
Jam menunjukkan pukul delapan pagi, Allisya sudah bersiap-siap. Allisya akan kembali lagi menjadi seorang Pramugari.
"Allisya, apa lo yakin mau kembali lagi? Lo kan belum sembuh." ujar Ken saat melihat Allisya sudah rapi seperti mau bepergian jauh.
"Sudahlah, gue baik-baik saja. Lagi pula gue juga gak langsung kerja kok, gue cuma mau kembali ke kontrakkan gue saja. Kasihan si Siska sendirian di kontrakkan." jawab Allisya sambil memakan sarapannya.
Siska adalah teman Allisya saat sedang bekerja. Siska juga seorang Pramugari. Tugas Siska sama seperti tugas Allisya, yaitu di bagian kantor. Siska tidak tahu apa-apa tentang Allisya, yang dia tahu Allisya adalah anak dari keluarga yang sederhana, selain itu Siska tidak tahu apa-apa. Siska juga tidak tahu kalau Allisya adalah seorang detektif dan psikopat.
"Kenapa lo gak berhenti saja menjadi Pramugari?"
"Gue tahu lo pasti berfikir kan kenapa gue jadi Pramugari, padahal gaji gue menjadi detektif lebih besar dan sepuluh kali lipat dari Pramugari. Pramugari itu cita-cita gue sejak kecil, kalau gue bisa jadi Pramugari kenapa harus nggak."
Mereka berempat mengerti dengan ucapan Allisya. Mereka juga tidak membantahnya. Mereka juga tidak melarang Allisya untuk menjadi Pramugari, tapi mereka hanya kasihan saja melihat Allisya yang bekerja di dua tempat sekaligus. Satu di bandara dan satunya lagi di markas.
Setelah selesai sarapan, Allisya membawa tasnya dari kamar dan memasukkannya ke dalam mobil.
"Allisya, gue gak berharap banyak sama lo. Tapi, gue berharap lo jaga kesehatan lo, itu saja." ujar Ken.
"Tenang saja, gue selalu sehat kok." jawab Allisya.
"Allisya, kapan lo akan menjemput Dominic?" tanya Ken tiba-tiba. Allisya yang mendengar ucapan Ken merasa curiga, padahal Ken yang menentang Allisya memberi kesempatan kepada Dominic.
"Kenapa lo tanya itu? Apa lo sudah berpihak ke Dominic?" tanya Allisya.
"Bukan itu maksud gue. Dominic ada di markasnya, markasnya penuh dengan laser pendeteksi. Kalau lo mau kesana lebih baik lo hati-hati." Allisya mengerutkan keningnya heran.
"Apa lo punya peta markasnya?" Ken mengangguk dan menyerahkan amplop coklat yang dia bawa tadi. Allisya membuka amplop itu dan membukanya satu persatu. Allisya menyeringai licik.
"Markasnya ada di satu jalan dan memiliki gerbang yang begitu besar, tapi kenapa harus ada laser pendeteksinya? Apa dia takut akan ada penyusup yang masuk ke markasnya? Licik sekali." ujar Allisya meremehkan.
"Soal itu gue gak tahu, tapi hampir semua wilayahnya terdiri dari laser pendeteksi. Gue berharap lo hati-hati." Allisya memasukkan kembali lembaran-lembaran itu ke dalam amplop tadi.
__ADS_1
"Lo tenang saja. Gue akan baik-baik saja. Gue Allisya gak akan pernah bisa tertipu dengan hal seperti ini." Ken mengangguk.
Allisya masuk ke dalam mobil, sebelum dia menancapkan gasnya dia berbicara kepada Ken.
"Ken, kirim nomor ponsel Dominic ke nomor ponsel gue!" ujar Allisya dan langsung meninggalkan Ken. Ken mematung mendengar ucapan Allisya.
"Apa? Nomor Dominic? Allisya, apa lo sudah gila? Gue gak tahu apa yang ada di pikiran lo itu. Lo benar-benar gila, Allisya!" ujar Ken berteriak.
"Sudahlah, kenapa sih lo harus memikirkan itu? Pikirkan saja tugas kita dan jangan banyak mengeluh soal Allisya!" ujar Gevan yang langsung meninggalkan Ken sendirian setelah mengucapkan kata-katanya tadi.
"Huh! Pokoknya gue gak akan ikut campur urusan lo itu, Allisya! Otak lo gak bisa di jangkau dengan otak manusia normal lainnya!" Ken masuk ke dalam markasnya.
