
Allisya masih belum membalas pesan yang dikirimkan nomor tidak dikenal tadi.
Siapa dia? Apakah dia Dominic? Jika memang iya, maka aku akan sedikit bermain dengannya. ujar Allisya dalam hati.
"Memangnya siapa anda, sampai-sampai saya harus mengenal anda?" pesan terkirim. Allisya tersenyum sendiri melihat pesannya.
"Allisya, apa kamu lupa denganku? Aku ini calon suamimu!" jawabnya.
"Saya tidak memiliki suami dan saya juga tidak memiliki calon suami. Suami saya sudah meninggal dua tahun yang lalu."
"Allisya, jangan main-main denganku!"
"Maaf, mungkin anda salah nomor, tuan."
"Tidak! Ini benar nomormu, Allisya!"
"Lalu, apa maksud anda menguhungi saya?"
"Allisya, aku ini calon suamimu!"
"Maaf tuan, tapi saya tidak memiliki suami. Suami saja sudah meninggal dua tahun yang lalu."
"Allisya, kamu tidak mungkin janda kan?" tanya Dominic di pesan.
"Anda benar, tuan. Saya adalah seorang janda, tapi saya tidak memiliki anak."
Tiba-tiba saja Dominic menelpon Allisya, Allisya sangat terkejut melihat Dominic yang langsung menelponnya. Allisya mengangkatnya.
"Allisya, jangan main-main denganku!" ujar di seberang sana.
"Memangnya kenapa?" jawab Allisya.
__ADS_1
"Kamu bukan janda kan?" tanya di seberang sana.
"Memangnya kenapa kalau gue janda? Apa lo gak suka? Kalau lo gak suka itu malah menguntungkan buat gue, karena gak akan ada yang ganggu gue!" jawab Allisya ketus.
"Allisya, aku tidak akan memandang statusmu. Tapi, setidaknya jujurlah kepadaku, apa kamu benar janda?" tanyanya lagi.
Allisya tersenyum sendiri dengan ucapan Dominic di seberang sana. Bagaimana bisa Dominic percaya kalau dia adalah jika seorang janda.
"Dominic." panggil Allisya di seberang sana.
"Ya?"
"Lo bodoh sekali. Apa lo gak pernah dengar tentang rumor-rumor gue kalau gue gak ada kontak dengan lelaki, kecuali teman detektif gue?" Dominic tidak menjawab dan sedang berfikir.
"Oh iya ya."
"Bodoh! Bagaimana bisa lo berfikir seperti itu? Gue gak akan pernah menikah sebelum gue menyelesaikan misi gue!"
"Lalu, kenapa lo tetap berfikir seperti itu?"
"Ya, aku takut sekali jika kamu memang benar-benar janda. Bukannya aku memandang statusmu tapi itu pasti akan sulit untuk mendapatkanmu."
Allisya tidak menjawab ucapan Dominic, dia tidak tahu harus menjawab apa. Kenapa Dominic sampai bisa mencintainya seperti ini? Begitu pemikirannya.
"Dominic, gue gak tahu kenapa lo bisa suka sama gue. Tapi, seandainya lo memang benar-benar suka sama gue, seenggaknya hargai gue sebagai seorang wanita. Gue gak mau merasakan sakit hati karena seorang laki-laki. Gue tahu setiap hubungan pasti ada masalah, tapi saat menyelesaikan masalah itu gue harap kita gak pakai kekerasan dan membawa hubungan kita. Alasan gue single sampai sekarang adalah karena gue gak mau merasakan sakit hati. Jika, lo memang tulus mencintai gue, seenggaknya jangan sakiti hati gue. Kalau lo suka gue karena ada maksud, lebih baik lo menghindar dari sekarang. Gue gak mau sampai teman-teman gue yang turun tangan atas sikap lo ke gue. Sebenarnya gue sudah mau berbicara tentang ini dari kemarin-kemarin, tapi gue merasa gak enak karena secara lo dan gue gak ada hubungan apa-apa. Gue cuma mau bicara sama lo tentang itu saja. Kalau sampai gue jatuh cinta sama lo, gue harap lo gak meninggalkan gue saat itu. Gue mungkin butuh waktu supaya gue bisa mencintai lo, tapi gue harap lo mau bersabar dengan sikap dan ego gue." Dominic mendengarkan ucapan Allisya dengan seksama.
