dekatnya tidak menyanyanginya dengan tulus sama sesali. Bahkan, mama kandungnya sendiri juga seperti tidak tulus menyanyanginya.


"Kenapa hidupku penuh dengan lika-liku? Apa kesalahanku sampai aku di perlalukan berbeda dengan keluargaku? Selama ini aku selalu bersikap baik kepada mereka, tapi kenapa sikap baik mereka kepadaku selalu ada niat tersembunyi." ujar Dominic frustasi.


Tok… tok… tok…


"Kakak." panggil Kaila.


"Ada apa?" jawab Dominic dengan tidak membuka pintunya.


"Buka dulu pintunya."


"Tidak mau!"


"Baiklah kalau begitu. Kak, jangan terlalu di pikirkan. Aku yakin kak Allisya akan cinta dengan kakak. Kakak hanya perlu bersabar saja, tidak perlu terlalu gegabah."


"Ya, terima kasih atas sarannya. Sekarang pergilah, istirahatlah. Kau sedang sakit bukan?"


"Apa kakak tidak apa-apa?"


"Jangan khawatir."


Kaila meninggalkan kamar Dominic, jika seperti ini Dominic akan sulit di ajak bicara.


***


Saat sedang makan malam, Arav begitu bingung. Anaknya tidak lengkap, dimana anaknya yang satu lagi? Anaknya yang seorang mafia.

__ADS_1


"Dimana Dominic?" tanyanya.


"Ada di kamar." jawab Nevan.


"Kenapa? Apa dia tidak makan malam?"


"Ini semua gara-gara mama, pa!" Kaila mengadu.


"Kaila!" ujar Kirana.


"Kenapa memangnya? Apa mama memarahi Dominic?" tanya Arav kepada Kaila, karena seisi rumah ini yang jujur hanya Kaila saja.


"Kak Dominic baru saja di tolak oleh kak Allisya. Kak Nevan menertawakan kak Dominic, sementara mama menuntut kak Dominic karena kak Dominic tidak pernah mau jika di kenalkan oleh anak dari teman-temannya."


"Kirana apa yang kamu lakukan itu sudah sangat keterlaluan!" ujar Arav emosi.


"Pa, aku tidak bermaksud begitu."


"Lalu?"


"Aku hanya ingin Dominic tidak terlalu sakit hati jika di tolak dengan Allisya nanti."


"Caramu menghibur Dominic itu salah, Kirana! Kamu hanya mementingkan Nevan dan Kaila, apa kamu lupa kalau kamu juga memiliki anak bernama Dominic? Bersyukurlah Dominic masih menganggapmu seorang ibu! Ibu mana yang tega meninggalkan anaknya yang sedang sedih!" ujar Arav emosi dengan nada tinggi. Bahkan, Kaila sampai ketakutan melihat papanya.


Kirana menangis tersedu-sedu, dia benar-benar ibu yang gagal untuk Dominic.


"Tidak perlu menangisi kesalahanmu, penyesalan selalu datang di akhir!" ujar Arav meninggalkan meja makan.


Saat dia mau menaiki tangga, Arav melihat Dominic. Arav yakin kalau Dominic mendengar semua ucapannya.


Dominic tidak mendengarkan ucapan papanya dan berjalan keluar rumah.


"Dominic!" Dominic tidak menggubris panggilan papanya. Dia tetap berjalan keluar rumah.


"Kakak." ujar Kaila saat Dominic mau keluar dari gerbang.


"Apa?" jawabnya.


"Kakak mau kemana?"


"Bukan urusanmu."


"Tapi, ini sudah malam, kak. Kakak bisa sakit nanti."


Dominic tidak mendengarkan celotehan adiknya itu, dia berjalan keluar gerbang utama keluarga Leonardus. Sementara Kaila sedang berlari ke Arav.


"Papa." ujar Kaila.


"Ada apa, Kaila?"


"Kakak keluar rumah dengan berjalan kaki, pa."


"Apa?"


"Papa kejar dia, pa."

__ADS_1


"Robert segera susul Dominic sekarang!" ujar Arav kepada Robert di telpon.


"Kau akan menyesal dengan perbuatanmu, Kirana!" ujar Arav kepada Kirana yang sedang menangis tersedu-sedu.


Dominic sedang menelpon salah satu temannya.


"Jemput gue di jalan XX." ujar Dominic yang ada di seberang sana.


"Kenapa?"


"Udah, jangan kebanyakan tanya, jemput saja!"


"Oke."


Dominic masuk kedalam mobil temannya saat temannya sudah datang.


"Gue mau menginap di rumah lo." ujar Dominic kepada temannya.


"Kenapa? Tumben mau menginap?"


"Sudah, lo jangan kebanyakan tanya kenapa sih! Gue pusing saat ini, Azka."


Teman Dominic bernama Azka. Azka adalah tangan kanan Dominic jika sedang ada di dalam geng motor.


"Kenapa? Masalah keluarga lagi?" tanya Azka.


"Hmm."


"Terus, apa yang akan lo lakukan?"


"Gue gak tahu, mungkin gue akan undurkan diri sebagai CEO. Lebih baik gue jadi ketua geng motor saja."


"Terserah lo, semua keputusan ada di tangan lo."


Azka membawa Dominic ke rumahnya. Dominic tidak akan berfikir jernih untuk saat ini. Sementara di kediaman Leonardus sedang mencari keberadaan Dominic.


"Maaf tuan besar." ujar salah satu bodyguard kepada Arav.


"Ada apa?" jawab Arav.


"Saya melihat tuan muda Dominic di bawa oleh tuan Azka."


"Apa Dominic baik-baik saja?"


"Tentu, tuan. Tuan Dominic lah yang menelpon tuan Azka untuk menjemputnya. Apa saya perlu menjemput tuan muda pulang?"


"Tidak perlu, biarkan saja. Sekarang pergilah."


"Baik, tuan. Terima kasih." setelah itu bodyguard tadi pergi.


Arav begitu sangat pusing sekali. Dominic Pasti akan melakukan hal yang tidak-tidak jika seperti ini, bisa saja Dominic membunuh dirinya sendiri.


"Harusnya aku lebih memperhatikan Dominic lagi." gumam Arav.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2