***
Saat Allisya sampai di kontrakkannya, dia lupa bahwa kontrakkannya tidak ada garasi.
"Ck. Betapa bodohnya gue. Bagaimana bisa gue bisa lupa seperti ini? Lalu mobilku ini di taruh dimana?"
Tok… tok… tok…
Terdengar suara dari dalam untuk menunggu sebentar. Pintu terbuka dan Siska melihat Allisya.
"Allisya!" teriak Siska sambil memeluk Allisya.
"Siska, bisa tolong lepaskan. Aku tidak bisa bernafas." ujar Allisya.
Allisya akan bersikap baik kepada Siska, bukan karena Siska temannya tapi karena Allisya yang masih belum terbiasa dengan sikap polos Siska. Allisya selalu menggunakan kata-kata yang baik saat berbicara dengan Siska, karena Siska jarang mengerti bahasa yang digunakan Allisya saat berbicara dengan teman-teman detektifnya. Wajar jika Siska tidak mengerti bahasa seperti itu, karena Siska berasal dari desa bukan dari kota seperti Allisya.
"Ah iya, maaf. Kamu dari mana saja, Allisya? Aku mencarimu. Saat aku bertanya kepada suster, dia bilang kamu sudah pulang. Aku tentu saja merasa heran karena kamu masih sakit." ujar Siska sambil melepaskan pelukannya.
"Setidaknya izinkan aku masuk dulu, nanti aku akan jelaskan kepadamu semuanya."
__ADS_1
Mereka berdua masuk ke dalam kontrakkan mereka. Allisya masuk ke kamar untuk menaruh barangnya. Allisya mengeluarkan ponselnya dari tas kecil yang dia bawa tadi dan mengirimkan pesan kepada Alex.
"Bawa mobilku kembali ke markas. Di kontrakkan ku tidak ada garasi, jadi bawa mobilku!" pesan terkirim.
Allisya menaruh ponselnya di nakas tanpa melihat balasan dari Alex. Rumah kontrakkan yang Allisya tempati berlantai dua dan memiliki tiga kamar, satu di bawah dan dua di atas. Allisya dan Siska berada di kamar atas, sementara di kamar bawah kosong tidak ada yang menempati. Biaya sewanya lumayan murah untuk orang yang bekerja sebagai Pramugari.
Tok… tok… tok…
Siska mengetuk kamar Allisya dan membukanya perlahan. Siska memasukkan kepalanya terlebih dulu untuk melihat Allisya.
"Masuklah. Ada apa?" ujar Allisya saat melihat Siska.
Jujur saja Allisya tidak terlalu suka dengan sikap Siska yang terlalu polos. Bukannya benci dengan Siska tapi Allisya hanya takut terjadi apa-apa dengan Siska saat pulang kerja nanti, karena biasanya mereka pulang malam sekitar jam delapan malam. Sebenarnya mereka sudah mendapatkan tempat tinggal tapi mereka menolak, karena ada alasan tertentu.
"Ini, aku bawakan teh hangat dan juga biskuit. Kamu pasti masih sakit kan? Jadi aku membawakanmu ini." lihatlah betapa polosnya Siska, padahal jelas-jelas Siska melihat kalau Allisya sudah sangat baik-baik saja.
Ya ampun, Siska. Apa lo gak lihat kalau gue sudah baik-baik saja? Kenapa lo polos banget sih? Tidak! Lo bukan polos tapi lo lugu. ujar Allisya dalam hati.
"Terima kasih." ujar Allisya sambil mengambil satu biskuit yang diberikan Siska.
"Jelaskan, kenapa kamu bisa menghilang tiba-tiba?"
Allisya menceritakan semuanya kepada Siska, tentu saja dengan berbohong. Tidak mungkin Allisya bilang kalau dia di rawat oleh temannya yang berada di markas besarnya. Allisya hanya bilang kalau dia dirawat di rumah orang tuanya.
"Oh, jadi begitu ya. Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Aku sangat khawatir sekali." ujar Siska saat selesai mendengar penjelasan Allisya yang bohong tadi.
Lihatlah, gue membohongi lo saja, lo gak tahu. Gimana nanti kalau lo sampai di bohongi orang yang gak lo kenal? ujar Allisya dalam hati.
Siska keluar dari kamar Allisya dan menyuruh Allisya untuk istirahat. Allisya pun mengangguk dan membiarkan Siska pergi dari kamarnya.
Bersambung.......
__ADS_1