
Jujur, meskipun Dominic sangat kejam dengan semua orang dan hanya lembut pada orang tertentu. Dia sangat tidak bisa menolak permintaan adik kecilnya saat berbicara dengan wajah memelasnya itu. Apalagi saat ini rambut Kaila di ikat 2 kanan dan kiri, sungguh Dominic tidak bisa menolak adiknya saat sedang berpenampilan seperti ini.
Gimana keadaannya Zeline ya? Nanti kalo dia masih belum sadar gimana? batin Dominic.
Dominic memang tidak terlalu mengurus urusan kakaknya itu, tapi saat ini dia berusaha untuk menuruti adik kecilnya itu. Takutnya saat mereka berdua tiba disana Zeline masih belum bangun dan sudah bisa di pastikan kalau Kaila akan ngambek kalau dia tidak bertemu dengan Zeline sekarang ini juga.
Dominic menyuruh Kaila untuk turun dari tubuhnya, Dominic duduk, mengambil hpnya dan menekan sebuah nama di benda pipih itu. Sambungan mereka berdua akhirnya tersambung.
"Apa?" tanya di seberang sana dengan nada yang sangat ketus sekali. Dominic mendengus kesal mendengar ucapan di seberang sana.
"Gimana? Dia udah sadar belom?" tanya Dominic kepada seberang sana, yang tak lain adalah Nevan.
"Tumban lo nanya tentang urusan gue? Biasanya juga nggak."
"Lo tinggal jawab aja repot banget sih!"
"Iya-iya. Dia udah sadar kok, baru aja."
"Oh oke."
"Oh iya Dom... "
Tut... tut... tut...
Dominic langsung mematikan sambungan telpon secara sepihak, Nevan berdecak kesal dengan perbuatan Dominic.
"Siapa kak yang belum sadar?" tanya Kaila dengan nada polosnya.
"Bukan siapa-siapa, orang gak penting." jawab Dominic berbohong. Tidak mungkin juga dia memberitahu adiknya tentang Zeline, yang ada Kaila akan marah.
Orang gak penting? Terus tadi dia tanya keadaannya itu di sebut apa? Cuma tanya doang gitu? Terserah dia saja.
"Ya udah, gue mandi dulu. Lo tungguin di luar sana. Nanti kalo udah selesai gue turun." ujar Dominic.
Kaila mengangguk lalu keluar dari kamar Dominic, sementara Dominic masuk ke kamar mandi. Sungguh, ini semua sangat mengganggu waktu istirahatnya.
Dominic sudah turun dengan pakaian sweater dan celana selutut warna hitamnya. Saat ini dia seperti orang yang pada umumnya terlihat dari luar, kalau di lihat dari dalam sungguh sangat menakutkan.
"Ngapain lo bawa tas kayak mau sekolah?" tanya Dominic kepada Kaila. Pasalnya Kaila membawa tas yang sepertinya sangat berat, seperti membawa buku sekolah.
__ADS_1
"Rahasia. Kak Dom gak boleh kepo!" jawab Kaila sambil menganan kirikan jari telunjuknya. Dominic mendengus kesal mendengar jawaban adik imutnya itu.
Mereka berdua akhirnya memulai perjalanan ke apartments Dominic.
***
Sementara di dekat apartment Dominic yang Nevan dan Zeline tinggali saat ini, Allisya dan ketiga temannya sedang mengintai dari jauh. Ketiga temannya? Ya hanya bertiga, Gevan, Alex dan Mikel. Ken? Dia sudah berangkat untuk liburan ke luar negeri.
Alex dan Mikel menggunakan teropong tembus pandang yang bisa melihat sampai dalam-dalamnya. Mereka sangat antusias sekali jika sudah menyangkut dengan Zeline, bukan karena suka. Tapi karena permasalahan Zeline sangat menarik sekali menurut mereka. Allisya hanya menyandarkan punggungnya di pohon, sementara Gevan berdecak kesal melihat Alex dan Mikel.
"Kalian berdua ngapain sih?! Urusan Zeline bukan urusan kita lagi! Kenapa kalian terus aja mematai dia?!" kesal Gevan.
"Gev, lo itu gak tau apa? Masalahnya Zeline menurut gue sangat menarik banget tau! Cuma dia satu-satunya anak konglomengrat kelas atas yang berani buat masalah sama keluarga Leonardus, keluarga kelas paliiiiiiiiiinnnnnggggg atas." jawab Mikel.
