
'Tok Tok Tok'
Di saat Alvina sibuk mencari tas nya yang entah berada di mana, ternyata di depan sudah ada tamu yang sedari tadi terus mengetuk pintu berulang kali.
"Itu juga siapa sih, pagi-pagi udah namu, gak tau apa orang lagi sibuk" gerutu Alvina.
Walaupun di sertai dengan gerutuan, Alvina tetap menghampiri pintu yang masih tertutup rapat.
"Iya bentar!" teriak Alvina saat tamu nya terus saja mengetuk pintu.
'Ceklek'
"Lo?, ngapain pagi-pagi udah ada di rumah gue?" teriak kesal Alvina.
"Kan mau jemput pacar" jawab Rifki.
"Kenapa belom siap-siap?, padahal ini udah lumayan siang loh. Apalagi dari sini nyampe sekolah itu jauh" tanya Rifki.
"Kesiangan" jawab Alvina.
"Bantuin gue cari tas dong" pinta Alvina.
"Lah emang tas nya kemana?"
"Ya makanya gue minta tolong buat bantu cariin tuh tas, kalo tas nya ada gue gak bakal minta tolong tol*ol" kesal Alvina.
"Mulut nya pedes banget sih mbak" ujar Rifki meringis.
"Bodo amat, ayo cepetan"
"Iya iya bentar buka sepatu dulu"
"Buruan!"
Setelah selesai membuka sepatu nya, Rifki segera berlari menuju kamar Alvina sebelum sang nyonya kembali berteriak.
Rifki tampak mengitari seluruh penjuru kamar Alvina untuk mencari tas nya.
"Gue haus, mau ngambil minum dulu" ujar Rifki.
Saat ia keluar menuju dapur, Rifki melihat ada sebuah gundukan kain hitam yang mirip seperti tas Alvina.
Ia pun menghampiri gundukan tersebut dan mengangkat nya.
Dan benar saja, gundukan tersebut adalah tas Alvina yang semalam di lempar oleh pemilik nya sendiri.
"Ini nih yang bikin gue capek bolak-balik ngelilingin kamar nya si Alvina" ujar Rifki sembari menunjuk-nunjuk tas ransel berwarna hitam milik sang pacar.
"ALVINA!!" teriak Rifki.
"Paan sih teriak-teriak, gak teriak juga gue denger kok. Gue gak budeg" kesal Alvina.
"Noh tas lo" ucap Rifki melempar tas yang di pegang nya ke wajah Alvina.
__ADS_1
Dan tepat sasaran, tas tersebut mendarat di atas wajah tanpa make-up milik Alvina.
"Lo kalo nge-lempar yang bener, jangan kena muka gue. Gak tau sakit apa" kesal Alvina.
"Gue juga sakit" ujar Rifki.
"Sakit apa?" tanya Alvina.
"Sakit ati, karena terus di bentak-bentak sama ayang hiks..." jawab Rifki pura-pura nangis.
"Dih gitu aja ngeluh. Dasar mental cicak" gerutu Alvina.
"Udah deh, kita berangkat. Tar telat beneran lagi" lanjut nya.
"Ya udah ayok" ajak Rifki.
"Naek motor masing-masing ya" ujar Alvina.
"Apaan, gak gak gak, gue udah jauh-jauh jemput lo ke sini nalah minta naik motor masing-masing" protes Rifki tak terima.
"Siapa suruh lo jemput gue?" tanya Alvina.
"Gak ada" Jawab Rifki.
"Nah itu lo tau" ucap Alvina.
Rifki yang mendengar ucapan Alvina itu menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
"Pokok nya kita se-motor" putus Rifki.
"Terserah kalo mau telat" ujar Alvina.
"Ayo dong Na... Plisss" ucap Rifki memelas.
"Ya udah ayok, dari pada telat" pasrah Alvina.
"Nah gitu dong dari tadi" ucap Rifki melebarkan senyuman nya.
-•°•°•°•°•°•°•-
Triiiing...
Bel masuk sekolah telah terdengar sampai ke gerbang yang menjulang tinggi.
Kalau telat beberapa menit saja, sudah di pastikan Alvina dan Rifki tidak akan dapat masuk ke dalam sekolah.
Dan sekarang, walaupun mereka bisa melewati gerbang walau bersamaan dengan bel yang berbunyi, mereka tetap menerima hukuman dari guru yang mengajar di kelas.
Mereka mendapat kan hukuman berdiri di depan tiang bendera dengan di temani oleh panas matahari yang langsung menyorot ke arah mereka.
"Gue juga bilang apa?, gak usah debat gara-gara motor. Jadi nya kan kek gini kan" kesal Alvina.
"Kapan lo ngomong kayak gitu?" tanya Rifki.
__ADS_1
"Pikir aja sendiri" ucap Alvina jutek.
"Beneran PMS kayak nya ni anak" gumam Rifki.
Setelah perbincangan singkat itu, keheningan kembali menyapa mereka.
Hingga saat Rifki melirik Alvina yang tampak memijit pelipisnya sendiri sembari memejamkan kedua mata nya.
"Na, lo kenapa? muka lo pucet banget" cemas Rifki.
"Gak papa, cuman pusing dikit" jawab Alvina.
"Mending ke UKS yuk" ajak Rifki.
"Gue gak papa kok, lo gak usah khawatir" ujar Alvina.
"Tapi lo tetep harus istirahat Na, muka lo pucat banget, tambah jelek tau" ucap Rifki khawatir.
"Terus kalo muka gue jelek kenapa?" tanya Alvina.
"Ya enggak papa sih" jawab Rifki.
"Udah sono istirahat" titah Rifki.
"Gak mau ah, ntar kalo ada guru tadi di kira menghindar dari hukuman lagi" tolak Alvina.
"Tenang aja, kalo misal nya guru tadi nanya-in lo, gue jawab lo gak enak badan" lanjut nya menenangkan.
Karena Alvina merasa kepala nya semakin pusing dan berat, akhirnya ia memutus kan untuk menuruti perintah dari Rifki.
"Ya udah deh iya, gue ke UKS, kalo ada yang nyari bilang aja di Uks ya" pasrah Alvina.
"Mau gue anter?" tawar Rifki.
"Gak usah, gue masih bisa jalan sendiri' tolak Alvina.
"Ya udah nungguin apa lagi?, sana" ujar Rifki terkesan mengusir.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Alvina berjalan dengan pelan sambil menunduk menghindari panas nya sinar matahari yang membuat kepala nya semakin pusing.
Namun langkah nya terhenti ketika Rifki kembali memanggil nama nya.
" Alvina... tunggu bentar" teriak Rifki menghampiri Alvina sambil membuka sweater yang di pakai nya.
"Paan lagi sih Ki, tadi nyuruh gue pergi sekarang malah nahan-nahan" kesal Alvina.
Rifki segera berdiri di belakang tubuh Alvina kemudian mengikat kan lengan sweater tadi di pinggang Alvina.
Alvina yang mendapat perlakuan seperti itu dari Rifki hanya bisa mematung di tempatnya berdiri.
"Rok kotor, takut nya ada yang liat di kira nya ngompol lagi" jelas Rifki.
Alvina tampak mengangguk sambil memijit pelipis nya yang semakin terasa berat. Dan akhirnya...
__ADS_1
Bugh..
"ALVINA!!"