Cewek Dingin & Cowok Playboy

Cewek Dingin & Cowok Playboy
Alvina lagi ngambek


__ADS_3

Pagi sudah berganti siang, dan matahari kini sudah di gantikan oleh bulan.


Di cafe tempat Alvina bekerja, kini Alvina sudah bersiap untuk pulang ke rumahnya.


Ia berjalan ke arah motor yang ia parkir di belakang cafe, namun langkah nya terhenti ketika melihat seorang pria yang berbaring di atas motornya dengan bersedekap dada.


Ia menghampiri pria tersebut, dan betapa kagetnya ia saat melihat Rifki tertidur di atas motor nya dengan baju yang sama dengan terakhir kali ia melihatnya.


"Ni anak gak pulang apa gimana sih?" Gumam Alvina keheranan.


"Heh bangun" ucap Alvina membangunkan Rifki dengan mengguncangkan lengan Rifki dengan cukup kencang.


Akibat guncangan Alvina yang terlalu kencang, Rifki yang memang sedang tertidur seketika jatuh dari motor Alvina dan membuat ia seketika terkejut dan membuka matanya.


"Aduhh, punggung gue.." ucap Rifki sambil bangun dari jatuhnya dan mengusap-usap punggung dengan tangannya.


"Eh udah pulang by?" Tanya nya saat melihat Alvina yang berdiri sambil menatap nya.


"Lo ngapain tidur di sini?" Bukannya menjawab pertanyaan Rifki, Alvina malah kembali melontarkan pertanyaan pada Rifki.


"Ketiduran" jawab Rifki menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal.


"Kalo emang ngantuk, kenapa gak pulang? Malah tidur di atas motor gue?" Tanya Alvina.


"Aku nungguin kamu pulang, aku gak mau pulang sebelum kamu maafin aku" jawab Rifki.


Alvina tampak menghela nafas panjang sambil membuang muka.


"Terus gimana sahabat lo, pasti lagi nungguin lo di rumah kan?" Tanya Alvina.


"Atau jangan-jangan, lo tadi pulang dulu terus ngajak dia jalan. Pas udah hampir waktu nya gue pulang, lo kesini lagi dan pura-pura ketiduran di atas motor gue?" Lanjut nya curiga.


Rifki seketika gelagapan di buatnya, saat Alvina bertanya demikian.


Bukan karena tuduhan Alvina tepat sasaran, namun karena tadi ia berniat seperti itu, namun ia urungkan karena mengingat Alvina yang selalu menebak sesuatu dengan benar.


Dan benar saja dugaannya, Alvina menuduhnya melakukan apa yang tadi sempat melintas di otaknya. Untung saja ia tidak jadi melakukan hal itu, jadi ia tidak terlalu panik.


"Gak kok, kalo kamu gak percaya, nih liat aja chat-an aku sama Ara" elak Rifki sambil menyodorkan ponselnya yang sudah menunjukkan pesan nya pada Ara yang berisi Rifki yang membatalkan acara jalan-jalan mereka.


Alvina melirik sekilas ke arah ponsel Rifki, kemudian memandang Rifki yang juga tengah menatapnya sambil tersenyum.


"Gak usah" tolak Alvina sambil kembali berjalan menuju motor nya dan menaikinya.


"Alvina kamu mau pulang?" Tanya Rifki sambil memasukkan kembali ponselnya pada saku celana.


"Hmm" Alvina hanya menjawab dengan deheman karena ia sedang memakai helm.


"Aku ikut ya" pinta Rifki meminta ijin sambil mengambil motor nya yang terparkir tak jauh dari motor Alvina.


"Buat apa sih lo ikut?" Tanya Alvina ketus.

__ADS_1


"Emang gak boleh, kamu masih marah ya sama aku" ujar Rifki memelas.


"Gue gak bakal maafin lo sebelum lo Juju" jawab Alvina kemudian melajukan motornya menuju rumah.


Rifki yang melihat Alvina pergi pun hanya bisa menghela nafasnya panjang.


"Apa mungkin kemaren dia emang bener-bener liat pas gue lagi di cafe sama Ara ya" gumamnya.


"Terus sekarang gue harus gimana biar Alvina maafin gue?" Tanya nya pada dirinya sendiri.


"Citra!" Ujarnya ketika nama sahabat Alvina tiba-tiba melintas begitu saja di otak nya.


"Iya bener, gue harus minta bantuan Citra, siapa tau kan dia tau apa yang bisa bikin Alvina luluh dan maafin gue" lanjutnya.


Kemudian dengan lincah ia mencari nama kontak Citra dan langsung menghubunginya.


Tak lama menunggu, panggilan dari Rifki di angkat oleh Citra.


"Halo Ki, ada apa malem-malem nelpon?" Tanya Citra.


"Gue mau nanya sesuatu sama lo, boleh gak?" Rifki menjawab dengan sebuah pertanyaan.


"Boleh boleh aja sih, emangnya mau nanya apa sih?" Jawab Citra sekaligus bertanya.


"Emm itu.. anu.." Rifki tergagap.


