
Alvina menerima nya dengan senang hati. Ia pun meletakkan kembali piring di tengah-tengah mereka.
Rifki segera melahap nasi goreng buatan Alvina dengan semangat.
Begitupun dengan Albina, ya walaupun jatah makan nya berkurang tapi seenggaknya ia mendapatkan uang.
Setelah nasi goreng yang ada di piring sudah habis tak tersisa, Alvina membawa piring dan sendok ke wastafel untuk dicuci.
"Na kita jadi gak nih jalan-jalan nya?" tanya Rifki.
"Terserah" jawab Alvina.
"Eh elah cewek kalo ditanya jawaban nya suka terserah mulu" ujar Rifki.
"Kalo udah tau jawabannya kenapa nanya" balas Alvina.
"Ya kalo diem aja gak seru, masa hening sih kek kuburan" ucap Rifki.
Alvina tidak lagi membalas ucapan yang dilontarkan Rifki, toh gak penting juga pikirnya.
Setelah selesai mencuci piring yang kotor, Alvina mengelap tangan nya menggunakan handuk kecil yang tergantung pada dinding dekat wastafel.
"Ganti baju sana" titah Rifki.
"Dih siapa lo nyuruh-nyuruh gue?" tanya Alvina.
"Ck, kan kita mau jalan-jalan, masa keluar pake baju kek gitu sih" jawab Rifki kesal.
"Hmm" dehem Alvina.
Alvina bergegas memasuki kamar nya dan berganti pakaian dengan kaos putih polos dan dipadukan dengan celana jeans hitam panjang dan ditambah dengan sepatu sneaker putih.
"Pake motor masing-masing aja ya" ucap Alvina.
"Gak gak gak pake motor gue aja, gue yang bonceng" jawab Rifki dengan cepat.
"Ya udah gak jadi kalo gitu" ujar Alvina sambil membalikkan badannya hendak kembali ke kamar.
Namun terhenti ketika Rifki berucap dengan kesal.
"Ck ya udah iya, pake motor masing-masing" kesal Rifki.
"Oke" jawab Alvina.
Rifki berjalan terlebih dahulu dengan lesu, karena rencananya tidak berjalan sesuai rencananya.
Alvina mengunci pintunya dan memasukkan kunci ke dalam saku celananya. Setelah itu ia memakai helm sambil menaiki motor nya.
"Ngapain masih berdiri di sana?, jadi jalan gak?" tanya Alvina saat ia melihat Rifki yang masih berdiri sambil menatap nya.
"Jadi lah, masa duit hilang jalan nya gak jadi kan rugi gue" jawab Rifki dan menghampiri motor nya.
"Jalan nya kemana?" tanya Alvina lagi.
"Terserah lo aja mau nya kemana" jawab Rifki.
__ADS_1
"Oke kalo gitu lo ikutin gue" ujar Alvina.
Alvina menghidupkan motor nya dan siap untuk tancap gas, begitu pun dengan Rifki.
Alvina mengendarai motor nya dengan kecepatan tinggi sampai-sampai Rifki yang mengikuti nya kewalahan mengejar motor yang dikendarai oleh Alvina.
Setelah sampai di tempat yang dituju Alvina memberhentikan motor nya di pinggir sungai. Ya Alvina membawa Rifki ke sungai yang lumayan jauh dari rumah Albina.
"Gila lo Na, bawa motor kenceng amat sampe kewalahan gue ngejarnya" gerutu Rifki.
Alvina yang memang sejatinya tidak perduli dengan sekitar hanya menganggap gerutuan Rifki hanya angin lalu.
Padahal kan Rifki menggerutu juga karena nya.Alvina langsung saja duduk di bangku yang memang sudah ada di sana.
"Gue kira lo mau ngajak gue ke mall atau kemana kek, malah jadi nyasar ke sungai" gerutu Rifki.
"Tapi enak ya sungai nya tenang banget" lanjut nya.
"Lo bisa diem gak sih?" kesal Alvina.
"Emangnya kenapa kalo gue diem?, malah jatoh nya jadi serem loh, mana dipinggir sungai mana hening" jawab Rifki.
"Lo liat tuh sungai" pinta Alvina.
"Ngapain?, mendingan juga liatin muka lo" jawab Rifki.
"Lo perhatiin baik-baik sebelah sana" ucap Alvina sembari menunjuk area sungai dibawah pohon yang lumayan besar.
"Emang ada apaan?" tanya Rifki.
"Lo perhatiin baik-baik ke arah batu yang gue lempar" ujar Alvina tanpa mengalihkan pandangan nya ke arah batu yang dilemparnya.
