
Sesampainya Alvina di cafe, ia langsung mendapat kan pertanyaan dari Tasya yang merupakan teman sesama pelayan nya Alvina.
"Loh loh loh, Alvina lo kok ke sini sih. Bukan nya lo ijin cuti dua minggu ya?" Tanya Tasya.
"Gue ke sini bukan buat kerja" ujar Alvina.
"Terus ngapain?" Tanya Tasya.
"Ini kan Cafe, kalo ada yang datang ke sini biasa nya mau ngapain?" Alvina menjawab.
"Buat makan, kalo enggak ya paling nongkrong sambil minum" jawab Tasya.
"Nah itu lo tau" ujar Alvina menjentikkan jari nya.
Tasya tampak menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal sambil menautkan kedua alis nya.
"Udah lah gak usah di pikirin. Sekarang buatin gue nasi goreng pedes sama teh manis" ucap Alvina.
"Teh nya hangat apa dingin?" Tanya Tasya.
"Panas aja sekalian" jawab Alvina.
"Serius nih?" Tanya Tasya memastikan.
"Serius lah" jawab Alvina.
"Oh oke. Tunggu bentar ya" ujar Tasya.
"Santai aja, gue juga mau sambil nongkrong-nongkrong di sini" ucap Alvina menenangkan.
Tasya hanya tersenyum membalas ucapan Alvina.
"Ya udah gue ke belakang dulu ya" pamit Tasya.
Alvina mengangguk mengiyakan.
Setelah Tasya pergi, Alvina kemudian duduk di meja yang masih kosong dan memainkan ponsel nya sembari menunggu pesanan nya datang.
Sekitar sepuluh menit menunggu, pesanan Alvina akhirnya datang di antar oleh Tasya.
"Nih pesenan lo, bener kan?" Ucap Tasya sambil meletakkan nasi goreng pedas dan juga teh panas sesuai pesanan Alvina di hadapan sang pemilik pesanan.
"Bener kok" jawab Alvina sambil meletakkan ponsel nya.
"Gue ke belakang, mau bikin pesenan yang lain dulu ya" pamit Tasya.
"Iya sono, ntar pelanggan pada kabur lagi gara-gara nunggu pesenan nya kelamaan" usir Alvina.
__ADS_1
Tanpa menjawab ucapan Alvina, Tasya beranjak dari hadapan Alvina sambil geleng-geleng kepala.
Alvina kini tengah menikmati sarapan nya dengan lahap, nasi goreng pedas adalah makanan kesukaan nya.
.
.
.
"Citra lo liat Alvina gak?" Rifki bertanya pada Citra yang baru saja datang ke kelas.
"Palingan juga kesiangan" ujar Citra santai.
"Massa sih, biasa nya juga gak sampe kesiangan. Gue nunggu Alvina udah satu jam loh" balas Rifki.
Citra yang mendengar ucapan Ricki segera menoleh ke arah Rifki sambil mengernyitkan dahi bingung.
"Emangnya lo berangkat jam berapa?" Tanya Citra.
"Kalo gak salah sih.. dari rumah gue berangkat jam enam" jawab Rifki.
Citra yang mendengar jawaban demikian dari Rifki hanya menganga.
"Tumben lo pagi-pagi buta udah dateng, biasa nya juga lima menit lagi bel, lo baru dateng" celetuk Citra menyindir.
"Kan mau ketemu ayang" ujar Rifki tersenyum.
"Duh ayang gue kok belom dateng sih, gak tau apa pangerannya yang ganteng ini udah nungguin dari tadi" gerutu Rifki sambil berkacak pinggang dengan kepala menengok kiri-kanan.
Citra yang mendengar dan melihat tingkah Rifki hanya geleng-geleng kepala.
'Percuma lo tungguin juga Ki, Alvina gak bakalan ke sekolah' batin Citra.
Tak lama setelah itu, bel masuk berbunyi, Rifki tampak duduk di bangku nya dengan wajah murung karena Alvina tidak masuk sekolah.
"Percuma dong hari ini gue bangun pagi-pagi terus berangkat ke sekolah juga pagi-pagi. Mana pas gue dateng gak ada siapa-siapa lagi, Kan jatoh nya jadi serem. Tau gini tadi gue bolos aja dah" gerutu Rifki sambil mengeluarkan buku dari dalam tas nya.
Citra tersenyum saat melihat mulut Rifki yang komat-kamit.
"Cit.. itu si Rifki kenapa mulut nya komat-kamit begitu?, lagi baca mantra apa tuh anak?" Riko yang duduk di belakang Citra berbisik pada Citra.
"Nyariin Alvina dia, tapi Alvina nya gak ke sekolah" jawab Citra tak kalah berbisik karena memang guru yang mengajar sudah ada di depan kelas.
"Tumben tuh anak nyariin Alvina" celetuk Boy.
"Ada problem dikit" jawab Citra.
__ADS_1
"Problem apaan?" Tanya Boy dengan suara agak keras.
"Yang di belakang, kalo mau ngobrol kalian boleh keluar!" Teriak guru yang ada di depan sambil berkacak pinggang.
"Mampus.. makanya jangan ikut campur urusan orang lain" gumam Angga pelan.
"Gak kok bu. Kita masih mau belajar" ujar Boy cengengesan.
"Semua nya perhatian ke depan, kalo masih ada yang mengobrol ibu bakal keluarin dari kelas" ujar guru tersebut.
.
.
.
Tak terasa, jam kini sudah menunjukkan pukul setengah dua siang hari.
Walaupun Alvina sudah lama berada di cafe, tapi ia tidak berniat pergi dari sana.
Hari ini ia akan puas-puasin dulu nongkrong di cafe.
"Alvina.. lo gak ada niatan buat pulang apa?, Dari tadi lo di sini cuman mainin hp sambil minum teh doang" ucap Tasya yang baru saja duduk diam hadapan Alvina.
"Kenapa emang nya? Gak boleh kalo gue di sini?" Tanya balik Alvina tanpa mengalihkan pandangan nya dari handphone.
"Boleh-boleh aja sih" jawab Tasya.
"Ya udah. Lagian lo juga ngapain sih ke sini. Sekarang masih jam kerja loh, lo mau gue aduin sama pak manajer kalo lo kerja nya males-males'an" ujar Alvina mengancam.
"Gak liat nih cafe lagi sepi?" Tanya Tasya.
"Tapi lo tetep harus kerja dong. Nyuci piring kek, ngelap meja kek, apa kek yang penting ada kerjaan" ucap Alvina.
"Ngomong aja kalo gak mau di ganggu" cibir Tasya.
"Nah itu lo peka, jadi lo pergi aja deh" usir Alvina.
"Dasar temen gak ada akhlak" gerutu Tasya.
Walaupun mulutnya komat-kamit karena menggerutu, tapi tetap saja ia pergi meninggalkan Alvina seorang diri.
Usai kepergian Tasya, Alvina kembali fokus pada handphone di tangan nya, entah apa yang sedang ia lihat, hanya ia dan Allah yang tau. Eh gak jadi, hanya Alvina dan author aja deh yang tau.
Namun tak berselang lama, ada yang menepuk pundaknya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Kan gue udah bilang sama lo Tas, gue gak mau din ganggu" ucap Alvina tanpa mengalihkan pandangan nya.
__ADS_1
Merasa tak ada jawaban dari orang yang menepuk pundak nya, Alvina menoleh ke belakang.
"Ngapain ke sini?"