Cewek Dingin & Cowok Playboy

Cewek Dingin & Cowok Playboy
Satu Sekolah


__ADS_3

"Emang nya kenapa sama Ara?" tanya Rifki lagi sambil melirik Ara yang menunduk kan kepala nya.


"Sebenernya Ara mau tinggal di sini sama kita.." ucap Sarah memberi tahu..


"Ya bagus dong kalo gitu, jadinya Rifki ada temen main kalo lagi di rumah" ujar Rifki senang.


Reno dan Sarah saling pandang mendengar ucapan Rifki, sebenarnya sih bukan masalah Ara yang ingin tinggal di rumah keluarga Anggara yang ingin mereka bicarakan, tapi ya sudahlah.. kalian simak aja pembicaraan mereka. 😁


"Emangnya kamu gak penasaran gitu sama alasan kenapa Ara bakal tinggal di sini?" Tanya Reno agak heran melihat Rifki yang tidak menanyakan alasan Ara tinggal di Indonesia lagi.


"Penasaran sih, tadi juga niat nya mau nanya itu, tapi yang keluar dari mulut malah beda" jawab Rifki sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Semua orang yang ada di sana hanya menggelengkan kepalanya saat mendengar jawaban Rifki yang terdengar sangat konyol itu.


"Emangnya kenapa?" Tanya Rifki tiba-tiba saat hening mulai menyelimuti suasana di ruang keluarga.


"Apa nya yang kenapa?" Sarah menjawab pertanyaan Rifki dengan sebuah pertanyaan pula.


"Itu tadi, alasan Ara pengen tinggal di sini" jawab Rifki melirik ke arah Ara yang kini juga tengah menatap ke arah nya.


"Tanya aja sama orang nya langsung, kan deket itu" suruh Reno pada Rifki.


Rifki seketika mengalihkan pandangan nya ke arah Ara yang sedang menatap Reno dengan tatapan bingung.


"Kenapa lo mau tinggal di sini?, padahal kan kemaren pas gue bujuk lo biar tinggal di Indonesia lagi lo enggak mau" tanya Rifki.


"Ya.. karena gue pengen ngelupain kejadian pas bokap gue pergi ninggalin gue. Lo kan tau sendiri bokap gue meninggal gara-gara rekan bisnis nya sendiri nabrak bokap gue di depan mata kepala gue sendiri. Gue gak mau, kalo misalnya gue tetep di sana, gue bakal keinget terus sama kejadian itu" jelas Ara dengan menundukkan wajahnya tak mau menatap mata Rifki.


Rifki yang mendengar penjelasan dari Ara pun menjadi ikut merasa sedih, karena bagaimana pun, ia sudah mengenal papanya Ara dengan sangat baik.

__ADS_1


"Ya udah, Ara tinggal sama kita aja" ujar Rifki memberi saran.


"Tadinya juga Ara mau tinggal di sini sama kita, tapi masalah nya.. dia gak mau satu sekolah sama kamu Rifki" ujar Reno.


Rifki seketika menoleh ke arah Ara yang menundukkan wajahnya.


"Beneran gak mau satu sekolah sama gue? Kenapa emang?" Rifki melontarkan pertanyaan kepada Ara sambil menatap nya dengan bingung.


"Katanya sih, temen kamu ada yang gak suka sama Ara, makanya dia gak mau satu sekolah sama kamu" bukan Ara yang menjawab, melainkan Sarah.


"Siapa sih yang gak suka sama lo Ra, bilang aja sama gue, biar gue beri perhitungan sama tuh anak" kesal Rifki.


Ara hanya diam saat Rifki bertanya kepada nya, karena sesungguhnya itu hanya akal-akalan dia, supaya ia bisa memulai sandiwara nya dengan baik dan lancar tanpa hambatan.


"Tadi juga mama udah nanya sama dia, siapa yang gak suka sama dia, tapi dianya gak nge-jawab" sela Sarah.


"Iya bener. Rifki juga jadi bisa mantau kegiatan apa aja yang kamu lakuin, apalagi kalian kan satu kelas, jadi lebih gampang mantau nya" ucap Sarah menambahkan.


Rifki hanya mengangguk sebagai tanda bahwa ia juga setuju dengan saran kedua orang tua nya barusan.


Ara tampak melirik ke arah mereka secara bergantian, tapi saat ia menatap ke arah Rifki, tatapan nya seketika berubah menjadi lebih bersemangat.


"Ya udah deh kalo gitu, Ara mau kok satu sekolah sama Rifki, tapi kalo Ara di ganggu sama orang terus Ara ngadu sama Rifki, bakal ada yang marah gak?" Ara memberi keputusan sekaligus pertanyaan yang di lontarkan nya pada Rifki.


"Siapa sih yang bakal marah kalo lo ngadu sama gue?" Rifki seolah lupa pada Alvina yang notabenenya adalah kekasih nya sendiri yang pasti akan merasa kesal saat ada perempuan lain yang mengadukan sesuatu pada nya.


"Pacar lo" jawab Ara.


Rifki diam seperti memikirkan sesuatu saat Ara mengatakan kata 'Pacar'.

__ADS_1


"Lo tenang aja, Alvina itu orang nya gak gampang marah kok, apalagi karena hal sepele" ucap Rifki setelah beberapa saat sempat terdiam.


"Serius?" Tanya Ara.


Rifki hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Ya udah kalo gitu, gue mau satu sekolah sama lo" ujar Ara semangat.


"Tapi entar daftar nya gimana?" Tanya Ara bingung.


"Kalo masalah daftar, serahin aja sama Om, biar om yang urus. Kamu terima beres aja" sela Reno.


Setelah berbincang-bincang sebentar, akhirnya semua orang masuk ke dalam kamar nya masing-masing untuk istirahat.


-•°•°•°•°•°•°•-


Hari telah berganti, tak terasa kini sudah waktunya libur semester usai.


Seperti perbincangan beberapa hari yang lalu, Ara sekolah bersama dengan Rifki. Alvina juga tidak mempermasalahkan hal tersebut selama Ara tidak berbuat macam-macam dan bersikap berlebihan.


Dan kini Alvina, Citra, Rifki, Angga, Riko, dan juga Boy sedang berada di kantin dan sedang menikmati makanan yang di pesan mereka. Sedangkan Ara, tadi ia ijin pamit ke kamar mandi dan tidak mau di antar katanya.


Setelah Alvina selesai dengan makanan nya, ia segera berdiri hendak kembali ke kelas, namun niatnya ia urungkan saat ia melihat Ara berlari ke meja yang di duduki mereka dengan mata yang tampak berkaca-kaca.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Ara langsung menghampiri Rifki yang sedang menikmati bakso miliknya dan langsung memeluk Rifki sambil menangis.


Rifki yang mendapat serangan tiba-tiba dari Ara dengan spontan membalas pelukan Ara.


"Loh loh loh, ini kenapa?" Tanya Rifki khawatir.

__ADS_1


__ADS_2