
"Ngapain ke sini?" Tanya Alvina pada orang yang masih berdiri di belakang nya.
"Emang nya gak boleh?" Tanya orang tersebut.
"Boleh. Ya udah aku pergi dulu" ujar Alvina sambil berdiri dan memasukkan handphone nya ke dalam saku.
Ia berniat pergi dari sana, namun baru saja Alvina melangkah, tangan nya sudah di cekal oleh orang yang tadi menepuk pundak nya.
"Tadi kenapa gak ke sekolah sih, kamu tau gak sih kalo aku tuh nyariin kamu di sekolah sampe kaki aku pegel?" Tanya orang tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Rifki.
"Ngapain nyariin?" Tanya balik Alvina.
"Mau ngobrol aja sih" jawab Rifki.
"Sekarang jangan dulu pulang ya.. kita ngobrol di sini. Aku kangen tau" pinta Rifki.
"Masih ada urusan" jawab Alvina.
"Yah.." ucap Rifki kecewa.
"Aku pergi dulu " pamit Alvina.
Tanpa menunggu jawaban Rifki, Alvina segera pergi keluar cafe setelah tadi ia membayar minuman dan makanan nya yang tadi ia pesan.
Rifki hanya diam mematung melihat punggung Alvina yang semakin menjauh.
Setelah Alvina tak terlihat lagi, ia lalu melangkahkan kaki nya keluar dari cafe dan pulang.
-•°•°•°•°•°•°•-
Satu hari telah berlalu, kini Alvina tengah berdiri menatap rumah sakit dengan Citra yang setia mengandeng tangan nya.
"Kalo lo emang gak yakin.. lo batalin aja" ucap Citra menyadarkan Alvina yang terdiam mematung di depan rumah sakit.
Alvina yang semula melamun, segera menoleh ke arah Citra dengan seulas senyuman.
"Mana bisa di batalin, lo tenang aja ya. Lo cukup tungguin gue du depan ruang operasi" ujar Alvina.
"Tapi gimana kalo..." Belum sempat Citra menyelesaikan ucapan nya, Alvina telah terlebih dahulu memotong nya.
__ADS_1
"Shutt.. lo tenang aja, do'a-in aja biar operasi nya berhasil" potong Alvina.
"Ya udah yuk kita masuk" ajak Alvina.
Citra mengangguk mengiyakan dengan lesu.
Satu jam telah berlalu, kini Citra tengah mondar-mandir di depan pintu ruang operasi sambil menggigit kuku.
Kini sahabat satu-satu nya tengah berjuang melawan penyakit yang selama ini menyerang tubuh nya, entah ia akan menang melawan penyakit nya atau malah kalah.
Ia hanya bisa mendo'akan Alvina supaya bisa melawan penyakit nya dan keluar dari ruang operasi dengan selamat.
Ini baru setengah jam lebih Alvina berada di dalam ruang operasi dengan beberapa dokter dan perawat yang menjalankan tugas nya.
Namun Citra merasa sudah berjam-jam menunggu untuk pintu ruangan operasi terbuka dan keluar seorang dokter yang memberikan kabar bahagia dan tidak membuat nya bersedih atau bahkan kecewa.
"Kenapa lama banget sih" gumam Citra.
Drett.. Drett.. Drett...
Citra menoleh ke arah handphone nya yang berbunyi.
Ia segera membungkuk untuk mengambil handphone nya yang berada di kursi di belakang tubuh nya.
Ia kemudian mengangkat panggilan telapon dari Rifki dengan malas.
"Ada apa?" Tanya Citra.
"Lo tau Alvina kemana gak?" Tanya balik Rifki.
"Gak tau" jawab Citra singkat.
"Dia kemana ya?" Tanya Rifki lagi.
"Mana gue tau" jawab Citra.
"Udah lo coba telpon?" Tanya Citra.
"Udah, tapi nomor nya gak aktif" jawab Rifki.
__ADS_1
'Iya lah gak aktif, orang Hp nya aja ada sama gue dengan keadaan mati' ucap Citra dalam hati.
"Lo coba ke rumah nya" saran Citra.
"Udah gue cari ke rumah sama cafe, tapi dia tetep gak ada" jawab Rifki.
"Gimana dong?" Tanya Rifki memelas.
"Gue gak tau, dia juga hari ini belom ngasih kabar" ujar Citra.
"Udah dulu ya, gue masih ada urusan" pamit Citra.
Tanpa menunggu jawaban dari Rifki, Citra langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Setelah meletakan kembali handphone nya di tempat semula, Citra kembali berjalan mondar-mandir sambil sesekali menengok ke arah pintu yang tak kunjung terbuka.
Setelah puluhan kali bolak-balik di depan pintu, ia pun merasa kakinya mulai pegal.
Citra kemudian duduk di kursi tunggu sambil memijit kaki nya yang pegal.
"Kok lama banget sih, padahal kan ini udah dua jam loh Alvina di dalam" gumam Citra.
Tak lama setelah Citra bergumam, tampak ruangan operasi terbuka dan menampakan seorang pria dengan pakaian khas nya.
Citra segera berdiri menatap orang yang keluar dari ruangan operasi Alvina.
"Gimana dok?, Operasi nya berjalan lancar kan? Operasi nya pasti berhasil kan dok? Sekarang keadaan Alvina gimana?."
Belum sempat orang yang di panggil dokter oleh Alvina menutup kembali pintu dengan rapat, ia sudah di hadiahi dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Citra dengan tatapan berharap.
Dokter yang bernama Fajar tersebut tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Citra.
"Gimana kalo kita k ruangan saya aja, biar enak ngobrolnya" saran Dokter Fajar.
Citra menganggukkan kepalanya dan berjalan mengikuti Dokter Fajar yang telah berjalan menuju ruangan nya.
Dokter Fajar dan Citra masuk ke dalam ruangan dokter Fajar.
"Silahkan duduk" ucap dokter Fajar mempersilahkan Citra untuk duduk di hadapan nya.
__ADS_1
Citra duduk di hadapan dokter Fajar setelah dokter Fajar mempersilahkan nya untuk duduk.
Kini mereka hanya terhalang oleh meja kerja milik dokter Fajar