Cewek Dingin & Cowok Playboy

Cewek Dingin & Cowok Playboy
Jatuh Bersama


__ADS_3

Ia berjalan lebih cepat mendekati Alvina walaupun kesulitan melewati jalan super mini itu.


Dengan gerakan cepat, Ara menarik tangan Alvina ke belakang dan mendorong kembali tubuh Alvina ke depan.


Alvina yang tidak bisa menjaga keseimbangan nya karena serangan mendadak dari Ara tidak bisa melakukan apa-apa selain berpegangan pada apa saja yang bisa di gapai nya.


Dan karena Ara usai mendorong Alvina, otomatis tangan nya terulur ke arah Alvina.


Alvina tak memikirkan apapun langsung berpegangan pada tangan Ara tanpa berteriak dan malah menutup mulut nya dengan tangan yang tidak memegang tangan Ara.


"Arkh!.."


Ara yang kaget tentu langsung berteriak. Karena tarikan dari Alvina pada tangan nya sangat kuat membuat ia ikut terbawa jatuh ke dalam jurang tersebut.


"ALVINA!.."


"ARA!.."


Citra, Boy dan Riko yang melihat hal tersebut tak bisa berbuat banyak selain bisa berteriak memanggil nama teman nya yang terjatuh ke jurang.


Angga dan Rifki yang mendengar teriakkan tersebut segera menoleh.


Di lihat nya Alvina dan Ara yang terguling memasuki jurang lebih dalam lagi. Teriakan Ara yang semula kencang, semakin lama semakin terdengar lirih dan akhir nya menghilang.


Ara mendarat dengan kepala nya yang terantuk batang pohon di dasar jurang dan pingsan.


Sedangkan Alvina mendarat dengan kepala yang terantuk pohon dan perut nya terantuk batu pohon di sebelah pohon tersebut dengan begitu keras.


Alvina yang masih sadar segera berdiri dengan tangan yang memegang tangan nya sambil meringis menahan sakit pada kepala dan perut nya.


Kedua tangan Alvina yang memegang perutnya kini sudah penuh dengan darah segar yang mengalir membasahi baju nya. Begitu juga dengan kepala nya yang berdarah hingga sampai pada alis nya.


Semua orang yang melihat hal tersebut segera berlari turun dari jalan untuk menuju dasar jurang.


Rifki yang lebih dulu sampai si dasar jurang tersebut langsung menghampiri Ara yang tergeletak dengan mata tertutup.


"Ara.. Ara.. hey bangun dong, jangan bikin gue khawatir" ucap Rifki sambil menepuk-nepuk pipi Ara setelah mengangkat kepala Ara je pangkuan nya.


Tak kunjung mendapatkan respon dari sahabat massa kecilnya itu, Rifki segera mengangkat tubuh Ara dan membawanya keluar dari dasar jurang meninggalkan semua orang yang menatapnya dengan tatapan tak percaya.


"RIFKI ANGGARA.. LO BENER-BENER YA!!" teriak Citra geram.


Rifki terus berjalan tanpa mendengarkan ocehan-ocehan yang keluar dari mulut Citra.

__ADS_1


Semua orang geleng-geleng di buat nya.


"Argh.." Alvina meringis lirih dengan kesadaran yang hampir menipis.


Semua orang tampak menoleh ke arah Alvina dan langsung menghampiri nya dengan tergopoh-gopoh.


"Ya ampun Alvina.. bekas operasi lo" ucap Citra panik sambil ikut memegangi perut Alvina.


Matanya tampak berkaca-kaca saat melihat kondisi sahabat satu-satu nya itu.


"S-sakit Cit" lirih Alvina sambil mendudukkan tubuh nya dan memejamkan mata nya.


Kristal bening yang sedari tadi di tahan nya seketika jatuh membasahi pipi nya. Selama ini Alvina tak pernah berkata "Sakit" sekalipun, jika ia sampai mengatakan Sakit itu berarti rasa sakit yang dialami oleh Alvina memang sangat sangat sakit.


"L-lo tahan bentar ya Na, kita bakal bawa lo ke rumah sakit" ucap Citra.


