
Alvina yang memang selalu waspada di mana pin ia berada, merasa ada segerombolan motor yang sedang mengikuti mereka.
Saat mereka melewati jalanan yang sepi, Alvina melirik ke arah belakang untuk memastikan apakah memang ada yang mengikuti mereka atau tidak.
Di luar dugaan Alvina, saat ia melirik ke arah belakang, ternyata segerombolan motor tersebut sudah ada di antara mereka.
Ada lima motor sport yang sedang mengikuti mereka.
Dan seperti nya yang menjadi incaran mereka adalah Alvina, karena terlihat mereka semua sedang mengelilingi Alvina dan mencoba untuk menghimpit nya.
Namun Alvina yang memang bisa mengetahui kode yang di berikan salah seorang dari mereka kepada yang lain pun segera memasang tanda waspada.
Brum... Brum... Brum...
Shrek... Bruk...
"Aaa..."
Bruk...
Alvina bisa menghindar dengan mencoba untuk melompat dari motor nya dan membiarkan motor nya terjatuh begitu saja mencium aspal. Walaupun ia berhasil melompat, tapi tetap saja ia harus mendapat kan sedikit luka goresan di tangan kanan nya.
Setelah ia sedikit meringis saat ia mendarat di atas aspal, ia melirik ke arah Citra yang terbaring tak sadarkan diri di atas aspal yang sedikit jauh dari posisi Angga karena terpental saat ada yang menyenggol motor Angga.
Kemudian mata nya menangkap sesosok tubuh lagi yang masih sadar namun sekarang sedang berusaha untuk mengangkat motor yang menghimpit bagian perut sampai kaki nya. Dia adalah Angga.
Sedangkan tak jauh dari tempat kejadian, Rifki Boy dan Riko tampak bengong melihat apa yang terjadi barusan.
Setelah sadar, mereka kemudian turun dari motornya dan berlari untuk membantu Angga.
Amarah Alvina seketika meluap saat melihat kondisi teman nya yang menyedihkan. Tanpa banyak bicara, ia langsung menghampiri motor nya yang tergeletak begitu saja di atas aspal, kemudian ia mengangkat motor nya dan menghidupkan nya kembali.
Setelah menghidupkan motor nya, Alvina langsung mengejar segerombolan moge yang tadi membuat nya terjatuh dan membuat teman nya tak sadarkan diri.
Untungnya saat Alvina berniat mengejar mereka, mereka masih belum jauh, sehingga Alvina bisa mengetahui mereka pergi ke mana.
Alvina melajukan motor nya dengan kecepatan di atas rata-rata supaya bisa mengejar orang-orang tadi.
Sedangkan Rifki yang tadi sempat melihat Alvina yang pergi mengejar segerombolan orang, berniat untuk menyusul Alvina.
"Kalian berdua urus mereka, bawa ke rumah sakit aja" titah Rifki sambil berlari menghampiri motor nya dan memakai helm.
"Lo mau ke mana Ki?" Tanya Boy berteriak karena Rifki sudah agak jauh dari tempat nya sekarang.
"Nyusul Alvina" jawab Rifki dengan tak kalah berteriak sambil menghidupkan motor nya.
__ADS_1
"Percuma Ki, Lo mau nyusul Alvina kemana? lo pasti gak bakal bisa nemuin di mana Alvina sekarang" ujar Riko mengingatkan.
"Alvina sekarang lagi ngejar cowok-cowok tadi Rik, gue gak bakal nyusul dia kalo dia gak sendirian, tapi sekarang dia lagi sendirian ngadepin lima orang" ucap Rifki dengan nada khawatir.
"Alvina emang lagi ngejar mereka, tapi lo jiga gak bakal tau mereka mau ke mana dan lewat jalan mana. Lo bukan cenayang yang bisa tau di mana mereka berada" Riko berteriak memberi tahu Rifki agar ia mengurungkan niatnya.
Rifki yang mendengar ucapan Riko pin hanya bergeming.
Tak lama kemudian, Rifki turun dari atas motor nya dan menendang ban motor nya sendiri untuk melampiaskan kekesalan nya.
