CEO Tampan Vs Pramugari Cantik

CEO Tampan Vs Pramugari Cantik
Kaila gagal


__ADS_3

Kaila masih tetap pada pendiriannya, dia memang takut berjalan sendirian disini tapi itu tidak menghentikan tekatnya untuk mencari Dominic. Sesekali dia menoleh ke belakang berharap ada orang yang lewat, tapi hasilnya nihil tidak ada orang yang melewati jalan ini sama sekali.


"Ya ampun, aku lelah sekali. Kenapa supir taksi tadi berhenti disana? Memangnya ada apa dengan tempat ini? Perasaan juga tidak apa-apa."


Kaila terus menyusuri jalan tanpa memperdulikan lelahnya, bahkan keringat sudah banyak sekali. Dia seperti habis mandi.


Kaila berhenti saat melihat gerbang besar dan dia mendongakkan kepalanya.


"IWA, Icepick Willie Alderman." gumamnya pelan.


"Jadi ini markasnya, tidak sia-sia aku kesini." ujarnya.


Kaila mendekat ke gerbang dan melemparkan tanah ke arah depannya. Dan, benar saja banyak sekali laser pendeteksi.


"Astaga, ini tidak mungkin aku melewatinya. Banyak sekali laser pendeteksinya. Apa tidak ada jalan lain ya?" ujarnya.


Kaila melihat ke sekelilingnya untuk mencari jalan lain tapi hasilnya nihil. Dia juga ingat kalau jalan ini adalah jalan satu arah.


"Lalu, bagaimana aku melewatinya jika seperti ini?" tanyanya pada seorang diri.


Kaila terus memandangi laser tadi, sesekali lasernya ada yang mulai memudar. Dia menghela nafas berat. Dia sudah jauh-jauh datang kesini dan tidak mungkin dia kembali tanpa membawa kakaknya.


Kaila mengeluarkan ponselnya dan menghidupkan kembali ponselnya. Dia melihat ada telpon yang tak terjawab dari para bodyguardnya tapi dia tidak menggubris itu dan menekan nama kakaknya.


Tut… tut… tut…


Sambungannya tersambung dan Kaila tidak akan menyia-nyiakan ini.


"Ada apa?" ujar di seberang sana.


"Kak, aku ada di markas mu." ujar Kaila.


"Itu tidak mungkin."


"Aku tidak berbohong, kak. Aku ada di depan markas mu sekarang. Kakak tidak mungkin memiliki CCTV kan disini, lihatlah aku sedang menunggu di gerbang."


Dominic keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang CCTV, dan benar saja adiknya Kaila ada disana.


"Kaila, apa yang kamu lakukan? Kenapa datang kesini?" ujar Dominic tidak suka.


"Kak, aku akan menjemputmu dan membawamu pulang."


"Jangan membuat masalah! Jika sesuatu hal terjadi padamu, maka kakak yang akan kena masalah!"


"Aku tidak peduli. Yang penting sekarang aku mau masuk kesana!"


"Jangan nekat, atau kamu akan mati!"


"Biarkan saja."


Kaila melangkahkan kakinya dan membuka gerbang tersebut. Dominic sudah merasa khawatir dengan tindakan Kaila, dia mematikan laser pendeteksi tersebut agar tidak terjadi sesuatu kepada Kaila.


Tunggu! Kenapa tidak terjadi apa-apa? Tadi kan ada laser tapi kenapa tubuhku baik-baik saja? ujar Kaila dalam hati.

__ADS_1


Kaila terus melewati jalan itu dan dia melihat ada beberapa anggota geng motor menghampirinya. Geng motor tadi berhenti di depan Kaila.


"Lo Kaila?" tanya salah satu dari mereka.


"Iya, kenapa memangnya?" jawabnya ketus.


"Kenapa lo datang kesini? Dominic gak suka lo ada disini!"


"Gue mau ketemu kakak gue!"


"Tapi Dominic gak mau ketemu sama lo!"


"Ya… gue gak mau tahu. Pokoknya gue harus ketemu sama kakak gue!"


Kaila berjalan melewati mereka tapi sayangnya tangannya di cekal oleh mereka.


"Lepasin gue!" ujarnya sedikit berteriak.


"Lo pergi dari sini. Dominic gak mau ketemu sama lo!"


"Pokoknya gue mau ketemu sama kakak gue! Lepasin gak!"


Kaila terus meronta-ronta untuk melepaskan tangannya, tapi tentu saja dia kalah tenaga. Kaila diam sejenak dan memikirkan cara agar dia bisa masuk ke dalam markas kakaknya itu.


"Seenggaknya izinkan gue masuk sebentar saja. Sepuluh atau lima belas menit saja itu gak masalah yang penting gue bisa masuk." ujar Kaila.