Alvina tak menjawab, ia hanya meringis memegang perut nya sambil memejamkan mata nya.


Angga segera menghampiri Alvina dan Citra dengan langkah lebar nya.


Setelah sampai tepat di samping Alvina, Angga langsung menggendong Alvina tanpa bicara.


Citra diam membiarkan Angga membawa Alvina pergi dari dasar jurang.


Ia hanya menangis tersedu-sedu sambil menatap tangannya yang telah berwarna merah akibat darah dari luka Alvina.


"Udah Cit, lo jangan nangis gini. Mending sekarang kita susul Angga sama Alvina aja yuk. Kasian Alvina kalo ntar pas di sana dia gak liat lo di samping dia" ucap Riko menenangkan.


"Gue sahabat gak guna Rik, gue gak bisa jagain Alvina. Padahal gye yang maksa dia buat ikut camping, tapi sekarang pas Alvina celaka gue gak bisa bantu dia sedikitpun" ucap Citra masih dengan tangisnya namun tidak sederas tadi.


"Tapi harus nya sekarang lo ada di sisi dia buat ngasih dia semangat" ujar Boy.


Citra tak menjawab, ia hanya menunduk sambil menghapus air mata nya yang masih tak henti-henti nya menetes.


"Udah.. bangun yuk, kita nyusul Angga" ajak Riko sambil menarik salah satu tangan Citra.


Dengan beribu-ribu bujukan, akhirnya Citra mau berjalan dan menyusul Angga yang mungkin sudah berjalan cukup jauh mengingat mereka sudah lama berada di sana.


.


.


.

__ADS_1


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di jalan setapak yang di kelilingi pepohonan. Kini Angga berjalan cepat dengan menggendong Alvina yang sudah mulai kehilangan kesadaran nya.


Hal ini dapat dirasakan oleh Angga karena tubuh Alvina serasa semakin berat dan tangan nya juga yang memegangi perutnya sudah mulai terlepas.


Angga melirik ke bawah, dimana terdapat Alvina yang memejamkan mata nya dengan sesekali bergumam lirih.


Alvina yang terlalu banyak mengeluarkan darah akhirnya tak sadarkan diri.


Angga mempercepat langkahnya menuju area camping.


Sesampainya di sana, Angga segera membawa Alvina ke tenda seorang dokter yang memang di minta ikut oleh pembina agar tidak kesulitan bila ada yang cedera atau sakit.


Semua orang yang melihat Alvina di gendong oleh Angga dengan kondisi berlumuran darah segera mendekat untuk menanyakan apa yang terjadi.


"Angga, itu si Alvina kenapa?" Tanya teman Angga.


"Gak ada waktu buat jawab pertanyaan lo" ketus Angga sambil terus berjalan.


"Tadi Ara yang cedera, sekarang Alvina lebih parah" gumam teman Angga yang lainnya dan di angguki oleh yang lain.


"Loh loh loh, ini kenapa lagi?" Tanya seorang dokter yang melihat Angga datang ke tenda nya sambil membawa Alvina yang berlumuran darah.


"Gak usah banyak tanya deh dok, obatin aja temen saya" ucap Angga.


"Punya keponakan satu kok gini amat sih" gerutu dokter tersebut pada Angga sambil mengambil peralatan nya.


Angga segera menurunkan Alvina di dalam tenda tersebut. Ia tak keluar, ia malah memperhatikan Alvina yang sedang di periksa oleh adik ibu nya itu.


Usai memeriksa keadaan Alvina, dokter tersebut menatap Angga dengan serius.


"Luka di kepala nya gak seberapa, tapi bekas jahitan di perutnya sekarang terbuka lebar. Dia harus segera di bawa ke rumah sakit, karena di sini tidak ada alat-alat yang bisa membantu" ucap dokter tersebut.


"Bekas jahitan?" Gumam Angga yang masih terdengar oleh dokter.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Dukung terus karya aku dengan cara like, komen, and Vote. Kalo suka sama ceritanya tolong sumbangkan poin dengan berbentuk hadiah ya🙃😊


__ADS_2