
"Yang ini aja deh." Alvina menunjuk tangan kiri.
"Yah ... padahal gue ngarep nya lo milih yang kanan" ujar Rifki kecewa.
Tapi tanpa diduga oleh Rifki, Alvina malah menggandeng tangan kanan Rifki.
"Loh ko yang digandeng malah yang kanan? tadi kan lo nunjuk yang kiri" tanya Rifki bingung.
"Gak jadi yang kiri" jawab Alvina.
"Berarti lo mau dong pacaran sama gue." Rifki melebarkan senyumnya melihat kearah Alvina penuh harap.
Alvina hanya memberikan anggukan kecil sebagai jawaban.
"Serius?" tanya Rifki hanya ingin memastikan.
"Dua rius" jawab Alvina sambil mengangkat dua jarinya.
"Berarti mulai sekarang kita resmi pacaran?" tanya Rifki lagi.
Alvina yang mendengar pertanyaan itu, lagi-lagi hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Akhirnya ... ." Rifki melepaskan genggaman tangan Alvina dan melompat kegirangan.
Alvina yang melihat tingkah Rifki yang berlebihan hanya bisa memutar bola matanya jengah.
"Gak usah loncat-loncat juga kali, dah kayak lagi di sirkus aja, malu tau" gumam Alvina yang dapat didengar oleh Rifki, sehingga membuat Rifki menghentikan aktivitas loncatan nya.
"Hehe ... sorry, terlalu terbawa suasana gue" jawab Rifki cengengesan.
"Mending makan yuk laper gue" ajak Alvina.
"Makan dimana?" tanya Rifki.
"Gue lagi pengen bakso nih, beli bakso di sana aja tuh" jawab Alvina menunjuk gerobak bakso di pinggir jalan.
"Yakin mau disitu?" tanya Rifki memastikan.
"Iya buruan, cacing diperut gue udah pada demo nih." Alvina menarik tangan Rifki mendekati gerobak bakso yang ditunjuk oleh nya tadi.
Saat Alvina dan Rifki sudah duduk pada kursi yang ada di sana, Alvina bertanya kepada Rifki. "Lo mau pesen apa?" tanya nya.
"Apa aja deh terserah" jawab Rifki.
"Bakso mercon mau?" tanya Alvina disertai senyuman jail.
"Mercon?" beo Rifki.
"Gak gak gak mau gue kalo bakso mercon" lanjutnya cepat.
"Kenapa?, kapok lo?" tanya Alvina lagi.
"Iya kapok gue njir, lo masih inget gak pas gue makan bakso mercon bareng lo?" jawab Rifki sekaligus bertanya.
"Inget, waktu itu lo sakit perut, kan?" ujar Alvina.
"Iya. Pas gue lagi di jalan, gue mampir dulu ke mesjid" ucap Rifki.
"Ngapain?" tanya Alvina.
"Ya karena perut gue mules lagi pas dijalan" jawab Rifki.
__ADS_1
"Seriusan?" tanya Alvina memastikan.
"Ngapain gue boong" jawab Rifki menatap Alvina jengkel.
"Kasian banget sih" ujar Alvina memasang wajah semelas mungkin.
Rifki yang melihat wajah Alvina yang dibuat-buat, merasa sedang di ejek oleh Alvina.
"Gak usah ngeledek gue" ucap Rifki.
"Ihh ... lo kok tau sih kalo gue lagi ngeledek lo" ujar Alvina menampilkan sebuah senyuman.
"Udah deh, katanya tadi cacing yang ada di perut lo udah pada demo, tapi sekarang malah ngobrol" ucap Rifki.
"Oh iya lupa gue" jawab Alvina.
"Lo jadinya mau pesen apa?" lanjutnya.
"Terserah tapi jangan yang pedes-pedes apalagi kalo mercon" jawab Rifki.
"Bakso urat mau?" tanya Alvina.
"Iya deh itu aja. Gak pedes, kan?" jawab Rifki sekaligus bertanya.
"Gak kok" jawab Alvina.
"Mang bakso mercon sama bakso urat nya satu-satu, es teh manis nya dua!" teriak Alvina kepada tukang bakso.
"Siap neng ditunggu yah!" jawab nya dengan berteriak pula.
Setelah menunggu sekitar 10 menit, akhirnya pesanan mereka sudah tersaji di depan mata.
Alvina yang memang sudah merasa sangat lapar, langsung menyantap baksonya tanpa menghiraukan Rifki yang tengah menatapnya dengan bergidik.
"Gak, mau nyobain gak?" jawab Alvina sekaligus bertanya.