Rifki hanya menurut tanpa protes sedikit pun. Tak berselang lama Rifki menemukan ada yang bergerak-gerak di atas permukaan air. Setelah memperhatikan nya dengan lebih teliti ia pun di buat kaget oleh nya.
"BUAYA!!" teriak nya.
"Gak usah teriak juga kali" kesal Alvina.
"Kok ada buaya nya sih Na?" tanya Rifki dengan suara bergetar ketakutan.
"Emang disini banyak buaya nya" jawab Alvina dengan santai.
"Lo mau ngelempar gue ke sungai itu Na?, Jangan ya tar kalo gue mati siapa yang mau gangguin lo" ujar Rifki dengan polosnya.
Mendengar penuturan Rifki yang kelewat polos, Alvina seketika tertawa sambil melihat Rifki yang gemetar kerena ketakutan.
"Rifki lo polos atau be*o sih?, ya gue gak bakal lempar lo lah, yang ada gue bisa di masukin ke penjara kalo gitu" ucap Alvina dengan di selingi tawa yang belum berhenti.
"Terus kenapa lo bawa gue ke sini?" tanya Rifki dengan kepolosan tingkat dewa.
"Gak gue cuma kangen sama buaya-buaya yang ada di sini" jawab Alvina dengan santai.
"Kangen?"tanya Rifki dengan mengerjapkan matanya berkali-kali.
"Berarti lo udah pernah kesini?" tanya Rifki.
__ADS_1
"Pikir aja sendiri" jawab Alvina.
"Ja ilah si Alvina emang bener-bener ya" kesal Rifki.
"Apa" ucap Alvina dengan tatapan yang tajam sehingga memberikan aura menyeramkan menurut Rifki.
"Hehe gak jadi" jawab Rifki cengengesan.
Setelah agak lama mereka terdiam, Rifki melihat satu buaya yang berjalan ke pinggir sungai.
"Na pulang yuk gue takut di terkam buaya" ajak Rifki.
"Ngapain takut sama buaya?, padahal kan lo sama buaya itu sama" ujar Alvina.
"Sama?, maksudnya?" tanya Rifki.
"Iya sama, sama-sama buaya. Cuma bedanya kalo buaya itu di sungai kalo lo di darat" jawab Alvina santai.
"Lah buaya darat dong gue" ujar Rifki menunjuk dirinya sendiri.
"Iya" jawab Alvina.
"Gila sih gue di katain buaya darat" ucap Rifki geleng-geleng kepala.
Rifki mengedarkan pandangannya menelusuri sungai dan pinggiran nya. Tapi saat ia melirik kearah sebelah kiri ia melihat buaya menatap ke arah nya dengan mulut yang terbuka.
"Alvina tolongin gue!!! buaya nya mau nerkam gue!!!" teriak Rifki.
Alvina yang kaget mendengar suara teriakan Rifki yang duduk di sebelah nya langsung menoleh ke arah Rifki.
"Pftt... Pufttt, hahaha" Alvina yang melihat wajah Rifki yang ketakutan tidak bisa menahan tawanya lagi. Ia tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya yang terasa sakit akibat tertawa.
"Alvina kok malah ketawa sih tolongin gue!!" teriak Rifki lagi.
Alvina berjongkok dan mengambil batu yang berukuran cukup besar dan melemparkannya ke arah buaya yang mendekati Rifki yang tengah ketakutan dengan wajah yang sudah pucat pasi dan juga keringat yang mengucur deras. Tak lupa tangannya juga memegang kursi yang di dudukinya.
Walaupun dengan tawa yang masih tersisa lemparan batu Alvina tepat mengenai kepala buaya tersebut.
Setelah mendapatkan lemparan batu buaya yang tadinya berjalan perlahan kearah Rifki, berhenti dan berbalik lalu kembali memasuki sungai.
"Udah pergi" ujar Alvina dengan tawanya yang belum juga reda.
Rifki membuka matanya yang dari tadi tertutup dengan rapat dan menoleh ke arah tempat tadi ia melihat buaya.
Rifki menghembuskan nafasnya lega karena tidak menemukan lagi buaya yang siap menerkam nya.
Rifki memandang Alvina yang masih tertawa lalu menggerutu.
"Bahagia di atas penderitaan orang lain lo mah, bukan nya gercep bantuin nya malah ketawa dulu, gak tau apa gue udah gemetaran dari tadi" gerutu Rifki.
"Abisnya muka lo lucu, pucet, keringetan, gemeter, terus matanya juga kaya gak bisa di buka gitu" jawab Alvina dan diakhiri dengan tawa yang kembali pecah ketika teringat wajah ketakutan Rifki.
"Sial*n emang" umpat Rifki.
"Pulang yuk tar ada yang nyamperin gue lagi" ajak Rifki memelas.
__ADS_1
"Ya udah ayok" jawab Alvina.