
"oh gue tau, pasti Alvina kan yang udah bilang sama lo dan memutar balikan fakta? Gue sahabat lo loh Ki, masa lo lebih percaya sama omongan Alvina yang jelas-jelas adalah kebohongan" ujar Ara.
"Alvina gak memutar balikkan fakta, tapi lo yang memutar balikan fakta. Gue di sini gak cuman ngomong doang, tapi gue juga punya bukti. Gue masih berbaik hati buat gak ngelaporin lo ke-pihak yang berwajib. Tapi kalo lo masih gak mau jujur sama gue, gue bakalan berubah pikiran" tegas Rifki sambil menghempaskan tangan Ara dengan kasar hingga tubuh Ara hampir jatuh di buatnya.
Sarah yang sedang berada di dapur segera menghampiri mereka saat mendengar suara keributan.
"Ada apa ini?" Tanya Sarah menatap keduanya secara bergantian.
Rifki dan Ara menoleh kearah Sarah yang sedang menatap mereka dengan bingung.
"Gak ada kok tan, kita cuman main-main aja tadi" ucap Ara sambil tersenyum.
Rifki seketika menoleh kearah Ara saat mendengar jawaban Ara.
"Lo bilang main-main, lo pikir ucapan gue cuman main-main aja gitu? Lo salah, gue serius sama ucapan gue" tekan Rifki.
"Ini ada apa sih Ki, mama pusing denger nya. Kalo ada masalah kan bisa di bicarain baik-baik" ucap Sarah.
Tanpa berkata Rifki segera mengambil ponselnya yang telah pecah itu dan menunjukan video yang menunjukkan kejadian saat Ara mendorong Alvina ke jurang.
Karena penasaran, Ara segera mendekat dan melihat isi video tersebut.
Sedangkan Rifki, setelah memberikan ponselnya pada sang mama, ia pergi ke kamar Ara untuk memasukkan baju dan barang-barang milik Ara ke dalam koper.
Sedangkan di ruang tengah, Sarah tampak menatap Ara dengan tatapan tak percaya.
"Ini beneran Ra? Kenapa kamu tega banget sama Alvina? Padahal tante liat Alvina itu baik loh" ujar Sarah dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tak percaya bahwa anak dari sahabatnya itu bisa melakukan hal senekat ini.
"Gak tante.. Ara gak ngelakuin itu, itu pasti cuma video setingan aja. Iya.. Ara yakin itu cuman setingan" jawab Ara dengan mata yang ikut berkaca-kaca karena takut tindakan nya akan berimbas pada diri nya sendiri.
Saat Sarah baru saja akan membuka suara nya, Rifki datang dengan membawa dua koper milik Ara.
"Barang-barang lo udah gue masukin semua, sekarang lo keluar dari rumah ini dan jangan pernah nginjakin kaki lo lagi di rumah ini" ucap Rifki sambil menyodorkan kedua koper milik Ara pada sang pemilik nya.
Buliran bening yang sedari di tahan oleh kedua wanita yang ada di raung tengah tersebut akhirnya jatuh juga membasahi pipinya.
__ADS_1
"Gak, Ki gue mohon lo jangan usir gue, gue ngaku gue salah tapi pliis.. ijinin gue buat tinggal di sini. Gue gak punya tempat tinggal di negara ini Ki, dan orang yang gue kenal juga cuman keluarga lo doang" ujar Ara memohon dengan air mata yang tak berhenti keluar.
Sarah yang tak tega melihat Ara memohon seperti itu akhirnya memutuskan untuk ikut membujuk Rifki supaya membiarkan Ara tinggal di rumah keluarga Anggara.
"Rifki.. biarin aja Ara tinggal di sini ya, Ara kan gak punya siapa siapa lagi selain kita" ucap Sarah.
"Mama lupa ya kalo dia itu masih punya ibu? Bukan cuma kita yang dia punya Ma, dia juga punya ibu" jawab Rifki.
"Iya mama tau, tapi kan Alvina juga pasti gak kenapa-napa, palingan juga cuma luka kecil kaya Ara" ujar Sarah.
