Cewek Dingin & Cowok Playboy

Cewek Dingin & Cowok Playboy
Jalan


__ADS_3

-•°•°•°•°•°•°•-


Tak terasa, waktu begitu cepat berlalu, jarum jam terus berputar, hari berganti hari, detik demi detik, menit demi menit telah mereka lalui bersama.


Menciptakan kenangan indah yang takkan pernah terlupakan.


Seiring berjalannya waktu dan di dukung oleh faktor sering bersama menghabiskan hari. Kini Alvina sudah mulai terbiasa dengan hadirnya Rifki dan segala tingkah konyol nya.


Pagi hari telah menyapa, mentari telah sempurna menampakkan diri nya.


Sinar nya menerobos masuk melalu sela-sela jendela yang masih tertutup gorden membuat Alvina menggeliat mengerjapkan mata nya.


Setelah beberapa saat, mata Alvina yang tadi nya tertutup rapat kini terbuka lebar.


Di lirik nya jam yang menggantung di dinding kamar sudah menunjukkan pukul delapan lebih.


"Untung hari minggu, kalo enggak udah pasti gak bisa masuk sekolah ini" ujar nya kepada diri sendiri.


Ia segera turun dari ranjang nya dan berjalan menuju ke kamar mandi dan membersihkan diri nya.


Setelah sepuluh menit lamanya, Alvina tampak keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di tubuh nya.


"Seger..." ucap nya dengan mengibaskan rambut nya yang basah karena keramas.


Tak mau berlama-lama tidak memakai pakaian, Alvina segera mengambil baju dari dalam lemari dan memakai nya.


Setelah selesai dengan urusan pakaian, Alvina berjalan menuju cermin besar dan bersiap untuk menyisir rambut nya.


Namun sebelum itu terjadi, ada yang mengetuk pintu dengan tidak sabaran.


'Tok... Tok... Tok'


"Woy buka pintu nya dong" teriak seseorang yang mengetuk pintu Alvina.


Mendengar suara yang berteriak meminta untuk membukakan pintu, Alvina langsung dapat mengenali sang pemilik suara tersebut.


"Ck si Rifki emang bener bener ya. Bukan nya ngucapin salam malah teriak-teriak gak jelas" gerutu Alvina


Dengan perasaan dongkol, Alvina segera menghampiri pintu yang terus di ketuk dari liar dengan cukup keras.


'Ceklek'


"Mau ngapain sih pagi-pagi udah ada di rumah gue, gak ada kerjaan lain apa selain main ke rumah gue?" sembur Alvina saat ia membuka pintu.


"Buset dah, ada pacar main bukan nya di sambut sama pelukan malah sama omelan. Lagian ini juga bukan pagi tapi pagi menjelang siang, udah jam delapan juga ini" ujar Rifki.

__ADS_1


"Gue punya sesuatu buat pacar aku" lanjut nya sembari tersenyum manis ke arah Alvina yang masih berdiri di depan pintu.


"Paan?" tanya Alvina.


"Tadaaa" ucap Rifki menyodorkan sebuah buket bunga yang sedari tadi ia sembunyikan di balik tubuhnya.


"Kecil amat sih" protes Alvina.


"Gak tau terima kasih banget sih, ini tuh hadiah buat lo"


"Perasaan gue gak ulang tahun deh, gak ikutan giveaway juga" heran Alvina.


"Ck ini tuh buat memperingati hari jadi kita yang ke dua Minggu"


"Alay, baru juga dua minggu udah pake hadiah-hadiah segala, gimana kalo udah satu tahun, hadiahnya musti monsion ini mah" gerutu Alvina.


Walau pun mulut nya sibuk meng-gerutu, tapi tak urung tangan nya mengambil buket bunga yang ada di tangan Rifki.


"kalo hadiahnya monsion mah bangkrut orang tua gue" balas Rifki.


"Gak papa bangkrut juga kan orang tua lo bukan orang tua gue"


"Orang tua gue juga kan bakal jadi orang tua lo"


"Jalan yuk, sekalian makan" ajak Rifki mengalihkan pembicaraan.


"Terserah kamu aja"


"Gimana kalo keliling sambil nyari makanan"


"Boleh juga, ntar kita nyoba semua makanan yang kita liat"


"Ide bagus"


"Ya udah ayok kita berangkat sekarang, mumpung belom panas"


"Bentar gue belom ngeringin rambut"


"Oh oke gue tunggu di sini aja"


"Ya iyalah, kalo mau nunggu di dalem juga gak bakal gue ijin-in"


Alvina segera masuk kembali ke dalam rumah nya dengan sebuah buket yang ada di tangan nya.


Setelah meletakkan buket di atas nakas, ia segera mengeringkan rambut nya yang masih basah.

__ADS_1


Enam menit kemudian, Alvina sudah selesai dengan urusan rambut nya. Ia sudah siap untuk segera berangkat mencari makanan dengan sang kekasih.


"Yuk berangkat, gue udah laper" ujar Alvina ketika ia sudah menutup pintu nya.


"Wihh pacar gue udah cantik, ya udah yo let's go" jawab Rifki semangat.


"Oh berarti tadi gue jelek dong" kesal Alvina.


"Bukan gitu by, tadi cantik kok tapi sekarang lebih cantik. Gitu maksudnya" ucap Rifki sambil menghampiri motor nya dan segera naik ke atas motor.


"Ya dah lah gue udah laper nih"


"Nih pake dulu helm nya" ujar Rifki menyodorkan sebuah helm yang sengaja ia bawa dari rumah.


"Atau mau gue yang pake-in?" Lanjut nya.


"Gak usah gue bisa sendiri" jawab Alvina mengambil alih helm yang ada di tangan Rifki.


Setelah selesai memakai helm, Alvina segera naik ke atas motor sport milik Rifki.


"Peluk dong" pinta Rifki.


"Ogah" tolak Alvina.


Rifki hanya menggelengkan kepalanya saat mendengar penolakan dari Alvina. Ia tersenyum di balik helm full face nya dengan rencana yang ada di pikiran nya.


Rifki mulai melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, saat melewati jalan yang tampak agak sepi, Rifki mengerem motor nya secara mendadak dan langsung melajukan nya kembali.


Alvina yang kaget pun secara refleks memeluk pinggang Rifki dengan erat.


Saat sudah tersadar bahwa Rifki sengaja mengerjainya Alvina menarik tangan nya dari pinggang Rifki dengan perasaan dongkol.


Namun sebelum ia berhasil menarik tangannya, tangan Rifki sudah lebih dulu menahan tangan Alvina sambil berucap.


"Gak usah di lepas by, kayak gini aja udah biar lo gak jatoh" ucap Rifki.


Tanpa terasa sudut bibir Alvina tertarik ke atas dan membentuk sebuah senyuman manis yang tidak dapat di lihat oleh semua orang tak terkecuali Rifki.


"Ini kita mau ke mana dulu?" tanya Rifki memecah keheningan.


"Gue mau seblak dulu" jawab Alvina.


"Kita cari yang jualan seblaknya dulu"


"Tuh di depan ada"

__ADS_1


"Ouh iya, parkir di sini aja lah ya. Gak papa kan kalo jalan kaki ke depan?"


"Kayak gak pernah jalan kaki aja"


__ADS_2