
Nevan memasuki rumahnya yang di sambut oleh beberapa pelayan. Nevan melihat ke semua penjuru rumah yang ada di ruang tamunya ini. Ada sebuah foto yang sangat besar bergambar wanita cantik sambil memakai gaun berwarna putih serta rambut yang di sanggul seperti wanita korea dengan kipas tangan yang dia bawa. Senyum secerah matahari terus Nevan pandang. Nevan berjalan mendekati foto itu dan menyentuh wajah yang ada di foto itu.
"Dimana kamu? Aku sudah lama mencarimu. Ayo tunjukkan keberadaanmu. Maka aku akan mengikatmu dengan tali pernikahan, agar kamu tidak bisa lari dariku. Aku berjanji akan selalu bersikap baik kepadamu tanpa menyakitimu. Kita akan hidup bersama selama-lamanya." gumam Nevan. Tanpa Nevan sadari ada butiran kristal bening yang keluar dari matanya. Nevan segera menghapus air matanya, dia berbalik dan menatap pelayan ada di depannya ini.
"Kalian rawat foto ini dengan baik! Kalau sampai rusak sedikit saja, aku akan membunuh kalian!" ujar Nevan penuh penekanan. Semua pelayan itu mengangguk.
Nevan berjalan ke atas menuju ke sebuah ruangan yang tidak pernah dia buka selama lima tahun ini, hanya pelayan yang masuk ke ruangan itu untuk membersihkan ruangan itu. Saat sampai di depan pintu ruangan itu, Nevan menghela nafas dan mulai membuka pintunya. Di ruangan ini terdapat sebuah gaun yang sangat indah. Gaun yang di desain sebagus mungkin dan seindah mungkin untuk calon istrinya. Waktu pembuatan gaun ini pun membutuhkan waktu yang lama, hampir enam bulan lamanya. Nevan mendekati gaun itu dan menyentuhnya. Nevan mengitari gaun yang ada di depannya, melihat apa ada yang kurang atau tidak. Gaun yang memiliki kristal murni di setiap kainnya dan taburan emas murni di area bawah gaun.
"Gaunnya sudah lama jadi, tapi bagaimana bisa calon pengantinnya tidak pernah mengenakan gaun ini? Dimana kamu? Ini adalah gaun yang pernah kamu impikan bukan. Aku sudah membuatkannya untukmu, dan sekarang kamu harus membayarnya dengan pernikahan kita. Apakah masih ada namaku di hatimu? Atau namaku sudah hilang dari hatimu? Dan berganti dengan nama lelaki lain? Jika memang ada nama lelaki lain di hatimu maka aku harus membunuhnya. Kamu hanya milikku seorang, tidak akan pernah menjadi milik orang lain!" ujar Nevan.
Nevan keluar dari ruangan itu dan menuju kamar utama. Dia membaringkan tubuhnya di ranjang yang berukuran king size itu. Menatap langit-langit kamar dan membayangkan dia sedang bermain dengan istri dan anaknya. Nevan memejamkan matanya dan mulai pergi ke alam mimpi.
Sementara di sebuah caffe yang sudah di pesan secara private terdapat dua orang perempuan yang memiliki kepribadian yang berbeda dan bisa di katakan sangat jauh berbeda. Yang satu "Mencari informasi dan membunuh musuh adalah prioritas utamaku. Membunuh itu adalah keahlianku. " dan yang satunya lagi "Mencoba bertahan hidup di situasiku sekarang ini adalah pilihan yang sangat buruk bagiku." Dua wanita ini sedang membahas masalah yang sudah bertahun-tahun tapi tidak menemukan jawaban.
Satu wanita memakai pakaian serba hitam serta topi bundarnya, dan jangan lupakan juga lipstick semerah darah sedang melekat di bibirnya sekarang ini. Satunya lagi memakai baju dengan setelan berwarna pink dan putih serta rambut yang di kuncir kuda, dia nampak sangat manis sekali.
__ADS_1
Braakkh.
Suara gebrakan meja terdengar sangat keras di ruangan ini.