"Ogah gue" jawab Rifki sambil memasukkan satu sendok bakso ke mulut nya.
Setelah mendengar jawaban dari Rifki, Alvina kembali melanjutkan makannya yang sempat tertunda karena pertanyaan Rifki.
"Sayang ..." panggil Rifki memecah keheningan.
"Alay ..." jawab Alvina mencibir.
"Alay?, kenapa?" tanya Rifki.
"Gue gak mau dipanggil atau pun manggil sama panggilan SAYANG" jawab Alvina.
"Kenapa lo gak mau dipanggil sayang?, padahal kan kita udah resmi pacaran" tanya Rifki.
"Yang berubah itu hubungan kita, bukan panggilan kita" jawab Alvina.
"Terus gue harus manggil apa sama lo?" tanya Rifki lagi.
"Kayak biasa aja" jawab Alvina.
"Tapi gue maunya manggil sayang, gimana dong?"
"Perasaan dari tadi lo nyerocos mulu, gak bisa diem apa?" tanya Alvina yang merasa kesal kepada Rifki.
"Makan tuh bakso keburu dingin" lanjut nya.
__ADS_1
"Mau disuapin, kayak meraka tuh" ujar Rifki menunjuk sepasang anak manusia berbeda kelamin sedang asik saling suap.
Alvina yang melihat itu hanya menunjukkan sebuah seringai.
Kemudian menyendok bakso miliknya yang dipenuhi dengan sambal.
"Buka mulutnya, aaa ... ." Alvina menyodorkan sendok yang berisi bakso penuh cabe ke arah mulut Rifki.
Rifki yang melihat itu seketika menutup mulutnya dengan kedua tangan, kemudian menggelengkan kepalanya cepat.
"Katanya tadi mau disuapin" ucap Alvina dengan wajah tanpa dosa nya.
"Pake bakso punya gue Na, kalo pake punya lo yang ada gue sakit perut lagi" jawab Rifki menjauhkan sendok Alvina dari mulutnya.
Alvina yang mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Rifki, kembali meletakkan sendok nya kedalam mangkuk bakso nya sendiri.
"Makanya makan sendiri gak usah pake drama suap-suapan segala" ucap Alvina.
Akhirnya Rifki kembali memakan bakso nya dengan perlahan dan sesekali ia melirik ke arah Alvina yang tengah memakan baksonya dengan lahap.
Alvina yang sadar sedang ditatap oleh Rifki, segera menegur nya. Dikarenakan ia bisa salting jika lama-lama ditatap oleh Rifki.
"Ngapain lo ngeliatin gue?" tanya Alvina ketus.
"Gue heran deh sama hubungan kita Na" ucap Rifki.
"Kenapa?" tanya Alvina.
"Ya kan kalo biasanya, orang pacaran itu manggilnya sayang-sayangan atau kalo enggak, pake aku kamu gitu biar romantis. Lah kita, malah pake lo gue kayak preman" jawab Rifki.
"terus?"
"Lo kan gak mau dipanggil sayang, gimana kalo kita panggilan nya aku kamu aja" saran Rifki.
"Ogah" jawab Alvina.
"Terus gue harus gimana?." Kesel juga Rifki lama-lama kali kayak gini.
"Kan gue udah bilang, yang berubah itu hubungan kita, bukan panggilan kita" jawab Alvina.
"Udah deh, dari pada debat-in panggilan mending kita ke taman aja yuk" lanjut nya.
"Ini bakso siapa yang bayar?" tanya Rifki.
"Ya lo lah" jawab Alvina.
"masa gue lagi sih yang bayar" kesal Rifki.
Bukan apa-apa, tapi tadi sebelum beli bakso, Rifki sudah mengeluarkan uang banyak. Apalagi ditambah sama beli cincin. Beuh makin tipis aja dompet nya.
"Katanya dompet tebel bayar bakso aja masih protes" sindir Alvina.
"Ck, ya udah deh gue yang bayar" pasrah Rifki mengeluarkan uang dari dalam dompetnya.
"Nah gitu dong dari tadi" ucap Alvina tersenyum.
Sedangkan Rifki hanya mencibir saja ketika mendengar ucapan Alvina.
Setelah membayar baksonya, Rifki dan Alvina segera bergegas menuju taman yang berada di dekat situ.
Mereka memilih untuk duduk di bangku panjang yang berada di tengah-tengah taman tersebut.
__ADS_1
Lumayan lama mereka berdua duduk di sana sambil mengobrol dan bercanda, sampai akhirnya ada yang berdiri di hadapan mereka sambil menyilang kan kedua tangannya di dada.
"Oh jadi karena cewek kayak dia kamu mutusin aku"