
"Lo kenal gak dia siapa?"
"Kenal sih enggak, cuman... muka nya tuh mirip banget sama lo Na" jawab Citra.
"Terus dia juga nanya-nanya, gimana keadaan lo, selama ini lo tinggal di mana, sama siapa aja lo deket, dapet duit dari mana, pokoknya banyak deh" lanjut Citra.
Kening Alvina semakin terlihat mengernyit mendengar deretan kalimat yang diucapkan oleh Citra.
Kira-kira siapa pria yang mirip dengan nya itu, bahkan sampai menanyakan masalah pribadinya.
Tak ingin terlalu memikirkan nya, Alvina segera merebahkan tubuhnya di sebelah Citra yang sedari tadi sudah berbaring nyaman.
"Gak mau nanya lagi nih? Kalo enggak, gue mau tidur" ujar Citra.
Alvina menggeleng menjawab pertanyaan Citra, ia kemudian memejamkan matanya untuk menyelami dunia mimpi.
Begitupun Citra yang ikut memejamkan matanya menyusul Alvina.
-•°•°•°•°•°•°•-
Pagi telah menyapa, sang surya dengan malu-malu menampakkan dirinya. Sinarnya menerpa bangunan yang ada di seluruh penjuru dunia.
Alvina menggeliat saat sinar matahari menerpa wajah polos tanpa make up miliknya.
Melirik ke sebelah nya dan tidak mendapati sahabat nya yang cerewet di pagi ini.
Di liriknya jam yang menggantung di dekat jendela yang menunjukkan pukul setengah delapan pagi.
Tidak seperti biasanya Alvina bangun se-siang ini. Biasanya ia akan bangun sebelum Citra berangkat ke sekolah.
Alvina menghela nafasnya sambil memejamkan matanya sebelum ketukan pintu mengalihkan perhatian nya.
Dengan susah payah, tanpa menjawab panggilan suara dari orang yang ada di depan rumah nya, Alvina melangkah mendekati pintu walaupun susah.
Ketukan kembali terdengar saat ia hampir mencapai gagang pintu.
'Ceklek'
Alvina memandangi tubuh pria yang berdiri di depan nya itu.
Dari mulai wajah yang terlihat mirip dengan nya sendiri, baju santai yang melekat pada tubuhnya, hingga ke sepatu yang di kenakan nya. Semuanya tak luput dari perhatian Alvina.
Seperti nya umur pria di depannya ini tak terlalu jauh beda dengannya, paling tiga atau empat tahun lebih tua darinya.
Apa mungkin ini adalah pria yang di ceritakan oleh Citra padanya?
Bruk.
Tiba-tiba pria jangkung itu menubruk tubuh nya pelan dan langsung mendekap erat tubuh Alvina yang masih terasa sedikit lemas.
Alvina mematung, ia terkejut saat ada seorang pria yang berwajah hampir mirip dengan nya itu memeluknya secara tiba-tiba.
Bahkan bahu Alvina terasa sedikit basah terkena lelehan air yang keluar dari kedua mata pria itu, entah karena apa.
"Hai selamat pagi" sapa pria tersebut sambil tersenyum manis setelah melepaskan dekapannya dan mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya.
Alvina tersadar saat pria di depannya menyapa nya dengan hangat.
__ADS_1
Mata pria tersebut tampak kembali berkaca-kaca saat melihat Alvina kini telah berdiri di hadapannya.
Alvina bisa melihat sebuah kerinduan yang tersimpan di dalam matanya.
"Maaf.. anda siapa ya?" Tanya Alvina.
Pria tersebut tersenyum sebelum akhirnya menjawab, "perkenalkan nama aku Arshaka Najendra" jawab nya memperkenalkan diri.
"Pasti kamu bingung kan kenapa wajah kita mirip?" Arsha men-jeda ucapan nya dan melihat raut wajah Alvina yang terlihat ling-lung.
"Itu karena kita saudara kandung" lanjutnya.
Usai mengatakan bahwa mereka saudara kandung, air mata nya kembali jatuh membasahi pipinya.
Mata Alvina terbelalak tak percaya. Detak jantungnya berdegup kencang seperti habis lari maraton.
"Hah.. sodara kandung?" Beo Alvina.
Arsha mengangguk dengan semangat, ia merogoh saku celana dan mengambil dompetnya.
Ia membuka dompet tersebut dan mengambil selembar photo yang terselip di sana.
Bukan hanya photo yang ia ambil, namun juga sebuah amplop putih.
"Ini photo mommy, dan ini hasil tes DNA kita" ujar Arsha menyodorkan apa yang ia ambil.
Dengan tangan bergetar Alvina mengambil photo dan amplop putih dari tangan Arsha.
Alvina memperhatikan photo seorang wanita yang nampak cantik dan sangat sangat mirip dengan nya, hingga ia tak bisa melihat perbedaan antara wajahnya dan wajah orang yang ada di dalam photo tersebut.
Puas dengan photo, kini Alvina beralih membuka amplop.
"I-ini beneran? Kita beneran adik kaka?" Tanya Alvina menatap tak percaya pada sederet kalimat yang tersusun rapi di atas kertas putih tersebut.