"Kata siapa ma? Alvina sekarang masih belum sembuh. Bekas operasi nya kebuka lagi gara-gara dia. Padahal Alvina udah ngumpulin uang buat operasi nya sendiri, tapi sekarang, pas Alvina udah selesai operasi dan hampir sembuh, dia datang dan malah bikin keadaan Alvina memburuk. Bahkan saat Alvina di bawa ke rumah sakit, dia dalam keadaan kritis ma. Alvina udah gak punya siapa-siapa lagi, bahkan belum tentu Alvina punya uang buat bayar biaya pengobatan nya sendiri karena tabungan nya udah kepake buat dia operasi" jelas Rifki sambil sesekali menunjuk Ara.
Ara yang mendengar itu seketika menundukkan kepalanya dengan air mata yang masih terus mengalir deras.
Sarah juga tampak terkejut mendengar penjelasan dari Rifki tentang keadaan seorang gadis yang telah ia anggap sebagai anaknya sendiri.
"Apa? Alvina kritis? Sekarang Alvina di mana? Mama mau ketemu sama dia" ujar Sarah.
"Sekarang Alvina udah di rumahnya" jawab Rifki.
Rifki mengangguk, ia hendak ikut melangkah mengikuti Sarah yang sudah terlebih dahulu pergi menuju garasi, namun langkah nya terhenti di depan Ara yang masih tak bergeming.
"Lo gak tuli kan? Tadi lo denger kan kalo gue bilang PERGI DARI SINI!" ujar Rifki dengan nada membentak di akhir kalimat.
Ara terkesiap, ia memandang wajah Rifki dengan memelas.
"Ini juga bukan kesalahan gue Ki. Gue ngelakuin ini karena gue sayang sama lo, gue cinta sama lo, gue gak mau lo pacaran sama cewek lain. Gue mau, gue yang jadi pacar lo bukan Alvina" ujar Ara memberanikan diri untuk jujur tentang perasaan nya.
"Lo bukan sayang sama gue apalagi Cinta, lo cuma terobsesi sama gue!" Tegas Rifki.
"Dengerin gue baik-baik, kita itu cuma sahabat, harusnya di antara kita itu gak ada yang namanya rasa sayang apalagi cinta. Di antara kita cuma ada rasa sayang sebagai sahabat, gak lebih!" Jelas Rifki.
Air mata Ara semakin deras saat mendengar sederet kalimat yang meluncur dari mulut Rifki.
"Apa gak ada kesempatan buat gue?" Tanya Ara.
__ADS_1
"Gak ada, kecuali kesempatan buat temenan kaya dulu lagi" jawab Rifki.
Tanpa menunggu Ara untuk membalas ucapan nya, Rifki segera pergi meninggalkan Ara untuk mengantar Sarah ke rumah Alvina.
Sedangkan Ara, kini ia terduduk sambil menangis tersedu-sedu.
Ia tak sanggup untuk menahan air matanya agar tidak terjatuh membasahi pipinya. Ia hanya bisa menahan suara isak tangis nya dengan cara menutup mulut nya dengan telapak tangan nya sendiri.
Tak ada yang menenangkan nya, tak ada yang menemani dan mendengar kan keluh kesah nya.
Ia hanya bisa menyesali apa yang terjadi, harusnya ia tidak berbuat sesuatu yang nekat. Karena keteledoran nya sendiri, kini ia malah di jauhi oleh orang yang selama ini mengisi tempat di hati nya.
Setelah puas menangis, ia memutuskan untuk bangkit dan pergi meninggalkan rumah itu dengan berat hati.
Benar kata ibunya, perempuan itu harus nya di kejar, bukan mengejar. Mengejar seseorang yang tidak memiliki rasa apapun padanya hanya akan menjatuhkan harga diri nya sendiri.
Kini ia sadar, perasaan yang di milikinya bukanlah sebuah perasaan Cinta, namun obsesi.
Ia memilih untuk kembali ke negaranya sendiri, kembali pada ibunya. Memulai menata kembali hatinya yang kini telah pecah berserakan.
Mungkin perjuangan nya untuk mendapatkan Rifki cukup sampai di sini. Ia tak mau lagi mengejar apa yang telah menjadi milik orang lain.
Sesampainya di bandara, ia langsung memesan tiket dan pergi meninggalkan negara yang penuh akan kenangan.
Perjalanan nya kini di penuhi oleh air mata yang terus menetes. Ia hanya bisa memandang ke bawah melihat daratan yang luas dari jendela pesawat.
.
.
.
.
Dukung terus karya aku dengan cara like, komen, and Vote. Kalo suka sama ceritanya tolong sumbangkan poin dengan berbentuk hadiah ya🙃😊
__ADS_1