Gevan ingin sekali memukul kepala Mikel saat ini. Gevan sudah mau memukul kepala Nevan, tapi mereka semua langsung bersembunyi saat melihat mobil sports milik Dominic lewat.
Ngapain tuh anak kesini? batin Allisya.
Allisya mengambil teropong milik Alex dan melihat isi dalam mobil Dominic.
"Gila! Ada Kaila juga!" ujar Mikel.
"Oh ya? Coba gue lihat." jawab Gevan.
Ngapain Dominic ngajak Kaila kesini? Harusnya kan dia gak ngajak Kaila? batin Kaila.
Allisya langsung mendekati apartment itu. Ketiga temannya langsung melongo melihat Allisya yang bergerak, padahal mereka yang antusias kenapa jadi Allisya yang beraksi? Mereka juga mengikuti Allisya.
Dominic masuk ke apartmentnya itu yang langsung di sambut oleh pelayan dan juga penjaga apartmentnya. Dominic meletakkan kunci mobilnya ke nampan yang selalu di bawa oleh pelayan yang menyambutnya.
"Dimana Nevan?" tanya Dominic kepada pelayan tersebut.
"Tuan muda Nevan sedang ada di kamar nona Zeline." jawab pelayan tersebut.
"Ngapain mereka berdua'an di kamar? Mereka lagi gak main berdua kan?" tanya Kaila panik.
Kaila berfikir kalau kakaknya dan Zeline bermain berdua tanpa mengajak dirinya.
"Kami..... "
__ADS_1
Pelayan itu tidak bisa menjawab apa-apa lagi, dia juga tidak tahu mereka berdua sedang melakukan apa di kamar. Kaila langsung bergegas untuk ke kamar Nevan, manaiki lift dan meninggalkan Dominic sendirian. Dominic mendengus kesal, dia tidak mengikuti Kaila melainkan duduk bersandar di sofa sambil menghisap rokoknya.
Braaakkh
Suara gebrakan pintu mengagetkan Nevan dan juga Dominic. Kaila melihat Nevan yang menindih tubuh Zeline dengan tubuhnya. Kaila memiringkan kepalanya, tanda tak mengerti dengan apa yang di lakukan Nevan dan Zeline sekarang. Nevan dan Zeline juga sangat terkejut dengan kedatangan Kaila, mereka berdua gelagapan membenahkan tubuh mereka berdua.
"Kai, apa yang lo lakuin disini?" tanya Nevan sedikit kesal karena Kaila telah mengganggu waktunya dengan Zeline.
"Aku mau main sama kak Zeline." jawab Kaila dengan penuh keceria'an.
"Di antar siapa lo kesini?" tanya Nevan lagi.
"Sama kak Dom Dom." jawab Kaila lagi.
Nevan mendengus kesal dengan jawaban Kaila. Nevan keluar dengan perasaan malu dan juga kesal. Malu karena adiknya yang polos itu tak seharusnya melihatnya dengan posisi yang salah seperti tadi. Marah karena telah mengganggu waktunya dengan Zeline.
Flashback on
"Gak tidur?" tanya Nevan sambil menatap Zeline.
"Nggak." jawab Zeline singkat.
"Kenapa?" tanya Nevan lagi.
"Gak ngantuk." jawab Zeline lagi.
Nevan mengangguk mengerti dengan ucapan Zeline. Nevan membenamkan wajah Zeline ke dadanya. Kaki Zeline terus bergerak, tidak mau diam. Tanpa Zeline sadari, dia sudah membangunkan adik kecil milik Nevan. Nevan mencoba menahan adik kecilnya yang sudah bangun itu gara-gara ulah Zeline.
"Ze, diam." ujar Nevan dengan menahan hasratnya agar dia tidak membuat Zeline kecewa lagi dengannya.
Zeline mendongakkan kepalanya menatap wajah Nevan.
"Gak bisa. Kaki gue gerah banget." jawab Zeline.
Lagi, tanpa Zeline sadari dia menganggu adik kecil Nevan.
"Sakit, Ze." rintih Nevan.
"Apanya? Gue gak ngapa-ngapain kok." tanya Zeline kebingungan.
__ADS_1
Nevan mengambil tangan Zeline dan menaruhnya ke adik kecilnya itu. Zeline sangat terkejut saat merasakan benda yang sudah mengeras itu, benda yang pernah dia rasakan dulu. Zeline langsung menarik tangannya dan menatap wajah Nevan yang sudah di penuhi dengan hasrat dan rintihan kesakitan.
Bersambung......