
"Iya, kayanya temen kamu baru aja selesai operasi" jawab dokter.
"Ya udah kalo gitu bawa ke rumah sakit aja"ucap Angga.
Dokter tersebut mengangguk dan segera memberi tahu pembina untuk segera menyiapkan mobil.
Tak lama kemudian, Citra dan yang lain datang dengan nafas memburu.
"Alvina mana?" Tanya Citra saat melihat Angga berdiri di depan tenda dokter tanpa Alvina.
"Di dalem" jawab Angga.
Tak lama, ada seorang pembina laki-laki yang datang ke tenda dokter.
"Mana yang sakit, mobil nya udah siap. Kita bawa sekarang aja" ucap pembina.
"Iya pak": jawab Angga yang kemudian masuk ke dalam tenda untuk mengangkat tubuh Alvina dan memindahkan nya ke dalam mobil.
Saat Angga akan menutup pintu mobil, Citra datang menahan pintu tersebut.
"Gue ikut ya" pinta Citra.
Angga mengangguk sambil menggeser tubuh nya supaya Citra bisa masuk.
Mobil yang pergi ke rumah sakit jumlah nya ada tiga, satu mobil yang di gunakan untuk membawa Alvina, satu membawa Ara, dan satu lagi berisikan pembina, Riko dan Boy.
Sesampai nya di rumah sakit, Angga langsung mengangkat tubuh Alvina. Begitupun dengan Rifki mengangkat Ara yang memang belum sempat di tangani oleh dokter, dan hanya di obati oleh Rifki.
"Suster.. Suster.." panggil pembina dengan berteriak.
Suster yang mendengar nya segera menghampiri mereka dengan membawa dua brangkar.
Angga dan Rifki segera meletakan Ara dan Alvina di atas brangkat yang di bawa oleh suster.
"Mohon tunggu di luar" pinta suster pada semua orang.
Alvina dan Ara di masukkan ke dalam ruangan berbeda.
.
.
.
Satu jam lebih Angga, Citra, Boy dan Riko menunggu di depan pintu UGD di mana Alvina berada di dalam nya, namun masih tidak ada tanda-tanda pintu tersebut akan terbuka.
Sedangkan Ara sudah di pindahkan ke ruang rawat inap, dan di jaga oleh Rifki.
__ADS_1
"Ceklek" pintu yang di tunggu oleh Angga dan yang lain akhirnya terbuka juga dan menampilkan seorang pria dengan jas putih nya.
"Keluarga pasien?" Ucap pria tersebut sambil menatap semua orang yang ada di hadapan nya.
"Keluarga nya sedang tidak ada dokter, kita teman nya" jawab Citra pada pria tersebut yang ternyata adalah seorang dokter.
Dokter itu mengangguk kemudian kembali membuka suara, "Apakah sebelum kejadian ini pasien baru melakukan operasi?."
"Iya dok" jawab Citra.
Dokter tersebut menghela nafas terlebih dahulu sebelum menjelaskan kondisi Alvina sekarang.
"Jadi gini.. sebelum nya kan pasien melakukan operasi, dan sekarang akibat ada nya benturan yang keras pada bagian perut nya yang merupakan bekas jahitan operasi, mengakibatkan jahitan itu terbuka kembali dan mengeluarkan banyak darah sehingga pasien kekurangan darah.
Untung saja rumah sakit masih memiliki stok darah dengan golongan AB, sehingga pasien dapat ditangani dengan baik. Dan luka pada kepala nya juga cukup parah hingga mendapatkan dua jahitan.
Sekarang kondisi nya masih kritis, mungkin tiga atau empat jam lagi kondisi nya bisa membaik dan pasien bisa sadar secepat nya" jelas dokter tersebut.
"Hah.." Citra menghela nafas panjang sambil memijit pelipis nya.
"Untuk masalah biaya rumah sakit nya berapa dok?" Tanya Angga.
Citra seketika menoleh kearah Angga, ia hampir saja lupa dengan biaya yang harus di bayar di rumah sakit ini.