"Aaa... Lo jadi pacar gak guna banget tau gak Ki" teriaknya.
"Dari pada lo teriak-teriak gak jelas gitu mending lo nyari mobil biar bisa bawa mereka ke rumah sakit gih" pinta Boy.
Rifki memandang Angga dan Citra secara bergantian kemudian menghela nafas panjang.
Ia melihat Citra yang tidak sadarkan diri, dan melihat Angga yang meringis menahan sakit pada perut nya yang tertimpa stang motor.
Setelah beberapa saat, Rifki kembali menaiki motor nya dan menghidupkan nya.
"Lo mau kemana?" Tanya Riko.
"Katanya tadi di suruh nyari mobil" jawab Rifki.
"Ya udah sono, jangan lama-lama kasian mereka" ujat Riko.
.
.
.
Berbeda dengan Rifki yang kelimpungan mencari mobil, Alvina nampak mengendarai motor nya dengan ugal-ugalan, apa lagi jalanan yang di lalui nya merupakan jalanan yang sangat sepi, sehingga membuat ia lebih leluasa bergerak.
Pada saat mereka menemuka belokan, orang yang di kejar Alvina pun berpencar. Dua orang belok dan yang tiga lagi lurus.
Alvina lebih memilih untuk membelokkan motor nya mengejar yang dia orang tadi.
Setelah beberapa menit, Alvina sudah berhasil mengejar mereka. Dan kini posisi nya tepat berada di sisi sebelah kanan si pengendara.
Orang yang mengendarai motor tersebut pun mengalihkan pandangan nya ke arah Alvina.
"Hebat juga lo bawa motor nya" ujar orang tersebut.
Kalo dari suaranya sih Alvina bisa menebak jika dia masih muda, mungkin sekitar satu atau dua tahun lebih tua dari usianya.
__ADS_1
"Berhenti atau masuk rumah sakit?!" Ujar Alvina mengancam.
"Gue gak bakal berhenti dan gue juga gak bakal masuk rumah sakit" balas orang tersebut.
Alvina yang mendengar penuturan pria tersebut pun tersenyum miring di dalam helm full face nya.
Tanpa di sadari oleh pria tadi, Alvina menjulurkan sebelah kaki nya ke arah motor yang ada di sisi nya.
Dengan sekuat tenaga, Alvina menendang bagian depan motor.
Karena tidak bisa menjaga keseimbangan motor nya, akhirnya pria tersebut jatuh bersamaan dengan motor nya yang juga jatuh.
Melihat itu, Alvina tersenyum puas, ia turun dari atas motor nya sambil membuka helm yang di gunakan nya.
"Temen lo gak setia kawan banget ya" ujar Alvina sambil mendekati pria tersebut.
Memang tadi pas pria yang motor nya di tendang oleh Alvina, teman nya hanya melirik sekilas ke arah belakang dan kembali melajukan motornya.
Dengan santai Alvina mengambil salah satu tangan pria itu dan memelintir nya me belakang.
"Aduh aduh aduh.. lepasin" pria tersebut mrngaduh kesakitan.
"Siapa nama lo?" Tanya Alvina masih santai.
"Nama gue Denis" jawab pria tersebut.
"Di suruh sama siapa?" Tanya Alvina lagi.
"Gak ada yang nyuruh, kita-kita cuman iseng aja tadi" jawab Denis.
"Jawab jujur atau lo beneran masuk rumah sakit?." Alvina mulai kesal.
"Gue udah jujur kali" ujar Denis.
Alvina yang mendengar perkataan Denis pin mendengus kesal. Kemudian memelintir tangan denis lebih kencang lagi.
"Akhh.. ampun ampun" teriak Denis kesakitan.
Bukan nya melepaskan tangannya, Alvina malah semakin kuat memelintir tangan Denis.
"Akhh... Ya udah iya gue jawab jujur ni, tapi lepasin dulu, sakit nih" ujar Denis mengalah.
Alvina sedikit mengendurkan pelintiran nya.
"Siapa?" Tanya Alvina tak sabar.
__ADS_1
"Dia....