
Malam semakin larut, namun seorang gadis masih belum beranjak dari atas terumbu karang di tepi pantai. Ia sedang melamun dengan mendongak menatap langit yang di penuhi oleh bintang.
Drrt..
Drrt..
Suara dering telepon mengalihkan fokusnya, ia segera merogoh saku hoddle nya untuk mengambil ponsel.
Ia berdecak sebal saat melihat nama kontak yang bertuliskan nama Rifki.
Dengan setengah hati ia mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Halo by, lo lagi di mana sih? Gue sekarang lagi di rumah lo nih, tapi sepi. Tadi gue juga ke cafe tapi katanya lo gak ke sana" ujar Rifki di seberang sana.
Gadis itu Alvina, ia sedang menenangkan diri atas terumbu karang.
"Gue lagi cari angin, lagian lo ngapain coba ke rumah gue malem-malem gini? Mau di gebukin massa lo?" Jawab Alvina sekaligus bertanya dengan nada garang.
"Gue kangen sama lo. Lo sekarang di mana? Gue ke sana sekarang."
"Gue lagi di pantai yang kemaren."
"Ya udah lo tunggu di situ aja ya, jangan kemana-mana."
"Hmm"
Sambungan telepon pun terputus saat Alvina memutuskan nya sepihak.
Tiga puluh menit kemudian, Rifki sudah datang dan duduk di sebelah Alvina yang masih diam tak bergeming.
"Lo marah ya sama gue?" Tanya Rifki dengan suara lirih.
"Kenapa harus marah?" Bukan nya menjawab pertanyaan dari Rifki, Alvina malah balik bertanya.
"Karena tadi gue nge-batalin acara makan-makan karena mau nganterin Ara ke toko buku" jawab Rifki menunduk.
"Kata siapa gue marah sama lo?" Tanya Alvina mengalihkan pandangan ke arah Rifki dengan menaikan sebelah alisnya.
"Kata gue barusan, masih anget malahan" jawab Rifki polos.
"Maksud nya alasan lo menyimpulkan kalo gue lagi marah kenapa" greget Alvina.
"Ya karena lo gak nge-chat gue dari pas lo pulang sekolah" jawab Rifki.
"Huh.. biasanya kalo gue lagi gak marah gue suka nge-chat lo duluan gak?" Tanya Alvina.
"Enggak" jawab Rifki menggeleng cepat.
"Terus tadi lo nge-chat gue gak?"
"Enggak"
"Nah terus kenapa lo mikir kalo gue marah sama lo dengan alasan gue gak nge-chat Lo?, sedangkan lo tau gimana kebiasaan gue" jelas Alvina
__ADS_1
Rifki tampak mengerutkan keningnya mencoba mencerna apa yang di katakan oleh Alvina.
Setelah lama berfikir ia kemudian berujar. "Lah iya juga ya" Rifki menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menyengir.
"Dasar be*o" umpat nya kepada dirinya sendiri.
"Ngaku lo kalo lo beg*" tanya Alvina tersenyum mengejek.
Rifki yang mendengar pertanyaan Alvina yang berniat mengejek nya pun hanya bisa berdecak sambil memutar bola matanya malas.
"Tadi lo ke sini jam berapa?" Tanya Rifki mengalihkan pembicaraan.
"Jam lima kalo gak salah" jawab Alvina sambil fokus kembali pada bintang yang bertaburan dilangit.
"Bentar lagi aja ki" tolak Alvina.
"Ini udah mau jam 8 Alvina, lo mau disini sampai malam?" Ujar Rifki.
"Lagian tumben lo gak ke Cafe?" Tanya Rifki
"Lagi ambil cuti" jawab Alvina.
Setelah beberapa lama hanya ada keheningan diantara mereka, Alvina bangun dari duduknya
"Mau kemana?" Tanya Rifki memegang tangan Alvina
"Katanya tadi nyuruh pulang, giliran mau pulang malah nanya mau kemana" jawab Alvina
Mereka pun pulang dengan mengendarai motor masing-masing, Rifki terlebih dahulu mengikuti Alvina untuk memastikan Alvina beneran pulang kerumahnya.
