Cewek Dingin & Cowok Playboy

Cewek Dingin & Cowok Playboy
Arabella Devina Lorenzo


__ADS_3

"Rifki!" Panggil seorang gadis.


Deg...


Suara itu.. suara itu adalah suara orang yang sangat ia rindukan.


Dengan jantung berdebar berharap dugaan nya benar, Rifki memutar tubuh nya menghadap asal suara yang memanggilnya.


"Ara.." gumam Rifki dengan senyum mengembang.


Gadis yang di panggil Ara oleh Rifki pun segera berlari menghampiri Rifki dengan senyum mengembang.


Dia Ara, lebih tepatnya Arabella Devina Lorenzo. Putri semata wayang dari keluarga Lorenzo. Ia memiliki wajah bulat dan mata yang juga bulat, bibirnya agak tipis berwarna pink alami, dengan hidung yang mancung.


Ia merupakan sahabat kecil Rifki yang telah lama berpisah dengan Rifki. Mereka berpisah karena orang tua Arabella yang membawanya ke Jerman dan menetap di sana selama enam tahun.


"Lo kapan kesini?, Kenapa selama ini gak pernah ngabarin gue?" Tanya Rifki mendongak mencoba menahan air mata agar tidak jatuh ke pipinya.


"Gue baru dateng, sorry gue gak bermaksud buat gak ngabarin lo, tapi waktu itu handphon gue ilang dan gue lupa sama no telpon lo" jawab Arabella menjelaskan.


(Arabella di panggil nya Ara aja lah ya, biar gak ribet😁, tapi ini panggilan khusus Rifki ke Ara lho).


"Kalo gak inget no gue, lo bisa kan minta sama bokap atau nyokap lo?." Rifki bertanya sembari menghapus air mata yang lolos begitu saja tanpa bisa ia tahan.


"Tapi handphone ortu gue juga waktu itu ilang, handphone mereka ada di dalam tas gue sama handphone punya gue." Ara menjelaskan.


"Ya udah lah gak papa. Yang penting sekarang lo udah balik ke sini dan nemuin gue" ujar Rifki mendorong pelan bahu Ara agar melepaskan pelukannya dan menuntun Ara untuk duduk di sofa.


"Makasih ya" ujar Ara.


"Makasih buat apa?" Tanya Rifki keheranan.


"Makasih karena lo gak ngelupain gue" jawab Ara.

__ADS_1


"Lo ngomong apaan sih, ya jelas gue gak bakal ngelupain lo lah, lo kan sahabat terbaik gue dari kecil. Kalo gue amnesia, gue baru gak bakal inget sama lo" ujar Rifki.


"Udah deh jangan bahas yang bikin suasana jadi melow" lanjut Rifki.


"Btw lo kesini sama siapa?" Tanya Rifki mengalihkan pembicaraan.


"Sendiri" jawab Ara.


"Orang tua lo gak ikut?" Tanya Rifki lagi.


"Enggak, mereka masih sibuk. Kalo ada waktu katanya sih mau nyusul ke sini" jawab Ara.


"Lo berapa lama tinggal di sini?, Pasti lo gak bakalan netep tinggal di sini kan?" tanya Rifki.


"Iya sih di sini gue juga gak bakalan lama. Niat awalnya kan gue kesini cuman mau nemuin lo sama bokap nyokap lo biar gak ngelupain gue. Gue di sini paling cuman satu bulan.


Tapi lo tenang aja, abis gue libur semester terakhir, gue bakal tinggal di sini dan sekolah sama lo" jawab Ara.


"Hah.. seriusan? lo bakal tinggal di sini abis libur semester?" Tanya Rifki dengan antusias.


"Bagus lah kalo gitu, gue seneng denger nya. Terus rencananya lo mau tinggal di mana?, Di apartemen apa di mana?"


"Itu dia, gue juga masih bingung mau tinggal di mana. Lo bisa nyariin gue tempat tinggal gak?" Jawab Ara sekaligus bertanya.


"Kenapa gak di sini aja?" Tanya balik Rifki.


"Tadi juga mamah nawarin buat tinggal di sini sama kita, tapi katanya takut kamu marah terus gak mau tinggal sama dia" ucap Sarah saat datang dari dapur dengan membawa minuman dan cemilan untuk mereka dan kembali pergi menuju kamar nya.


"Ngapain harus marah coba, lagian kan ini bukan kemauan lo juga. Pokoknya lo harus tinggal di sini, gue gak mau tau" omel Rifki.


"Gak usah lah Rif, gue tinggal di apartemen aja, lo tinggal cariin apartemen buat gue" tolak Ara.


"Pokoknya gue gak nerima penolakan. Kalo misalnya lo tinggal di apartemen sendirian, gue bakal marah beneran sama lo" ucap Rifki memberikan ancaman di akhir kalimat.

__ADS_1


"Emang nya kenapa sih kalo gue tinggal di apartemen cuman sendiri?" Heran Ara.


"Ya gue khawatir lah sama lo. Giman pun lo itu cewek, gak baik kalo lo tinggal di apartemen sendiri, kecuali kalo lo tinggal di rumah, baru gue gak terlalu khawatir" jawab Rifki.


"Ya udah deh terserah lo" pasrah Ara.


Setelah berdebat soal tempat tinggal, Ara akhir nya setuju untuk tinggal bersama keluarga Anggara.


Mereka terus mengobrol sampai tidak ingat waktu, saat Rifki tak sengaja melirik ke arah jam ia di buat terkejut karena ternyata jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.


"Eh udah mau tengah malem, tidur yuk" ajak nya.


"Lah udah mau tengah malem aja, gak kerasa ya. Ya udah ayok tidur, tante Sarah juga pasti udah tidur" jawab Ara.


"Tapi gue tidurnya di mana?" tanya nya.


"Lo tidur di kamar tamu aja, ntar kalo kamar di sebelah gue udah di beresin lo pindah ke sana" jawab Rifki memberi tahu.


"Masih inget kan kamar tamu nya di mana?" Tanya Rifki memastikan.


"Masih inget lah, kecuali kalo kamar tamu nya di pindahin baru gue gak tau" jawab Ara.


"Ya udah sono tidur, udah malem" usir Rifki.


"Iya iya, bay gue mau bobo cantik dulu" ujar Ara sambil mengedipkan sebelah mata nya.


"Dih.. dari dulu genit nya gak pernah ilang" gerutu Rifki.


Ara yang mendengar gerutu-an Rifki hanya tersenyum lebar memperlihatkan gigi yang berbaris dengan rapi.


Kemudian Ara langsung pergi menuju kamar tamu yang akan di gunakan oleh nya dan segera membaringkan tubuhnya di atas kasur king size yang nyaman.


Sedangkan Rifki, ia belum beranjak dari duduknya sebelum Ara masuk ke dalam kamar tamu yang kebetulan bisa terlihat dari ruang tamu tempat Rifki duduk.

__ADS_1


Setelah memastikan Ara sudah masuk, ia pun beranjak pergi menuju kamarnya di lantai atas. Sama halnya dengan Ara, ia juga segera merebahkan diri di atas kasur dan menyelam ke alam mimpi.


-•°•°•°•°•°•°•-


__ADS_2