"Gue sudah bilang sama lo! Dominic gak mau ketemu sama lo!"


"Gak mungkin kak Dominic gak mau ketemu sama gue. Gue itu adiknya!" ujar Kaila terisak.


"Seenggaknya izinkan gue masuk untuk melihat keadaannya."


Mereka tetap tidak mengizinkan Kaila masuk dan terus memegang tangan Kaila. Kaila sudah terisak tapi mereka tidak menggubrisnya. Salah satu dari temannya berbisik kepada laki-laki yang memegang tangan Kaila.


"Lo gue izinkan masuk, tapi cuma sepuluh menit!"


"Iya." jawab Kaila cepat.


Mereka membawa Kaila ke markasnya. Saat sampai di depan markas kakaknya, Kaila sangat tertegun. Tempatnya begitu sangat menyeramkan. Semua anggota sudah berkumpul di depan markas. Kaila tidak tahu kenapa semua berkumpul di depan markas.


"Dimana kak Dominic?" tanya Kaila.


"Dia akan segera datang."


Kaila melihat kakaknya berjalan menghampirinya. Kaila sangat senang sekali mengetahui kakaknya baik-baik saja. Dominic menghampiri Kaila.


"Kenapa?" tanya Dominic kepada adiknya.


"Kak, ayo pulang." jawab Kaila.


"Gue gak mau!"


"Kenapa?" tanya Kaila yang sudah berurai air mata.

__ADS_1


"Gue gak mau terus-menerus seperti ini, gue gak mau! Kaila, gue gak pernah di anggap disana!"


"Tapi, aku menganggap kakak disana."


"Itu lo, sementara mama gak. Gue selalu terkucilkan disana. Gue gak mau, Kaila!"


"Kak, aku mohon kakak pulang dulu ya. Papa pasti akan menjelaskan semuanya sama kakak."


"Gak ada yang di jelaskan lagi Kaila, semuanya sudah jelas!"


"Tapi kak… "


"Pergilah dari sini, ini bukan tempat yang sesuai untukmu."


"Aku gak mau pergi tanpa kakak!" ujar Kaila berteriak.


"Bawa dia pergi!" ujar Dominic menyuruh salah satu anggotanya.


Mereka menyeret Kaila, Kaila pun meronta-ronta dan memanggil nama Dominic.


"Kak, jangan begini!" ujar Kaila berteriak sambil tersedu-sedu. Dominic tidak menggubris ucapan Kaila dan pergi masuk ke dalam markasnya.


Kaila sudah berada di depan gerbang markas Dominic. Dia di lempar oleh mereka sampai Kaila terjatuh, bahkan lututnya sampai mengeluarkan darah.


"Kenapa kalian selalu menuruti ucapan kakakku?" tanya Kaila terisak.


"Karena dia adalah ketua kami. Jangan pernah datang kesini lagi!" setelah mengatakan itu, mereka pergi meninggalkan Kaila sendirian.


Kaila terus memandangi gerbang yang lama kelamaan akan tertutup sendiri. Dia tahu, dia pasti gagal membawa kakaknya pulang. Kaila berdiri dan berniat pergi dari sini. Dia menoleh melihat gerbang itu lagi, tidak ada tanda-tanda datangnya mereka, Kaila pun melanjutkan jalannya dengan kaki yang sedikit pincang karena lututnya yang terluka.


Saat Kaila berada di tempat yang di berhentikan taksi tadi, dia menelpon bodyguardnya untuk menjemputnya di tempat XX. Kaila terus menunggu bodyguardnya untuk menjemputnya. Kaila masih terus menangis tanpa berhenti sedikitpun. Dia semakin terisak saat mengingat-ingat kata-kata kakaknya tadi.


"Kenapa kakak jahat sekali padaku? Memangnya apa salahku? Kakak marah kepada mama tapi kenapa harus aku yang kena juga? Apa kakak sudah tidak sayang aku? Jika kakak masih sayang padaku, pasti kakak mau menuruti permintaanku tadi. Kenapa kakak seperti ini?" gumam Kaila.


Akhirnya bodyguardnya datang menjemput Kaila.


"Nona, apa nona baik-baik saja?" tanya mereka berdua.


"Apa aku terlihat baik-baik saja?" tanya Kaila balik.


"Tidak, nona. Anda terlihat tidak baik-baik saja. Ayo kita pulang."


"Dimana papa?"


"Tuan besar ada di perusahaan, nona."


"Antar aku kesana!"


"Nona, anda sedang tidak baik-baik saja. Lebih baik kita pulang saja."


"Antar aku kesana atau aku akan pergi kesana sendiri!" ujar Kaila berteriak.


Bodyguardnya pun menuruti perintah Kaila dari pada terjadi sesuatu kepada Kaila. Saat di mobil Kaila masih terisak dan tidak berhenti menangis.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2