
"Bia gue mau curhat nih sama lo" ujar Alvina.
Bia adalah nama salah satu buaya yang ada di danau tersebut, Alvina menamai buaya tersebut karena buaya itu sudah ada di danau ini saat Alvina pertama kali ia datang ke sini.
Saat Alvina pertama kali datang ke danau ini untuk menenangkan diri, ia melempar batu-batu kecil ke danau tersebut, dan buaya yang sekarang di namai Bia itu datang menghampiri nya.
Ia juga sering curhat pada buaya tersebut.
Entahlah, ia merasa jika Bia selalu mendengarkan curhatan nya, makanya jika ia sedang ingin curhat seperti sekarang ini, ia selalu melempar batu pada tempat di mana ia sering melihat Bia pergi ke sana dan keluar dari sana.
Kenapa ia bisa mengetahui jika itu adalah Bia atau bukan?, jawaban nya adalah karena ia memasang sebuah kalung di leher nya Bia, sehingga ia bisa mengenali buaya tersebut Bia atau bukan.
Seperti biasa nya, Bia hanya diam di sebelah Alvina karena memang ia tidak bisa berbicara bahasa manusia.
"Gue tuh lusa mau operasi, tapi kemungkinan operasi berhasil itu cuman dikit, gue sih gak yakin ya bakal berhasil, tapi.. ya gimana ntar aja lah ya" ucap Alvina memulai curhatan nya.
"Dan lo tau gak, sekarang gue itu lagi keseeel banget" Alvina menjeda kalimat nya.
"Tadi kan gue mau bilang sama pacar gue kalo gue mau ngejalanin operasi nih ya, tapi pas gue nyamperin dia di rumah nya, gue liat sahabat cewek nya itu lagi nyender di bahu nya pacar gue, terus yang bikin gue lebih kesel lagi itu, pacar gue malah gak nolak, dia malah ngelus-ngelus punggung tuh cewek. Dia juga gak sadar pas gue ada di belakang nya" lanjut Alvina.
Masih banyak lagi curhatan Alvina pada Bia, dan Bia juga dengan setia menunggu dan mungkin mendengarkan curhatan Alvina yang sepanjang kereta api.
Hingga tak terasa siang sudah beranjak dan malam mulai menghampiri.
Alvina tak sengaja melirik jam tangan yang melingkar di tangan kiri nya yang menunjukkan pukul 17.25.
"Astaghfirullah, udah magrib ternyata. Lo pulang sana Bi" ujar Alvina.
Seolah mengerti dengan apa yang di katakan oleh Alvina, Bia pergi dari tempat nya tadi menuju danau yang di kelilingi oleh pohon besar.
Alvina yang melihat hal tersebut hanya mengulas senyum tipis. Sekarang hatinya mulai terasa lebih tenang, tidak seperti tadi saat pertama kali ia datang ke sini.
Alvina kemudian berdiri dan memakai helm nya. Usai mengenakan helm, Alvina menaiki motor nya dan melaju kan motor nya menuju rumah nya.
.
.
.
Alvina merebah kan tubuh nya di atas kasur, saat melihat lampu notifikasi pada ponsel nya menyala, Alvina mengambil ponsel nya dan melihat siapa yang menghubungi nya.
Alvina memutar bola mata nya malas saat melihat nama Rifki terpampang nyata di layar ponsel nya.
__ADS_1
Rifki
"By udah pulang belum."
"Jangan lama-lama di sana, ntar masuk angin lagi."
"Sayang.."
"By..."
"Masih marah ya."
"Aku minta maaf ya, aku gak bermaksud bikin kamu kesel atau marah kayak gini."
Dan masih banyak lagi pesan yang di kirim oleh Rifki pada Alvina di aplikasi berlogo telepon berwarna hijau tersebut.
"Ni anak gak ada kerjaan apa gimana sih" gumam Alvina.
"Pake spam-spam segala" lanjut nya.
"Biarin aja lah" ujar Alvina kemudian kembali meletakan ponselnya di atas nakas di sisi ranjang.
Alvina kemudian memejamkan mata nya dan pergi menuju alam mimpi nya.
Sedang kan di tempat lain, kini Rifki tengah mondar-mandir di kamar nya sambil menatap ponsel nya.
"Duh giman nih, Alvina kayak nya masih marah deh. Padahal kan gue udah jelasin semuanya sama dia tadi" gumam Rifki gelisah.
"Mana udah malem lagi... Ah gak papa lah, besok juga di sekolah pasti ketemu. Besok minta maaf lagi aja sambil beliin dia makanan, kan dia suka makan tuh, jadinya dia pasti bakal maafin gue" ujar Rifki kemudian meletakkan ponsel nya di atas meja belajar nya, dan ia segera naik ke atas kasur king size milik nya.
Dan ia pun juga menyusul Alvina menuju alam mimpinya.
-•°•°•°•°•°•°•-
Pagi sudah datang, mentari mulai menampakkan diri nya.
Tidak seperti biasa nya, sekarang Rifki sudah siap dengan seragam sekolah nya dan tengah memakan sarapan nya sendiri karena yang lain belum turun.
"Tumben den Rifki udah siap, biasa nya juga nunggu di panggil dulu baru turun" celetuk bi Inah saat melihat Rifki sudah ada di meja makan dan tengah memakan sarapan nya. Padahal jam baru menunjuk kan pukul enam pagi.
Rifki menoleh ke arah bi Inah saat mendengar suara nya.
"Hehehe.. ini bi, aku mau ke suatu tempat dulu sebelum sekolah" jawab Rifki.
__ADS_1
"Mau keman emang nya?" Tanya bi Inah penasaran.
"Bibi kepo deh" ujar Rifki.
Rifki kemudian berdiri dan menggendong tas nya di pundak. Kini ia sudah siap untuk berangkat.
"Oh iya bi,.kalo Ara udah turun, ntar bilangin sama dia kalo saya udah berangkat duluan gitu ya bi" pinta Rifki pada bi Inah.
"Iya den" ujar bi Inah.
"Ya udah, saya berangkat ya bi" pamit Rifki.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam" balas bi inah.
Setelah mengucapkan salam dan sudah mendapatkan jawaban dari bi Inah, Rifki segera pergi menuju garasi.
Usai memakai helm nya dan menaiki motor nya, Rifki segera melajukan motor nya membelah jalanan kota.
.
.
.
"Hoaam" Alvina baru saja bangun dari tidur nyenyak nya.
Ia menguap sambil meregangkan otot-otot nya yang terasa kencang.
"Duh baru juga jam enam pagi" gumam Alvina.
"Laper lagi, masak sendiri apa makan di luar aja kali ya" pikir Alvina.
"Di luar aja deh" putus nya.
Alvina kemudian turun dari ranjang nya dan berjalan menuju kamar mandi.
Setelah selesai dengan urusan kamar mandi nya, Alvina keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuh nya.
Ia berjalan menuju lemari untuk mengambil satu style baju dan memakai nya.
Setelah mengenakan pakaian dan berdandan, Alvina mengambil ponsel dan dompet nya kemudian keluar dari rumahnya.
__ADS_1
Alvina mengendarai motor nya menuju cafe Asmara, tempat nya bekerja paruh waktu.
Namun sekarang ia datang bukan untuk bekerja, namun untuk memanjakan perut nya dengan makanan enak sebelum ia melakukan operasi.