
Citra menangis tersedu-sedu saat selesai membaca surat dari Alvina.
Ia senang sahabatnya bisa merasakan rasanya punya keluarga, namun ia juga sedih karena tak sempat bertemu dengan sahabat nya terlebih dahulu sebelum Alvina pergi.
Karena ia telah lelah menangis, akhirnya Citra memutuskan untuk pulang ke rumah nya dengan membawa motor milik Alvina.
Mulai sekarang ia akan menggunakan moge milik Alvina selama Alvina belum kembali menemuinya.
-•°•°•°•°•°•°•-
Tak terasa, hari sudah berganti, kini Alvina sudah dua hari berada di Amerika.
Ia memutuskan untuk mengganti nomor telepon nya selama tinggal di sana, di karenakan Rifki sering kali menelponnya dengan nomor yang berbeda-beda.
Bahkan ia juga tidak memberi tahu Citra bahwa ia sudah ganti nomor. Mungkin sahabat nya itu akan marah saat ia kembali ke Indonesia nanti.
Alvina dan Arsha kini tengah sarapan bersama. Hubungan mereka bahkan sudah lebih dari kata dekat.
"Hari ini kamu mulai sekolah ya" ucap Arsha di tengah acara sarapan.
"Cepet amat Bang, Vina kan masih mau rebahan di kasur" protes Alvina. Ya, satu hari yang lalu Arsha meminta Alvina untuk memanggil nya dengan sebutan Abang.
"Kemaren aja pas mau berangkat, kamu bingung soal sekolah. Sekarang pas di suruh sekolah malah protes" sindir Arsha.
Alvina hanya tersenyum lebar saat mendengar nya.
"Ntar pake baju apa?" Tanya Alvina.
"Seragam. Udah Abang siapin, nanti minta aja sama bibi. Nanti berangkat nya di anter sopir ya" jawab Arsha memberi tahu.
Alvina hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah menyelesaikan sarapannya.
Arsha juga sudah berangkat kuliah. Kini Arsha memang masih kuliah, tapi ia sudah menjadi Presdir dari perusahaan keluarga Najendra.
Arsha sendiri termasuk dalam kategori anak jenius. Tak heran jika ia bisa menjadi Presdir di saat ia masih menduduki bangku kuliah.
"Bibi.. seragam yang udah di siapin bang Arsha di mana?" Tanya Alvina pada kepala pelayan.
__ADS_1
Kepala pelayan langsung memberikan seragam yang sudah ia setrika kepada Alvina.
Usai menggunakan seragam lengkap, Alvina segera berangkat ke sekolah dengan di antar oleh sopir.
.
.
Kembali ke Indonesia.
Rifki terlihat menunggu seseorang di parkiran sekolah yang di khususkan untuk roda dua.
'Brum..'
Ia tampak menoleh saat suara motor yang sangat ia hapal itu berhenti tak jauh dari tempat nya berdiri.
Ia segera menghampiri orang yang mengendarai motor sport tersebut.
"Citra.. gue mau ngomong sama lo" ucap Rifki pada orang tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Citra, sahabat pacar nya sendiri.
"Ngomong aja" jawab Citra singkat sembari melepaskan helm yang di gunakan nya.
"Gue gak tau Alvina kemana. Dan motor ini, dia sendiri yang minta gue buat jaga nih motor" jawab Citra datar.
Entahlah, sejak kejadian camping waktu itu, Citra menjadi tidak suka pada Rifki. Ia bahkan enggan untuk berbicara dengan nya.
Citra berjalan meninggalkan Rifki di parkiran. Namun saat langkah nya baru tiga langkah ia menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Rifki.
"Mulai sekarang lo jangan hubungin Alvina lagi. Dia udah gak mau berhubungan sama lo lagi" ucap Citra kemudian kembali berjalan meninggalkan Rifki.
Rifki tampak mengepalkan tangannya sambil menunduk.
Ia sudah lebih dari dua puluh kali menelpon Alvina dengan nomor yang berbeda-beda. Namun, saat ia kembali mencoba kembali menelpon, nomor Alvina tidak aktif hingga kini.
Sekarang ia menyesal karena sudah membiarkan orang ketiga di antara hubungan nya dengan Alvina hadir setelah mereka menjalani hubungan lebih dari tujuh bulan.
Ia segera berjalan menuju loteng sekolah. Di sana ia hanya melamun menatap langit yang cerah, tidak secerah hati nya sekarang.
Perlahan ingatannya kembali pada saat di mana ia dan Alvina menghabiskan waktu bersama sebelum kedatangan Ara.
__ADS_1
Bercanda bersama, tertawa bersama, bahkan tak jarang saling cemburu satu sama lain.
Tanpa terasa tetesan air hangat mengalir begitu saja membasahi pipinya.
Ia merasa bahwa hidupnya terasa sepi jika tidak ada Alvina di sisinya.
Sekarang tidak ada lagi yang selalu di buat kesal oleh nya, tidak ada lagi yang bisa membuat ia tersenyum-senyum sendiri.
Semuanya tinggal kenangan, ia hanya bisa mengenang masa kebersamaan nya dan Alvina.
Mungkin Alvina memilih pergi darinya karena terlalu sakit hati melihat ia selalu membela orang ketiga dalam hubungan mereka.
Ini semua salahnya, Alvina tidak salah memilih pergi dari nya. Justru itu keputusan yang tepat, karena dengan Alvina pergi darinya, ia tidak akan merasakan sakit hati lagi karena ulahnya.
Di antara mereka memang tidak ada kata putus, namun keadaan membuat hubungan mereka berhenti sampai di sini.
-•°•°•°•°•°•°•-
Pondasi sebuah hubungan adalah kepercayaan. Jika sepasang anak manusia memiliki hubungan tanpa di dasari dengan kepercayaan, maka percayalah.. hubungan tersebut akan berakhir di tengah jalan.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih yang udah ngikutin cerita Alvina dan Rifki hingga sampai di titik akhir.
Untuk season dua nya, author bakal update setelah author dapat ide ya. Mungkin author bakal membutuhkan waktu selama satu atau dua Minggu. Jadi tunggu season duanya di sini ya.
Untuk kepastian season dua, author bakal umumin di sini ya. Author bakal nanya-nanya dulu sama sesama penulis baiknya gimana.
Sekali lagi terima kasih banyak atas dukungannya selama ini 🙏🙏
__ADS_1