"Iya, kita adik kakak. Dan kamu adik aku" jawab Arsha dengan penuh rasa haru.
"Kapan kamu tes DNA sama aku?" tanya Alvina.
"Pas kamu masuk rumah sakit gara-gara di dorong ke jurang" jawab Arsha.
"Jangan bilang kalo yang bayarin biaya rumah sakit itu kamu juga?" tanya Alvina lagi dengan suara yang mulai bergetar menahan tangisnya.
Namun, walaupun ia menahan nya sekuat tenaga, tetap saja kristal bening itu meluncur bebas membasahi kedua pipi nya.
Alvina mendongak menatap wajah Arsha. Berbeda dengan Alvina yang menatap nya dengan wajah yang di penuhi air mata, Arsha kini menatap nya dengan tersenyum.
Bruk..
Hiks... Hiks... Hiks...
Alvina mendekap tubuh jangkung di depan nya, tak peduli rasa sakit pada perut nya yang belum sembuh total. Arsha tersenyum, tangan nya terulur membalas pelukan Alvina.
Merasakan usapan lembut di punggung nya, Alvina semakin terisak di dalam dekapan Arsha.
Usapan ini yang selalu ia inginkan, dekapan hangat dari orang yang sedarah dengan nya yang tak pernah ia rasakan sebelum nya.
Mereka saling berpelukan di depan pintu rumah Alvina. Tak peduli jika ada yang melihat mereka di luar sana. Mereka ingin melepaskan kerinduan walaupun sebelum nya tak pernah bertemu.
__ADS_1
Hingga akhirnya Arsha mendorong pelan bahu Alvina agar sedikit menjauh dari tubuh nya.
Di usapnya air yang mengalir di pipi sang adik. Alvina hanya menatap nya dengan pandangan sendu.
"Kakak gak di biarin masuk rumah nih?" Tanya Arsha mencoba manyairkan suasana.
Alvina tersenyum dan akhir nya mempersilahkan kakak yang baru di ketahui nya itu untuk masuk.
.
.
.
"Sekarang jelasin sama aku, kenapa aku bisa kepisah sama keluarga kita?" Tanya Alvina setelah tadi mereka sarapan bersama.
Kini mereka berdua tengah duduk di ruang tengah dengan dua cangkir teh hijau di depan nya.
Arsha tampak menghela nafas sebelum bercerita.
"Dulu.. waktu kamu lahir, kakek sama nenek marah besar karena cucu kedua nya adalah perempuan. Mereka gak mau punya cucu berjenis kelamin perempuan. Kakek sama nenek terus aja nyuruh Dady dan mommy buat buang kamu. Sampe akhir nya, pas Dady ada kerjaan di Indonesia, Dady sama mommy bawa kamu dan ninggalin kamu di panti asuhan" cerita Arsha dengan raut wajah sendu.
Mata Alvina tampak berkaca-kaca saat mendengar cerita dari kakak kandung nya itu.
Ia tak percaya bahwa ia masih memiliki keluarga walaupun kehadiran nya tak di inginkan. Tapi ia bersyukur karena saudara kandung nya itu mau mencarinya ke Indonesia.
"Terus sekarang Dady sama Mommy di mana?" Tanya Alvina.
"Dad and Mom sekarang udah gak ada. Mereka meninggal karena kecelakaan sepuluh tahun setelah ninggalin kamu di Indonesia" jawab Arsha.
Alvina menutup mulut nya seakan tak percaya dengan apa yang di dengar oleh nya.Lalu kembali menetralkan keterkejutan nya dengan mendatarkan wajah nya.
"Makanya setelah kakak ngintai kamu selama beberapa bulan ini, kakak mutusin buat nemuin kamu. Kakak mau ngajak kamu tinggal di rumah kita, di Amerika" lanjut Arsha.
Alvina menunduk saat mendengar kelanjutan ucapan Arsha yang mengajak nya tinggal bersama di Amerika sana.
"Kayaknya aku gak bisa deh kak. Kakak tadi kan bilang, kalo kakek sama nenek gak suka sama aku" jawab Alvina sambil menunduk dan memilin jari jemari nya.
"Sekarang kita gak punya siapa-siapa lagi, kakek sama nenek tiga tahun yang lalu udah meninggal. Kakak cuman punya kamu dan kamu juga cuman punya kakak" lanjut Arsha dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
"Jadi... Kamu mau kan ikut kakak ke Amerika dan tinggal di sana?" Tanya Arsha.
.
.
.
.
.
Dukung terus karya aku dengan cara like, komen, and Vote. Kalo suka sama cerita nya tolong sumbangkan poin dengan berbentuk hadiah ya🙃😊
***Oh ya, cerita ini kan udah mau tamat, mungkin gak bakal nyampe tiga bab lagi juga udah tamat nih cerita.
Author punya niat buat bikin season dua nya. Jadi Author mau nanya sama kalian, season dua nya mau di bikin pisah atau tetep ditulis di sini?
__ADS_1
Tolong di jawab ya. Pokoknya author tunggu jawaban nya, tulis di kolom komentar 🙏***