"Oh.. untuk biaya rumah sakit nya sudah di bayar oleh seorang pria yang tadi ikut mengantarkan pasien" jawab dokter tersebut.
Hingga akhirnya mereka menghentikan acara pikir-memikir tersebut saat sang dokter pamit undur diri.
Citra dan yang lain saling pandang saat dokter tersebut telah pergi.
"Ceklek" pintu kembali terbuka dan menampilkan brangkar yang di dorong oleh dua suster yang di atas nya ada Alvina yang terbaring tak sadarkan diri.
Citra dan yang lain segera mengikuti brangkar yang membawa Alvina ke sebuah ruang rawat inap VIP.
Mereka semua kembali di buat bingung karena Alvina di tempatkan di ruangan VIP.
Tidak mungkin kan pihak sekolah membiayai pengobatan Alvina dan memberikan ruangan VIP pada Alvina? Paling kalo pihak sekolah yang membiayai pengobatan Alvina, Alvina tidak akan di berikan ruangan VIP, tapi ruangan biasa.
Bahkan Ara pun di beri ruangan yang biasa-biasa saja, bukan ruangan VIP seperti ruangan Alvina saat ini.
"Kira-kira siapa ya yang bayarin pengobatan Alvina? Kalian tau gak?" Tanya Citra setelah suster yang mengantarkan mereka ke kamar Alvina.
"Mana gue tau" jawab Boy.
"Tadi kan dokter yang nanganin Alvina bilang kalo yang bayarin nya tuh cowok yang ikut ama kita-kita, berarti pihak sekolah dong yang bayarin. Gitu aja pake ribet" jawab Riko santai.
Angga melirik Riko dengan sinis kemudian berkata, "Kalo emang pihak sekolah yang bayarin, mana mungkin mereka ngasih ruangan VIP kek gini. Lo liat noh Ara di tempatin nya di ruangan biasa, itu baru murni sekolah yang bayarin."
__ADS_1
"Iya juga ya" gumam Riko sambil menggaruk-garuk kepala nya.
"Udah lah gak usah di pikirin, mungkin ini rezeki buat Alvina yang baru kena musibah" ucap Boy.
.
.
.
Sedangkan di ruangan lain, tepat nya di ruangan Ara. Kini Ara mulai membuka matanya perlahan untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke Indra penglihatan nya.
Rifki yang melihat Ara telah sadar dari pingsan nya segera menghampiri Ara dan menanyakan kondisi nya.
"Lo udah sadar? Ada bagian yang sakit gak?" Tanya Rifki khawatir.
Ara hanya menggeleng menjawab pertanyaan Rifki.
"Alvina mana?" Tanya Ara dengan suara lemah nya.
"Jangan dulu banyak nanya, gue panggilin dokter dulu" ucap Rifki.
Setelah Rifki kembali dengan membawa seorang dokter dan dokter tersebut sudah memeriksa kondisi Ara lalu kembali ke ruang kerjanya, Ara kembali menanyakan keberadaan Alvina pada Rifki.
"Alvina di ruangan yang lain" jawab Rifki.
"Sebenernya tadi tuh kenapa sampe jatuh bareng sih?" Tanya Rifki penasaran.
"Gak mau ah, nanti kalo gue ceritain lo malah marah lagi sama Alvina" ucap Ara.
Mendengar ucapan Ara, membuat Rifki semakin penasaran mengapa ia sampai marah pada Alvina yang notabene nya adalah pacar nya sendiri.
"Ayo dong.. gue penasaran nih" pinta Rifki.
"Hmm.. kalo gitu gimana kalo lo janji dulu sama gue, kalo lo gak bakalan marahin Alvina" ucap Ara sambil mengangkat jari kelingking nya.
"Janji" balas Rifki sambil menautkan jati kelingking nya dengan jari kelingking milik Ara.
"Jadi gini..
.
.
.
.
__ADS_1
Dukung terus karya aku dengan cara like, komen, and Vote. Kalo suka sama cerita nya tolong sumbangkan poin dengan berbentuk hadiah ya🙃😊