"Anu anu, anu apa sih Ki, kalo mau nanya yang jelas dong, gue matiin juga lama-lama" sela Citra karena lama menunggu Rifki yang tidak selesai-selesai berbicara.


"Lo lagi berantem sama Alvina?" Bukan nya menjawab pertanyaan Rifki, Citra malah balik bertanya.


"Iya" jawab Rifki dengan lesu.


"Kenapa bisa berantem?" Tanya Citra kepo.


"Lo gak perlu tau, sekarang lo jawab aja pertanyaan gue tadi" ucap Rifki tak sabar.


"Yang mana?" Tanya Citra pura-pura lupa.


"Ck gak usah banyak nanya deh, mending lo buruan jawab. Gue mau ke rumah Alvina sekarang" Rifki berdecak sebal saat Citra memperlama proses ia untuk berbaikan dengan Alvina.


"Oke oke. Gini ya, Alvina itu biasanya kalo ada yang minta maaf sama dia, dia pasti nanya sesuatu sama tuh orang.


Terus kita yang mau minta maaf sama dia, harus jawab apa adanya aja, jangan ada yang di tutup-tutupi.


Apalagi kalo dia minta kita buat jawab jujur, harus di jawab jujur, kalo enggak.. dia gak bakal mau maafin kita" jelas Citra.


"Emangnya kalo kita jawab boong, dia bakal tau?" Tanya Rifki.


"Iya, dia bakalan tau kita boong atau enggak. Gue juga gak tau sih, dia tau nya dari mana. Tapi gue pernah nyoba boong sama dia, ehh malah ketauan" jawab Citra memberi tahu.


"Gitu ya.. ya udah deh, makasih ya" ujar Rifki dan langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban Citra.

__ADS_1


Sedangkan Citra hanya menggerutu saat Rifki langsung saja mematikan telpon tanpa menunggu jawaban nya.


"Dasar gak ada akhlak, udah minta tolong malem-malem, pas udah di tolongin malah langsung di matiin" gerutunya.


Sedangkan Rifki saat ini sedang memikirkan apa yang di ucapkan Citra tadi.


Setelah agak lama termenung memikirkan cara agar Alvina mau memaafkan nya, akhirnya Rifki mengambil satu keputusan.


"Ya udah deh, kalo ini cara satu-satunya buat dapetin maaf dari Alvina, gue jujur aja. Lagian kan gak enak kalo gini terus, di diemin mulu" putus nya kemudian menaiki motornya dan menyusul Alvina


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, kini motor Rifki sudah terparkir di halaman rumah Alvina.


Rifki segera turun dari motornya setelah melepaskan helmnya, dan berjalan mendekati pintu rumah Alvina berniat untuk mengetuk pintu.


"Huh.. gue pasti bisa" Rifki menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu Alvina.


Tok.


Tok.


Tok.


Rifki mengetuk pintu dengan sedikit keras agar orang yang berada di dalam rumah dapat mendengar bahwa ada orang yang bertamu.


Tak lama setelah pintu di ketuk oleh Rifki, pintu terbuka dan menampilkan sesosok tubuh yang berdiri sambil menatap nya datar.


"Ngapain ke sini malem-malem?" Tanya Alvina.


"Mau minta maaf" jawab Rifki menundukkan kepalanya sambil menautkan kedua jari telunjuk nya di depan dada.


"Udah gue bilang, gue gak bakalan maafin lo kalo lo gak mau jujur" ucap Alvina dan berbalik hendak kembali masuk.


Namun saat ia akan melangkahkan kakinya, ada sebuah tangan yang menahan pergelangan tangannya.


"Ya udah aku jawab jujur, tapi kamu jangan marah lagi ya" ucap Rifki menarik tangan Alvina untuk keluar dari rumah dan duduk di teras.


Alvina hanya diam dan mengikuti ke mana Rifki membawanya.


Rifki menghela nafas panjang sebelum berbicara.


"Kemaren itu aku jadi ke rumah kami karena Ara dateng dari Jerman, papa nya baru aja meninggal. Dan dia pengen nenangin diri di sini, dan yang jemput dia ke bandara itu aku" ucap Rifki.


Alvina menoleh ke arah Rifki yang sedang duduk di sebelah nya dan menatap lurus ke depan.


"Kemaren juga aku yang nenangin dia pas nangis-nangis karena gak rela papa nya pergi ninggalin dia. Akhirnya aku bawa dia ke cafe yang sepi, dan di sana aku nyoba buat menghibur dia.


Dan berhasil, dia senyum lagi pas aku ajak dia becanda, bahkan dia sampe ketawa pas gue nge-hibur dia.


Dan saat itu ponsel aku dalam mode silent, jadi pas kamu nelpon gak ke angkat. Terus pas aku bilang lagi di rumah, sebenernya aku boong, karena aku gak mau kamu marah sama aku gara-gara jalan sama Ara" lanjut nya.


"Sekarang gue udah jawab jujur, lo maafin gue kan?" Tanya Rifki dengan hati berdebar-debar menunggu jawaban Alvina.

__ADS_1


__ADS_2