
Setelah agak lama hening, Rifki memberanikan diri untuk kembali mengajak Alvina mengobrol.
"By.. aku minta maaf, jangan diemin aku kayak gini dong, aku tuh kangen kamu yang nge-jailin aku" ucap Rifki.
Alvina membuka mata nya dan melirik Rifki yang menunduk sambil memainkan jari-jari nya.
"Gue gak butuh permintaan maaf, gue butuh bukti" ucap Alvina.
"Sekarang mending lo pulang aja, gue mau istirahat" usir Alvina sambil memposisikan tubuh nya untuk tidur.
Rifki yang mendengar Alvina mengusir nya hanya bisa pasrah. Ia menghela nafas panjang kemudian berdiri dari duduk nya.
"Ya udah deh, aku pulang dulu. Tapi aku bakalan ke sini lagi kok. Selamat istirahat" ucap Rifki.
Sahabat-sahabat Rifki yang sedari tadi memperhatikan Rifki segera mengikuti Rifki yang berjalan keluar.
Saat Rifki sampai di depan pintu, saat itu juga Citra masuk ke dalam ruangan Alvina dengan kantong plastik besar di tangan nya.
Seketika Rifki berhenti melangkah sambil menatap Citra yabg juga tengah menatap nya.
Boy yang ada di belakang Rifki tak mengetahui jika Rifki menghentikan langkahnya karena ia berjalan sambil memainkan ponsel nya malah menabrak punggung Rifki.
Buk..
"Aduh... Kalo mau berhenti itu bilang dulu napa sih, kam sakit jidat gue jadi nya" gerutu Boy sambil mengusap-usap kening nya.
Sedangkan Rifki tak berniat untuk membalas gerutu-an Boy karena sekarang hati nya tengah di landa kesedihan akibat Alvina yang tak kunjung memaafkan nya.
Boy yang tidak mendapat kan respon dari Rifki mencoba mengikuti arah pandang Rifki.
Ia tersenyum saat melihat Citra yang berdiri di depan pintu berhadapan dengan Rifki.
"Eh ada Neng Citra yang cantik jelita rupanya" celetuk Boy.
Bukannya menjawab celetukan Boy, Citra malah menatap semua orang yang kini berdiri di belakang pintu.
"Kok kalian bisa ada di sini?" Tanya Citra keheranan.
"Kan kita punya kaki.. makanya kita semua bisa ada di sini" jawab Riko.
__ADS_1
"Siapa yang ngasih tau kalian kalo Alvina ada disini?" Tanya Citra lagi.
"BERISIK!!" teriak Alvina dari dalam ruangan nya dengan lengan yang masih menutupi wajah nya.
Semua orang mengalihkan pandangan nya ke arah Alvina yang memejamkan mata nya.
"Iya iya sorry.. nih gue bawain cemilan buat kita, lo makan duluan aja.. gue mau ngomong dulu sama Rifki" ucap Citra sambil menghampiri Alvina dan meletakkan apa yang ia bawa di meja samping Alvina.
"Hmm" Alvina menjawab.
"Gue keluar dulu sama mereka, biar lo gak ngerasa keganggu" pamit Citra.
Tanpa menunggu jawaban dari Alvina, Citra segera keluar dari ruangan itu sambil menarik kerah baju yang dipakai oleh Rifki layak nya anak kucing.
Walaupun di perlakukan seperti anak kucing, tetapi Rifki tak protes sedikit pun, malah ia mengikuti Citra yang terus saja menarik nya menuju taman rumah sakit.
Sedangkan sahabat nya hanya berdiri di depan ruangan Alvina sambil memandang Rifki yang di bawa pergi oleh Citra.
"Kita gimana?" Tanya Boy.
"Tungguin dulu aja di sini siapa tau cuman bentar" jawab Angga sambil mendarat kan bokongnya pada kursi tunggu di depan ruangan Alvina.
Sedangkan di taman yang ada di rumah sakit Medika, kini Rifki dan Citra tengah duduk di kursi panjang yang ada di sana.
"Mau ngapain sih bawa-bawa gue ke sini?" Tanya Rifki.
"Lo itu sebenernya sayang gak sih sama Alvina?" Tanya balik Citra.
Rifki yang mendengar pertanyaan yang menurut nya konyol segera menoleh kearah Citra.
"Kalo gue gak sayang sama Alvina, gue gak bakalan jadiin dia pacar gue" jawab Rifki kesal.
"Tapi sebelum nya kan.. lo juga suka macarin cewek tanpa rasa, bahkan lo bisa punya pacar empat atau bahkan lima sekaligus. Secara kan lo itu cowok playboy kelas kakap" cibir Citra.
"Tapi kan sekarang gue udah tobat" elak Rifki.
"Mana ada tobat kayak lo" cibir Citra kembali.
"Maksud nya?" Tanya Rifki tak mengerti.
__ADS_1
"Lo tobat.. tapi lo masih sering berduaan sama cewek lain bahkan lo gak segan-segan buat meluk tuh cewek" jawab Citra.
Rifki mengernyitkan dahibnya untuk mencoba mengingat-ingat kembali, setelah ia ingat waktu sebelum Alvina marah besar terhadap nya ia kemudian menggaruk kepalanya kesal.
"Tapi waktu itu gue gak meluk Ara.. gue cuman nenangin dia doang.. gak lebih" kesal Rifki.
"Tapi tetep aja... Lo itu udah punya pacar, harus nya lo nge-batasin sikap lo sama cewek lain."
"Tapi cewek itu sahabat gue dari kecil Cit.. gue gak mungkin kan ngejauhin dia."
"Lo gak harus ngejauhin dia, tapi lo harus ngebatasi doang..."
"Tapi gue gak bisa.. sekarang dia lagi butuh gue buat ngelupain kesedihan nya."
"Kesedihan apa yang lo maksud?."
"Lo lupa kalo bokap nya meninggal dengan tragis?."
"Gue gak lupa. Tapi kejadian itu udah lama kan?.. seharusnya kalo dia udah dewasa, dia gak bakalan berlarut-larut dalam kesedihan, harusnya dia bisa ikhlas nerima apa yang terjadi."
"Gue juga udah bujuk dia buat nge-ikhlasin.. tapi tetep aja dia selalu keinget sama bokap nya."
"Terserah lo deh... Kalo emang lo sayang sama Alvina, seharusnya lo ikutin saran gue tadi."
"Cuman orang bodoh yang gak bisa membedakan mana tatapan sayang sebagai sahabat dan mana tatapan sayang sebagai lawan jenis"
Setelah mengatakan itu, Citra langsung beranjak dari tempat duduk nya dan pergi meninggalkan Rifki yang terdiam mencerna ucapan terakhir Citra.
Deretan kalimat yang di lontarkan Citra terakhir kali terus berputar-putar di otak Rifki.
"Ah.. gak mungkin kan kalo Ara jatuh cinta sama gue?" Tanya Rifki pada dirinya sendiri.
.
.
.
*Aduh jadi greget sendiri aku sama si Rifki yang terlalu be*o itu..*
__ADS_1
Dukung terus karya aku dengan cara like, komen, and Vote. Kalo suka sama ceritanya tolong sumbangkan poin dengan berbentuk hadiah ya🙃😊