-•°•°•°•°•°•°•-
"Eh.. kemaren kan kita gak jadi makan-makan nih, gimana kalau sekarang aja!" Ajak Rifki ketika mereka sedang bersiap-siap untuk pulang karena memang sudah waktunya.
"Boleh" setuju Boy.
"Emang lo yakin gak bakal ada yang datang kesini buat minta tolong sama lo?" Ujar Angga sinis.
"Ck, Ara gak bakal kesini kali, dia udah balik ke Jerman karena bokap nya lagi sakit" ucap Rifki.
"Syukur deh" celetuk citra.
"Lo seneng bokap sahabat gue sakit ya Cit?" Ujar Rifki kesal.
"Bu--bukan gitu maksud gue, maksud gue itu gak bakal ada yang ngebuat lo nge-batalin acara kita lagi" ujar Citra.
"Jadi pergi gak nih? Kalau enggak gue bakal ke Cafe" tanya Alvina buka suara dengan masih mempertahankan ekspresi datarnya.
"Jadi.. tapi ada syaratnya" ujar Riko.
"Apaan syarat nya?" Tanya Boy.
"Si Rifki harus traktir kita semua" jawab Riko.
__ADS_1
"Nah bener tuh, itung-itung permintaan maaf lo karena kemaren tiba-tiba nge-batalin pergi gitu aja" tambah Citra dengan semangat 45.
"Ya udah deh gue yang traktir" timpal Rifki berbaik hati.
"Eh Alvina lo mau kemana?" Teriak Citra saat melihat Alvina berjalan keluar kelas.
"Katanya mau pergi, gue udah lapar" jawab Alvina terus melanjutkan langkah nya meninggalkan kelas.
"Dasar kulkas berjalan, punya pawang masih gak bisa bikin si kulkas jadi kompor" umpat Boy.
"Ya udah lah yu jangan banyak ngomong mending kita susul Alvina!" Ujar Rifki sambil bangkit dari duduknya.
"Ayo.... !!" Jawab mereka serentak.
Sesampainya mereka diparkiran, mereka melihat Alvina yang sudah siap dengan helm di kepalanya.
"Citra mending lo ikut sama yang lain aja gak usah bawa mobil, biar lucu kita, jadi nya pasukan moge gitu kan, Celetuk Boy.
"Boleh, kalau gitu gue ikut sama Alvina aja" Citra menyetujui.
"Jangan sama gue, gue pengen sendiri" tolak Alvina.
"Kok gitu sih Na" ucap Citra.
Bukan tanpa alasan Alvina menolak untuk membawa Citra bersama nya. Ia merasa akan ada sesuatu yang akan terjadi.
"Lo sama gue aja Cit!" Ajak Angga.
"Aduh.. kayak nya ada yang lagi jatuh cinta nih" goda Boy.
"Apaan sih, siapa juga yang lagi jatuh cinta" elak Angga.
"Ya udah deh kalo Alvina gak mau bawa gue, gue sama Angga aja" ujar Citra mengambil keputusan.
"Lo pake helm dulu nih" ujar Rifki menyodorkan sebuah helm yang memang selalu ia bawa.
"Thank" ucap Citra.
"Iya" balas Rifki.
Setelah semua sudah menaiki motor nya masing-masing dan memakai helm, mereka segera berangkat menuju salah satu Cafe.
Sesampainya di sana, mereka langsung memesan apa yang mereka inginkan, yang tentunya akan di bayar oleh Rifki.
Dirasa perut sudah tidak muat apabila di isi lagi dengan makanan, mereka memutuskan untuk pulang.
Tapi Alvina yang memang sedari tadi merasa ada sesuatu yang akan terjadi, ia terus saja mengulur waktu untuk pulang dengan beribu alasan, sehingga mereka tidak jadi pulang dan memilih untuk duduk-duduk santai terlebih dahulu.
pada saat jam menunjukkan pukul 16:30 mereka memutuskan untuk pulang.
Mereka berencana untuk mengantar Citra terlebih dahulu ke rumah nya.
Saat di perjalanan, Alvina yang memang selalu waspada di mana pun ia berada, merasa ada yang sedang mengikuti mereka.
__ADS_1