
Allisya pernah ada niatan untuk mengoperasi matanya, tapi tidak jadi. Karena dia sadar, apa yang di berikan Tuhan harus dia syukuri dan bukan malah mengubahnya. Oleh sebab itu kenapa Allisya ingin sekali menikah dengan orang luar negeri, agar anaknya juga memiliki warna mata yang indah. Itupun jika dia berjodoh dengan orang luar negeri, jika tidak maka dia hanya bisa menerima kenyataannya dan bersyukur kepada Tuhan.
"Kalau begitu, ayo menikah denganku. Supaya anak kita nanti punya warna mata sepertiku." ajak Dominic bersemangat.
"Gak usah mikir yang aneh-aneh! Gue gak mau!" ujar Allisya.
"Kenapa?" tanya Dominic.
"Gak apa-apa, gak ada alasan juga." jawab Allisya acuh.
Cup.
Cup.
2 kecupan manis mendarat di kedua mata Allisya. Allisya bisa melihat keseriusan di mata Dominic.
"Mata kamu juga bagus kok." puji Dominic. Allisya tidak menjawab.
Dominic mengangkat tubuh Allisya seperti dia menggendong anak kecil, Allisya pun refleks mengalungkan kedua kakinya di pinggang Dominic. Dominic membaringkan tubuh Allisya di ranjang king size itu, dia melepas heels yang di pakai Alliya, dia pun juga ikut berbaring di samping tubuh Allisya.
"Aku ngantuk, ini juga udah siang. Kita tidur ya." ujar Dominic yang sudah memejamkan matanya.
Dia memeluk tubuh Allisya dari belakang, karena Allisya membelakanginya.
"Hmm." hanya sebuah gumam'an yang keluar dari mulut Allisya.
Mereka berdua pun akhirnya tidur, jarang-jarang juga Allisya tidur siang seperti ini, apalagi kemarin dia juga tidak tidur sama sekali.
***
Malam sudah tiba, Gevan, Alex dan Mikel sedang duduk termenung di depan kamar Kaila. Sudah ada beberapa cara untuk membuka pintu, bahkan Mikel juga sempat mau memecahkan jendela tapi terhalang oleh lemari yang begitu berat. Mereka bertiga duduk sambil termenung. Tiba-tiba saja Ken datang sambil mendengus kesal melihat mereka bertiga. Ken berdiri di depan pintu kamar Kaila.
Braaakkh.
__ADS_1
Praaanggg.
Pyyaaarrr
Ken berhasil mendobrak pintu kamar Kaila, segala yang ada di belakang pintu tadi pecah berserakan. Kaila menoleh ke arah Ken. Rambut acak-acak'an, mata sembab dan baju yang lusuh, serta mainan game online Mobile Legend yang masih menyala. Kaila tidak memperdulikan Ken, dia melajutkan permainan game onlinenya. Kaila beberapa kali menang karena dia sedang kesal dan kekesalannya berubah menjadi seorang gamers pro.
"Kai." panggil Ken dengan sangat geram.
"Apa?" tanya Kaila tanpa mengalihkan pandangannya.
"Mandi dan pergi buat makan malam sekarang juga!" jawab Ken.
"Gak mau!" Ken bersedekap dan melihat Kaila.
"Besok kakak kesayangan lo itu datang kesini dan akan pulang sama lo. Apa lo mau lihat kakak lo ilfil sama penampilan lo yang sekarang." mendengar ucapan Ken membuat Kaila berbenti memainkan game onlinenya.
"Serius, om?" tanya Kaila dengan mata yang berbinar.
Kaila langsung masuk ke kamar mandi dan mulai membersihkan tubuhnya. Gevan, Alex dan Mikel langsung tercengang melihat Kaila yang tiba-tiba tersenyum saat mendengar nama Dominic.
"Kalian payah!" ujar Ken kepada mereka bertiga.
"Namanya juga gak pernah ngurus bocah, Ken!" ujar mereka bertiga dengan serempak.
"Cih! Siapin makan malam dan jangan kebanyakan ngomong! Besok cari orang membenarkan pintu ini." ujar Ken yang langsung melenggang pergi.