"Allisya, aku tidak memaksamu untuk mencintaiku sekarang. Aku juga tidak minta kamu untuk mencintaiku. Aku hanya ingin kamu menghargai perjuangan ku saja. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, begitupun dengan kamu. Kamu juga tidak boleh meninggalkan aku tanpa alasan. Kamu harus punya alasan yang logis jika kamu mau meninggalkan aku. Allisya, aku mencintaimu dengan tulus." Allisya mendengarkan ucapan Dominic dengan sangat tajam, takut Dominic salah berbicara.
Tanpa Allisya sadari, ada setetes air yang keluar dari matanya. Entah kenapa ucapan Dominic sangat begitu bermakna, tapi Allisya masih dilema dengan ucapan Dominic.
"Dominic, gue masih dilema dengan perasaan gue sendiri. Gue masih belum bisa merasakan bagaimana jatuh cinta, gue juga gak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta."
__ADS_1
"Seiring berjalannya waktu pasti kamu bisa merasakan jatuh cinta, Allisya. Percayalah Allisya, aku tidak akan melepaskan kamu begitu saja. Apapun yang sudah aku incar tidak akan bisa pergi begitu saja, begitupun dengan kamu. Kamu adalah wanita yang aku cari selama tiga tahun, tiga tahun bukan waktu yang sedikit untuk aku mencarimu, Allisya. Aku tidak akan membiarkan kamu pergi tanpa seizinku. Aku mencintaimu, Allisya. Aku sangat sangat sangat mencintaimu, Allisya." ujar Dominic di seberang sana.
"Dominic… " ucapan Allisya di potong oleh Dominic.
"Aku tidak akan pernah meminta kamu untuk mengatakan kalau kamu mencintaiku. Aku akan menunggu kamu yang mengatakan cinta itu sendiri. Aku akan menunggunya, tidak peduli berapa lama itu tapi aku akan menunggunya. Dan di saat kamu sudah mencintaiku, aku akan mengambil hak mu ke orang tuamu dan menjadikan hak mu adalah hak ku, dan aku akan menjadikan kamu pendamping seumur hidupku."
"Apa lo berjanji untuk hal itu?" tanya Allisya yang ada di seberang sana.
"Ya, aku berjanji Allisya."
"Gue harap lo menepati janji lo itu."
"Itu pasti, Allisya."
Tut…
Allisya mematikan sambungan telponnya dan membanting ponselnya dengan keras, dia menangis tersedu-sedu, belum pernah dia merasakan hal ini. Dia hanya takut akan tersakiti oleh laki-laki, itu saja. Sementara Dominic sedang menatap layar ponselnya yang baru saja mengeluarkan suara Allisya.
"Allisya, aku sangat mencintaimu saat aku pertama bertemu denganmu. Aku tidak memaksamu untuk untuk mencintaiku, biarkan aku yang mencintaimu terlebih dahulu." setelah mengatakan itu, Dominic pergi masuk ke kamarnya untuk istirahat, kepalanya terasa sangat berat sekali.
Sementara Allisya sedang mengetik beberapa kalimat di laptopnya, karena dia tidak bisa tidur.
...Dilemaku...
...Aku tidak tahu harus memilih apa. Aku tidak pernah merasakan jatuh cinta. Aku hanya takut merasakan sakit hati saat sedang jatuh cinta, itu saja. Salahkah aku, jika aku terlalu bersikap egois dan agresif? Aku memiliki alasan tersendiri untuk mencintai seseorang. Terkadang aku juga mengagumi seseorang, tapi aku hanya mengaguminya saja tanpa menaruh rasa apa-apa padanya. Aku takut sakit hati, tapi disisi lain aku juga takut menyakiti hati seseorang. Jika memang cinta itu indah, aku ingin ada yang membuktikannya. Aku butuh bukti untuk itu....
...Aku tidak tahu kenapa Dominic sangat mencintaiku. Aku juga tidak tahu apa yang ada dipikiran Dominic sampai dia bisa mencintaiku. Aku berbeda dengan wanita pada umumnya, tapi kenapa Dominic mencintaiku? Jika suatu hari nanti aku mencintainya, mungkin aku akan pergi meninggalkannya tanpa alasan yang jelas dan menjauhinya. Aku akan menghilang bagai di telan bumi, dimana tidak akan ada orang yang bisa menemukanku dengan mudah....
Allisya tidak berhenti menitikkan air matanya sambil mengetik kalimat-kalimatnya di laptopnya. Jujur saja jauh di lubuk hatinya ada rasa senang tapi dia tidak bisa merasakan rasa senangnya itu.
Bersambung......
__ADS_1