"Apa lo sudah gila?! Kenapa lo kasih tahu dia tentang keberadaan gue?! Apa kurang uang yang di berikan keluarga gue buat lo?!" ujar wanita yang berpakain manis itu.
"Uang yang di kasih keluarga lo ke gue itu udah lebih dari cukup. Apa lima tahun ini lo menghukum dia masih belum cukup?" ujar wanita yang berpakain hitam itu.
"Allisya, gua gak menghukum dia tapi gue gak mau ketemu sama dia di sisa hidup gue sekarang ini!"
Ya, wanita yang serba berpakain hitam dengan lipstick merah darah itu adalah Allisya si detektif tersembunyi. Allisya sedang menemui seorang wanita yang selama lima tahun ini dia sembunyikan.
"Sangat sangat sangat benci! Gue sangat benci sama dia sampai ke ujung kukunya! Dia udah merebut mahkota gue tanpa alasan yang jelas dan tidak pernah mempertanggung jawabkan perbuatannya itu!" ujar wanita itu. Allisya hanya menatap datar wanita yang ada di depannya ini. Wanita yang sedang di selimuti oleh kebencian yang sangat besar.
"Gue pusing lihat lo. Gue gak bisa menutupi keberadaan lo terus-menerus. Gue punya banyak urusan, urusan gue gak cuma lo tapi banyak."
__ADS_1
"Gue gak mau tahu, kalau sampai dia bertemu sama gue atau dia mencari keberadaan gue lo harus bawa gue pergi jauh!"
"Gue gak mau! Lo itu sedang di cari sama Nevan, seharusnya lo itu bersyukur Nevan cari lo."
"Apa? Apa gue gak salah dengar? Nevan nyari gue? Haha. Ngaco deh lo! Sampai tubuh gue membusuk pun Nevan gak akan pernah cari gue! Kalau dia nyari gue, kenapa dia melamar lo, Allisya? Apa gue ini mau dia jadikan istri keduanya gitu? Setelah dia menikah sama lo karena dia pernah mengambil mahkota gue?!"
"Jaga mulut lo itu!" Allisya mulai terpancing emosi. Sampai kapanpun wanita yang ada di depannya ini tidak akan pernah menampakkan dirinya kepada dunia dan dia akan terus bersikap brengsek seperti sekarang ini.
"Lalu, apa maksudnya? Gue gak akan pernah mau ketemu sama dia. Gue gak mau, Allisya. Gue takut. Kalaupun gue bertemu sama dia, gue akan bunuh diri langsung supaya dia gak bisa mengejar gue." nada bicaranya sudah mulai merendah dan sudah di iringi dengan air mata.
"Apa salah gue? Sampai dia berbuat gitu ke gue? Ini bukan salah gue. Gue gak pernah mengharapkan pertemuan apapun dari dia atau dari keluarganya." lanjut wanita itu.
"Ini memang bukan salah lo. Ini murni kesalahan Nevan sendiri. Nevan memang bodoh." ujar Allisya.
"Sekarang ini gue udah gak mau bantu lo lagi. Gue mau kasih sedikit nasehat sama lo. Berdamailah sama Nevan, Nevan itu lelaki baik hanya saja dia di rasuki oleh pikiran-pikiran buruk. Gue yakin hati lo itu masih untuk Nevan kan, lo gak bisa membohongi perasaan lo sendiri. Nevan emang udah menggoreskan luka di hati lo, tapi Nevan sendiri yang bisa mengobati luka lo itu. Berdamailah sama dia dan berdamai sama masa lalu lo. Suatu hari jika lo ketemu sama dia jangan pernah menghindar." lanjut Allisya sambil beranjak dari duduknya. Dia mengambil tas dan memakai kacamata hitamnya. Dia mulai berjalan keluar ruangan private itu, meninggalkan wanita itu sendirian.
__ADS_1
"Gue gak mau ketemu sama Nevan. Gue benci sama dia. Kalau gue berdamai sama Nevan apa gue akan baik-baik aja atau malah sebaliknya. Allisya, lo benar-benar gila." gumam wanita itu.
Bersambung......