Mereka bertiga kembali ke kamar masing-masing, dan Alex pergi ke dapur untuk memasak. Jika kalian bertanya kenapa Alex yang memasak, apa tidak ada pembantu? Mereka bisa saja menyewa pembantu dengan gaji yang di atas rata-rata, tapi jika memasak itu adalah urusan Alex. Karena cita-cita Alex adalah seorang Chef dulu, tapi cita-cita itu sirna saat dia di hujat tidak pandai memasak. Akhirnya Alex lebih memilih untuk ikut bersama dengan Allisya dari pada dia di hujat terus menerus.
Lalu siapa yang membersihkan rumah mereka, apa mereka? Tentu tidak, setiap jam 4 pagi akan ada beberapa seorang pembantu yang membersihkan rumah mereka. Pembantu itu juga di bayar untuk menutup mulut mereka tentang markas Allisya, karena itu termasuk kontrak perjanjian. Mereka mendapatkan gaji 3 kali lipat dari gaji biasanya. Jika sampai informasi markas bocor karena ulah mereka, siap-siap saja untuk kehilangan lidah dan mata mereka, dan ini juga sudah menjadi perjanjian kontrak. Jadi mereka tidak akan berani untuk membicrakaan markas Allisya, bahkan mereka juga masih ketakutan jika sedang membersihkan, padahal sudah lebih 3 tahun mereka bekerja disini.
Akhirnya mereka berlima menikmati makan malam, hanya ada dentingan sendok yang memenuhi ruang makan itu.
"Kenapa gak di habiskan?" tanya Alex saat Kaila sudah menaruh sendoknya dan menjauhkan piringnya.
__ADS_1
"Udah habis, om." jawab Kaila.
Alex melihat piring itu masih ada brokoli yang masih banyak, karena setiap makan malam hanya makanan ringan saja, tidak cukup baik jika makan malam dengan makanan berat. Mereka menerapkan pola makan seimbang setiap hari, tapi jika sedang ada di luar mereka akan memakan makanan yang ada di menu saja dan sesuai selera. Dan menu makan malam kali ini adalah capcay, dengan isian sayuran, sosis, udang dan beberapa bakso. Dan Kaila memakan semua itu habis, kecuali brokoli, dia tidak memakannya.
"Itu masih ada brokoli kok." ujar Gevan.
"Aku gak suka brokoli, om." ujar Kaila.
"Kenapa?" tanya ketiga laki-laki itu, kecuali Ken.
"Bentuknya kayak otak. Aku kalau makan brokoli kayak makan otak manusia. Aku bukan zombie yang makan otak manusia. Aku kalau makan brokoli, bawaannya pengen muntah terus." jelas Kaila.
"A-apa? O-otak?" ujar Mikel gelagapan. Isi di dalam perutnya ingin keluar saat mendengar nama otak jika sedang memakan brokoli.
"Iya, kayak otaknya manusia." ujar Kaila tanpa ada rasa bersalah. Ya karena memang dia tidak bersalah, karena selera orang berdeda-beda. Mikel langsung menjauh ke meja makan dan berjalan ke kamar mandi dapur.
"Kenapa sama om Miki?" tanya Kaila bingung sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Jangan ngomong soal otak jika sedang makan brokoli, itu akan membuatnya muntah karena memang bentuk brokoli sama kayak otak." jawab Ken. Kaila langsung menoleh.
"Aku gak tanya om Kentang kok." Kaila melengos, sementara Ken mendengus kesal.
"Makan, La. Itu rasanya enak, jangan di lihat bentuknya tapi rasakan aja rasanya." ujar Alex.
"Gak mau, om. Aku lihat aja udah bayangin kok, apalagi kalau makan." tolak Kaila.
Alex hanya menghela nafas saja. Mikel kembali lagi ke meja makan setelah memuntahkan isi perutnya sambil membawa sepiring buah yang sudah di potong. Sementara Alex pergi ke dapur untuk memotong buah segar.
"Cih. Bisa gak si lo biasa aja kalau dengar kata otak." ujar Ken kepada Mikel.
"Enak aja lo kalau ngomong, gue kan aslinya gak suka brokoli, gue makan itu juga karena ingin menghargai Alex juga tahu. Alex juga sedih lihat makanan yang dia masak tapi gak kemakan, itu bentuk menghargai dengan cara gue. Meskipun rasanya emang enak sih, tapi gimana-gimana kan bentuknya emang kayak otak gitu." ujar Mikel. Kaila diam saat mendengar ucapan Mikel.
Bersambung......
__ADS_1